Xiaomi Menang 'Perang Smartphone' di Indonesia, Ungguli Infinix cs
Uzone.id - Xiaomi menjadi merek smartphone nomor satu di Indonesia, setidaknya berdasarkan lapotan terbaru dari firma riset Canalys untuk kuartal kedua (Q2) 2025. Xiaomi mempertahankan posisinya di puncak dalam dua kuartal berturut-turut dengan menguasai 21 persen pangsa pasar smartphone di Indonesia.
Keberhasilan Xiaomi ini didorong oleh penjualan seri Redmi yang laris manis di pasaran, serta strategi jangkauan pasar yang kian meluas.
Xiaomi ungguli grup Transsion, induk perusahaan Tecno, Infinix, dan Itel yang mengisi posisi kedua pada kuartal ini dengan pangsa pasar 20 persen. Canalys menyebut, Infinix cs secara agresif menyalip brand-brand lama seperti Samsung, Vivo, dan Oppo lewat jajaran ponsel kelas entry yang sangat terjangkau.
“Xiaomi dan Transsion memimpin di produk dengan harga lebih rendah yang dijual secara kompetitif, dan dorongan insentif perdagangan yang agresif,” ucap Senior Analyst Canalys, Sheng Win Chow, dikutip dari situs resminya.
Samsung harus puas berada di posisi ketiga dengan pangsa pasar 18 persen, diikuti oleh Oppo dengan 14 persen, dan Vivo di posisi lima besar dengan pangsa pasar 13 persen.
Pasar smartphone ASEAN turun 1 persen dari tahun lalu
Dalam skala lebih luas, pasar smartphone di Asia Tenggara (ASEAN) sedikit lesu dengan penurunan tipis 1 persen dari tahun sebelumnya. Kondisi ini dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti ketidakpastian ekonomi global, imbas dari ketegangan dagang Amerika Serikat (AS) dan China, hingga volatilitas mata uang membuat para vendor harus memutar otak.
“Ketegangan perdagangan AS-Tiongkok yang sedang berlangsung menciptakan dampak berantai yang signifikan, karena para vendor mengalihkan rantai pasokan dari Tiongkok untuk memprioritaskan pengiriman ke AS,” jelas Research Manager Canalys, Le Xuan Chiew.
Menurut Chiew, dalam situsasi seperti ini, fleksibilitas menjadi kunci. Merek harus mampu beradaptasi dengan cepat, baik dari segi produk maupun strategi penjualan.
“Dalam lingkungan ini, fleksibilitas dalam portofolio dan strategi kanal terbukti krusial,” tambahnya.
Dijelaskan Chiew, kinerja Xiaomi di Q2-2025 didorong oleh ekspansi kanal langsung ke konsumen dan operator, yang menciptakan fondasi yang kokoh untuk meningkatkan skala sub-mereknya, yakni Poco. Pengiriman Poco meningkat lebih dari dua kali lipat, sementara seri Xiaomi 15 tumbuh 54 persen secara year-on-year (YoY).
Di sisi lain, Samsung juga memperkuat diversifikasi kanal dan posisi premium dengan memperluas strategi enterprise-nya, sebuah keunggulan yang berakar pada reputasinya sebagai mitra tepercaya bagi perusahaan besar dan sektor pemerintahan.
“Hal ini mencerminkan fokus Samsung yang semakin besar pada integrasi vertikal dan keterlibatan B2B, yang membedakannya dari para pesaing sekaligus mendukung ASP yang lebih tinggi dan membuka pendapatan lintas perangkat di luar kanal ritel tradisional,” terang Chiew.
Peran platform baru seperti TikTok Shop juga tidak bisa diabaikan. Dulu hanya dikenal untuk barang-barang murah, kini TikTok Shop menjadi kanal penjualan baru yang sangat menjanjikan bagi merek ponsel untuk menggelar diskon kilat atau menghabiskan stok model lama.
“Ekspansi pesat TikTok Shop ke perangkat dan elektronik membuka peluang pertumbuhan baru bagi para pemain ponsel pintar di Asia Tenggara,” ucap Senior Analyst Canalys, Sheng Win Chow.
Secara umum, grup Transsion menguasai Filipina dengan pangsa pasar mencapai 37 persen. Sementara di Thailand, Oppo memegang kendali dengan pangsa pasar mencapai 22 persen.
Samsung masih perkasa di Vietnam, memimpin pasar dengan pangsa 26 persen. Sementara di Malaysia, situasinya mirip dengan Indonesia, dimana Xiaomi berhasil menjadi nomor satu dengan pangsa mencapai 20 persen.