Digilife

TikTok Hapus 25 Juta Konten Pelanggaran, Termasuk Judol dan Penipuan

Aisyah Banowati
TikTok Hapus 25 Juta Konten Pelanggaran, Termasuk Judol dan Penipuan

Uzone.id – TikTok melaporkan bahwa platform mereka telah menghapus lebih dari 25 juta konten yang melanggar panduan komunitas sepanjang Januari sampai Juni 2025. Dari jumlah tersebut, lebih dari 424.000 video dan 1,6 juta komentar yang mempromosikan perjudian berhasil ditindak.

Selain itu, TikTok juga melaporkan bahwa platform mereka telah menghapus 232 ribu konten yang terkait dengan penipuan online dan lebih dari 180 ribu iklan berbayar yang mengandung unsur penipuan.

Menariknya, sekitar 99 persen konten tersebut telah dihapus secara proaktif sebelum sempat dilaporkan oleh pengguna. Seluruh inisiatif ini merupakan bagian dari upaya TikTok dalam menjamin keamanan pengguna di platform.

“Bagi kami keamanan digital itu tidak hanya sekedar menghapus konten yang tidak baik atau konten berbahaya. Juga tidak sekedar untuk hanya membekali pengguna dengan bagaimana menciptakan ruang yang aman, tapi juga harus memastikan seluruh pengguna kami, termasuk remaja, bisa berkreasi, bisa mengekspresikan dirinya secara aman dan positif di platform kami,” ungkap Hilmi Adrianto selaku Head of Public Policy and Government Relations TikTok Indonesia, Selasa (16/12).





Dalam upaya memperketat keamanan serta melindungi para penggunanya, TikTok tidak bekerja sendiri. Platform ini menjalin kolaborasi dengan pemerintah, organisasi, dan berbagai pemangku kepentingan untuk menghadirkan beragam inisiatif keamanan.

Sepanjang tahun ini saja, TikTok telah menggelar tiga kampanye keamanan digital.

Ajak masyarakat untuk #LawanJudol

Maraknya kasus judi online mendorong TikTok meluncurkan kampanye untuk melawannya. Bekerja sama dengan Komdigi, kampanye ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan dampak negatif dari judi online (judol).

“Kami mencoba untuk memberikan awareness terhadap salah satu isu yang menjadi prioritas, yaitu judi online. Kami meluncurkan kampanye bertajuk Lawan Judi Online untuk mendukung masyarakat dalam menghadapi tantangan judi online yang semakin marak,” ungkap Hilmi Adrianto.

Upaya kampanye ini diwujudkan melalui penyuluhan mengenai dampak judi online yang disampaikan dalam lokakarya yang digelar secara luring dan daring. Selain itu, TikTok juga menyediakan laman khusus yang memuat berbagai informasi yang berkaitan dengan isu judol.





Dorong kebiasaan untuk #PikirDuaKali

Berbicara mengenai keamanan digital, isu penipuan online ikut menjadi tantangan besar. Masyarakat menghadapi risiko yang tinggi karena pelaku kejahatan siber semakin mahir memanfaatkan celah teknologi untuk melancarkan aksinya.

“Data dari Indonesia Scam Center juga bisa dilihat bahwa setiap harinya di Indonesia tercatat 700-800 laporan penipuan online. Dan ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia maupun Singapura,” ujar Hilmi.

Menurutnya, korban penipuan siber kini sangat beragam. Mereka tidak hanya berasal dari masyarakat umum, tetapi juga melibatkan profesional di sektor keuangan hingga para influencer yang namanya kerap disalahgunakan oleh pelaku kejahatan.

Melalui kampanye #PikirDuaKali, TikTok memperkenalkan Metode 3C untuk meningkatkan kewaspadaan pengguna:

  1. Cek: Memastikan sumber informasi.
  2. Cegah: Menghindari membagikan informasi pribadi.
  3. Cegat: Memanfaatkan fitur dan panduan keamanan yang tersedia di TikTok.

TikTok juga turut menghadirkan pusat panduan yang dilaporkan telah diakses sebanyak lebih dari 37 juta kali oleh pengguna sejak Oktober 2025.






Saling Berkreasi dan #SalingJaga

Dan yang tidak kalah penting, TikTok menghadirkan kampanye keamanan untuk remaja dalam tajuk Saling Berkreasi dan #SalingJaga. Tidak sendirian, TikTok turut menggandeng Yayasan Sejiwa dan Yayasan Keluarga Kita untuk ikut mengambil bagian.

Melalui kampanye ini, TikTok hadir di sejumlah SMA di berbagai wilayah Jabodetabek untuk menggelar penyuluhan kreasi digital. Penyuluhan ini bertujuan mengedukasi siswa mengenai pemanfaatan platform sekaligus memperkenalkan fitur-fitur keamanan yang dimiliki TikTok.

Dengan demikian, mereka diharapkan dapat merasa aman saat berkreasi dan beraktivitas di dunia digital. “Dan kami sangat bangga di tahun 2025 ini rangkaian acara tersebut sudah menjangkau 100.600 lebih peserta remaja dan guru di berbagai wilayah di Jabodetabek,” pungkas Hilmi.