Ramadan Lyfe

Tidak Berpuasa Saat Touring, Apakah Boleh?

By Bagja Pratama

Uzone.id – Suka touring tapi sedang bulan Ramadan kadang jadi tantangan dan kendala tersendiri. Bagaimana tetap bisa menikmati perjalanan tapi juga sekaligus tetap beribadah puasa.

Namun, gak semua orang punya daya tahan seperti itu. Dan bahkan, perjalanan jauh disarankan agar tubuh cukup nutrisi dan hidrasi agar bisa tetap fokus dan konsentrasi saat berkendara.

Namun apa hukumnya ketika kita sedang dalam keadaan touring bersama komunitas namun dalam kondisi berpuasa? Apakah boleh kita tidak berpuasa ketika dalam keadaan touring? Ini penjelasannya.

Baca juga:Elon Musk Umumkan, Beli Tesla Bisa Pakai Bitcoin

Ustaz Ahmad Fauzi Qosim, Dompet Dhuafa melalui pesannya menjawab, umat Islam diperbolehkan tidak berpuasa apabila sedang dalam keadaan perjalanan jauh yang menyebabkan kita menjadi kelelahan, keletihan, dan kepayahan (menjadi lemah).

Jika dianalogikan, hukum membatalkan puasa ketika bepergian jauh sama halnya dengan orang yang menjamak sholatnya.

Hal ini dapat dilakukan jika perjalanannya menempuh jarak satu kashah atau setara 83 KM (Kilometer) menurut mayoritas ulama. Namun puasa tersebut wajib di qadha atau diganti di kemudian hari.

Dalam hal ini, Al-Qur’an secara jelas telah menerangkan melalui Q.S Al- Baqarah ayat 185 yang salah satu penggalannya kalau diartikan seperti ini:

"dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur."

Namun, keadaan pada zaman nabi berbeda dengan keadaan yang ada pada saat ini. Pada zaman nabi, kondisi perjalanan dengan jarak 83 KM harus ditempuh menggunakan kendaraan Unta dan cuaca jazirah Arab yang sangat terik.

Berbeda dengan kondisi saat ini yang memang sangat mudah dari segi akses maupun kendaraan ketika kita bepergian dengan jarak yang jauh. Jarak dari Jakarta menuju Bandung lebih dari 83 KM namun bisa di tempuh dengan waktu perjalanan hanya 2 jam menggunakan mobil dan akses melalui jalan tol.

Dalam hal ini tentunya terdapat perbedaan yang signifikan antara kondisi perjalanan pada zaman nabi dengan zaman sekarang. Pada saat ini, jika musafir masih sanggup melanjutkan puasanya walaupun menempuh perjalanan yang sangat jauh, maka tidak perlu membatalkan puasanya.

Jadi kesimpulannya adalah diperbolehkan membatalkan puasa apabila sedang dalam perjalanan yang jauh, namun wajib mengganti puasanya di kemudian hari.

Apabila kita masih sanggup berpuasa walaupun sedang bepergian jauh, maka lanjutkanlah puasanya sampai waktu berbuka tiba.

VIDEO: Ganti Knalpot Racing Haram? Ini Menurut Polda Metro Jaya