Gadget

Tren AI & Isu Harga, iQOO Fokus ke Experience Bukan Spesifikasi

Hani Nur Fajrina
Tren AI & Isu Harga, iQOO Fokus ke Experience Bukan Spesifikasi

Uzone.id – Tren kecerdasan buatan (AI) yang kian agresif masuk ke perangkat seperti smartphone hingga laptop memunculkan kekhawatiran baru di industri teknologi. Salah satunya soal prediksi komponen, khususnya RAM, yang disebut-sebut bakal semakin “langka” karena permintaan komputasi AI terus meningkat. Imbasnya, harga smartphone dikhawatirkan ikut terdorong naik.

Di tengah isu tersebut, iQOO memilih mengambil posisi yang sedikit berbeda. Alih-alih terpaku pada perang spesifikasi mentah seperti kapasitas RAM atau penyimpanan, brand ini menegaskan komitmennya untuk tetap fokus pada experience atau pengalaman menyeluruh yang dirasakan pengguna.

Head of Product iQOO Indonesia, Calvin Nobel Martin, menilai bahwa sejak awal, iQOO memang membawa DNA sebagai brand performa. Namun, definisi performa yang diusung tidak sesempit angka di atas kertas.





“Dari dulu kan komitmen iQOO itu mau kasih HP dengan performa. Tapi performa di sini bukan cuma soal RAM berapa atau ROM berapa,” ujar Calvin kepada Uzone.id di Jakarta, Rabu (17/12).

Menurutnya, performa sejati justru terletak pada keseluruhan pengalaman penggunaan sehari-hari. Ia mencontohkan, layar yang responsif dan nyaman dipandang, daya tahan baterai, hingga detail seperti getaran haptic dan kualitas speaker aktif juga merupakan bagian dari performa.

Semua elemen tersebut berkontribusi pada bagaimana sebuah smartphone terasa saat digunakan, bukan sekadar terlihat unggul di tabel spesifikasi. Ia memang tidak menjawab secara gamblang soal prediksi kenaikan harga terhadap produk iQOO, melainkan lebih fokus ke performa maksimal.

Overall performance experience itu yang kita kejar,” lanjutnya.


Foto: Uzone.id
Foto: Uzone.id


Pandangan ini menjadi relevan di tengah isu kenaikan harga komponen, termasuk RAM, yang belakangan ramai dibicarakan seiring maraknya fitur AI di smartphone.

Alih-alih melihat RAM sebagai satu-satunya penentu performa, iQOO mengklaim mempertimbangkan banyak faktor dalam menentukan produk dan harga yang ditawarkan ke pasar Indonesia.

“Dalam hal harga, penyesuaian harga, kita consider semua faktor. Mulai dari kebutuhan user, apa yang bisa kita tawarin, sampai teknologi ke depannya,” jelas Calvin.

Artinya, bukan hanya tren global atau tekanan biaya yang jadi pertimbangan, tapi juga relevansi teknologi tersebut bagi pengguna di Tanah Air.



Isu AI sendiri diakui memang sedang berada di fase “ramai jargon”. Hampir semua produsen berlomba menempelkan label AI di berbagai fitur, meski tidak semuanya benar-benar terasa manfaatnya bagi pengguna.

Bagi iQOO, pendekatan terhadap AI justru harus lebih membumi. Bukan sekadar istilah pemasaran, tapi benar-benar praktis dan berguna dalam aktivitas sehari-hari.

“Kalau dari kita, AI itu hal yang positif. Saya pribadi juga merasa AI sangat membantu, baik untuk kerja maupun produktivitas,” lanjut Calvin.

Namun ia menekankan, implementasi AI seharusnya tidak berlebihan atau terkesan dipaksakan. Pendekatan tersebut tercermin di lini produk terbaru iQOO, termasuk iQOO 15 yang dibekali OriginOS.

Berbagai fitur AI dihadirkan untuk mendukung aktivitas pengguna, mulai dari pengolahan foto di galeri seperti editing, erasing, hingga expanding, sampai fitur AI transcript yang bisa digunakan secara langsung untuk membantu pencatatan atau konsumsi konten.


Meski begitu, iQOO mengaku tidak ingin terlalu mengglorifikasi AI. Menurutnya, yang terpenting adalah bagaimana teknologi tersebut bisa hadir secara natural dan sesuai kebutuhan pengguna, bukan sekadar tempelan fitur.

“Yang penting implementasinya ke user. Tidak perlu dikit-dikit AI apa, AI apa. Sesuai needs-nya aja,” tegasnya.

Dengan pendekatan ini, iQOO tampaknya ingin merespons kekhawatiran pasar soal lonjakan harga smartphone secara lebih realistis. Alih-alih terjebak pada adu angka spesifikasi yang berpotensi mendorong harga naik, iQOO memilih mengedepankan keseimbangan antara performa, pengalaman, dan nilai yang benar-benar dirasakan pengguna.

Di tengah tren AI yang terus berkembang dan isu komponen yang kian kompleks, pendekatan tersebut bisa menjadi pembeda. Bahwa di era AI sekalipun, performa smartphone tidak selalu harus didefinisikan oleh RAM besar atau jargon canggih, melainkan oleh seberapa nyaman dan relevan perangkat tersebut menemani aktivitas penggunanya sehari-hari.