Digilife

Waspada, Data Kebugaran di Smartwatch Bisa Jadi Senjata Penjahat

Vina Insyani
Waspada, Data Kebugaran di Smartwatch Bisa Jadi Senjata Penjahat

Uzone.id Olimpiade Musim Dingin Milan-Cortina 2026 tengah berlangsung semenjak pekan lalu dan euforianya bikin warga dunia ikut bersemangat untuk ikut berolahraga seperti nge-gym, lari di luar ruangan hingga berenang.

Sayangnya, dibalik tren sehat tersebut, ada risiko privasi data yang perlu diperhatikan, khususnya bagi kalian yang berolahraga menggunakan perangkat wearable seperti smartwatch dan lainnya.

Kaspersky menemukan fakta bahwa penggunaan perangkat kebugaran dapat membuka celah terhadap doxing, serangan phishing tertarget, hingga potensi kenaikan premi asuransi kesehatan di beberapa pasar.



Seperti yang sudah diketahui, perangkat seperti jam tangan pintar, gelang, atau cincin dapat melacak data tubuh mulai dari berat badan, tinggi badan, golongan darah, waktu tidur, serta data biometrik seperti oksigen darah atau detak jantung.

Selain itu, ada juga pelacakan aktivitas luar ruangan berbasis GPS dimana pengguna seringkali membagikan rute dan detail aktivitas tersebut melalui aplikasi pendamping atau media sosial.

Ternyata, dibalik tren berbagai data ini, ada penjahat siber yang memanfaatkan dan mencari celah untuk bisa ikut melacak korbannya, baik secara online maupun secara fisik. Tujuannya adalah untuk penipuan berbasis rekayasa sosial.

Kaspersky juga menyoroti potensi kebocoran data, baik disengaja maupun tidak. Beberapa produsen perangkat, terutama merek kurang dikenal atau berharga murah disebut bisa ‘memonetisasi’ data pengguna dengan membagikan atau menjualnya kepada pihak ketiga seperti pengiklan, pialang data, atau perusahaan asuransi.



“Pelacak kebugaran dengan harga terjangkau dapat menjadi pintu masuk untuk eksploitasi. Tetaplah menggunakan merek-merek mapan dengan rekam jejak privasi yang terbukti untuk menghindari aktivitas kebugaran Anda menjadi lahan bermain penyerang,” kata Anna Larkina, Pakar Analisis Konten Web dan Privasi Kaspersky.

Data lainnya seperti pola geolokasi, tren detak jantung, siklus tidur, dan informasi kesehatan juga bisa dimanfaatkan untuk pemasaran tertarget sehingga berpotensi mempengaruhi besaran premi asuransi.

Tak cukup sampai disitu, penjahat juga bisa dengan mudah mengakses dan mengekspos atau menjual kembali kumpulan data besar dari perangkat wearable yang disinkronisasi karena keamanan perangkat yang lemah.

Oleh karena itu, untuk melindungi diri saat menggunakan pelacak kebugaran, kalian perlu berhati-hati dan memilih merek perangkat yang sudah terkenal dengan keamanan dan privasi yang kuat, hanya gunakan satu aplikasi terpercaya, periksa kebijakan privasi dan hanya unduh aplikasi lewat toko resmi.