Digilife

TikTok Mulai Ditinggal Warga AS, Hijrah ke Aplikasi Bikinan Palestina?

Vina Insyani
TikTok Mulai Ditinggal Warga AS, Hijrah ke Aplikasi Bikinan Palestina?

Uzone.id — Warga Amerika Serikat beramai-ramai pindah ke media sosial baru bernama ‘UpScrolled’ setelah TikTok resmi diambil alih oleh perusahaan milik Amerika Serikat. 

Diketahui, aplikasi yang didirikan oleh Issam Hijazi yang merupakan seorang berdarah Palestina ini menjadi salah satu aplikasi yang paling banyak di download di App Store dan Play Store Amerika Serikat dan Kanada di awal tahun 2026 ini.

Tak hanya itu, aplikasi ini juga banyak kedatangan pengguna baru dari Inggris, Prancis, Jerman dan Italia. Pengguna UpScrolled mengalami kenaikan tajam dari 150 ribu saat awal perilisan menjadi 2,5 juta pengguna.




“Komunitas kami berkembang dengan kecepatan yang hanya bisa terjadi di mimpi saya,” kata Issam HIjazi, CEO dan Founder Upscrolled, dikutip dari Euronews, Rabu, (04/02).

Peningkatan pengguna UpScrolled juga terjadi di saat pengguna TikTok di AS ramai-ramai menghapus aplikasi ByteDance tersebut. 

Dari pantauan Sensor Tower pada 26 Januari 2026 lalu, rata-rata harian pengguna TikTok di Amerika Serikat yang menghapus aplikasi tersebut meningkat hampir 150 persen dalam lima hari terakhir dibandingkan dengan tiga bulan sebelumnya.

Beberapa pengguna TikTok di X pun turut membagikan pengalaman mereka yang akhirnya memutuskan pindah ke UpScrolled dibandingkan tetap mengakses TikTok.



Secara sekilas, UpScrolled memiliki tampilan seperti perpaduan Instagram, Threads dan X. Di aplikasi ini, pengguna bisa mengunggah foto, video, postingan teks serta mengirim pesan ke pengguna lain lewat DM.


Agar makin lengkap, platform ini sudah menyediakan menu Trending Topics yang disesuaikan dengan negara masing-masing.

Hijazi menjanjikan kalau pengguna bisa secara bebas menyampaikan pendapat mereka tanpa ada sensor, tidak bias, tidak ada shadowban, algoritma yang adil dan ‘akan selalu berpihak pada yang benar dan menegakkan tanggung jawab sosial.’

“Kami ada untuk mengembalikan keadilan ke inti media sosial. Setiap suara berhak mendapatkan jangkauan yang nyata dan perlakuan yang setara. Tidak ada shadowbans, tidak ada pembatasan tersembunyi, dan tidak ada favoritisme,” kata Hijazi.

Ia juga mengklaim bahwa platform mereka tidak memaksakan agenda apapun baik politik, komersial, maupun lainnya. 

“Aturan kami jelas dan diterapkan secara adil. kami dapat dijelaskan, keputusan kami dapat dipertanggungjawabkan, dan dampak kami bisa dipertanggung jawabkan,” tambahnya.

Hal ini pun berhasil menarik perhatian banyak pengguna. Pasalnya, TikTok di AS disebut telah melakukan censorship terkait beberapa topik yang dinilai melanggar. Salah satunya adalah terkait Israel dan Amerika Serikat.

Tidak hanya di Amerika Serikat, pengguna di Indonesia yang tertarik pada aplikasi ini bisa langsung mendownload di toko aplikasi. Hingga saat ini, aplikasi tersebut berada di peringkat 4 App Store dengan penilaian 4,9.

Sebelumnya, ByteDance dan Amerika Serikat sepakat untuk ‘melepas’ TikTok ke perusahaan gabungan atau joint venture yang berisi perusahaan-perusahaan AS seperti Oracle, Silver Lake dan MGX.

Sayangnya, langkah ini justru membuat masyarakat Amerika Serikat jadi enggan bermain TikTok lagi. Salah satu yang membuat warga AS kesal adalah pembatasan konten yang semakin luas dan gangguan yang sering terjadi setelah pelepasan tersebut diresmikan.