Tahun 2026, AI Jadi Alat Andalan Para Penjahat Siber untuk Beraksi
Uzone.id —
Tingkat adopsi AI di kawasan Asia Pasifik (APAC) ternyata lebih tinggi
dibanding rata-rata global. Menurut laporan dari Kaspersky, sebanyak 78 persen
profesional di Asia Pasifik menggunakan AI setidaknya setiap minggunya, 6
persen lebih tinggi dari penggunaan secara global.
Pesatnya penggunaan AI tidak hanya membawa dampak positif tapi juga menjadi peringatan di
ruang digital.
“membentuk kembali keamanan siber dari kedua sisi. Penyerang
menggunakannya untuk mengotomatiskan serangan, mengeksploitasi kerentanan, dan
membuat konten palsu yang sangat meyakinkan,” kata Vladislav Tushkanov, Manajer
Grup Pengembangan Riset Kaspersky.
Ia melanjutkan, “Pada saat yang sama, pihak pertahanan
menerapkan AI untuk memindai sistem, mendeteksi ancaman, dan membuat keputusan
yang lebih cepat dan cerdas. AI adalah alat yang ampuh untuk serangan dan
pertahanan, dan kemampuan untuk mengelolanya dengan aman pasti akan
mempengaruhi masa depan keamanan siber.”
Para ahli Kaspersky pun memaparkan bagaimana perkembangan AI
akan membentuk ulang lanskap keamanan siber pada 2026, berikut beberapa
prediksi bagaimana AI bisa mengubah ancaman dan pertahanan siber selama satu
tahun ke depan:
Deepfake jadi ‘senjata’ utama
Salah satu isu utama adalah deepfake yang semakin menjadi
teknologi arus utama. Seiring bertambahnya volume deepfake, semakin beragam
pula format kemunculannya.
Perusahaan mulai aktif membahas risiko konten sintetis dan
melatih karyawan agar tidak mudah tertipu oleh konten-konten seperti ini.
Kesadaran ini juga meningkat di kalangan pengguna biasa, yang kini lebih sering
menemui konten palsu di dunia digital.
Akibatnya, deepfake menjadi elemen tetap dalam agenda
keamanan yang membutuhkan pendekatan sistematis untuk pelatihan dan kebijakan
internal.
Kualitas video dan audio deepfake makin meningkat
Ke depan, kualitas deepfake diperkirakan akan semakin meningkat, terutama dari sisi audio. Jika sebelumnya tampilan atau video menjadi fokus utama, kini suara yang realistis menjadi cara agar deepfake makin sulit dibedakan.
Di saat yang sama, alat pembuat deepfake juga semakin mudah
digunakan, sehingga orang-orang tanpa keahlian teknis pun bisa membuat konten
palsu tersebut hanya dengan beberapa klik.
Kemampuan ini pasti akan terus dimanfaatkan oleh penjahat
siber apalagi kualitas rata-rata video terus meningkat dan pembuatan yang mudah
diakses oleh khalayak umum.
Deepfake real-time makin canggih
Teknologi pertukaran wajah dan suara secara real-time akan
terus berkembang dan terlihat semakin realistis. Meski begitu,
pengaturannya masih membutuhkan kemampuan teknis tingkat lanjut, sehingga tidak
akan digunakan secara luas oleh sembarang orang.
Namun, risikonya justru meningkat pada serangan yang
bersifat tertarget, karena manipulasi video melalui kamera virtual membuat
penipuan terlihat jauh lebih meyakinkan.
Sulit bedakan konten AI yang asli dan palsu
Batas antara konten AI dan konten yang asli semakin tidak
jelas. AI sudah mampu menghasilkan email penipuan, identitas visual, hingga
situs phishing dengan kualitas tinggi.
Di sisi lain, banyak merek besar juga menggunakan
konten-konten AI untuk iklan, sehingga materi buatan AI terlihat semakin normal
dan familiar. Akibatnya, pengguna maupun sistem deteksi otomatis akan semakin
kesulitan membedakan mana yang asli dan mana yang palsu.
AI makin diandalkan untuk tahapan serangan siber
Pelaku ancaman siber akan terus memanfaatkan LLM untuk
menulis kode, membangun infrastruktur, dan mengotomatiskan berbagai proses
penyerangan. Ke depannya, AI akan semakin mendukung berbagai tahapan serangan.
Sebut saja dari tahap persiapan, komunikasi, perakitan
komponen berbahaya, eksploitasi kerentanan, hingga penyebaran alat dengan upaya
menyembunyikan tanda-tanda keterlibatan AI, sehingga operasi tersebut lebih
sulit dianalisis.
AI mengubah cara kerja tim keamanan siber (SOC)
Dalam analisis keamanan, AI akan menjadi alat yang semakin
umum digunakan. Kaspersky menjelaskan bahwa sistem berbasis agen akan mampu
memindai infrastruktur secara terus-menerus, mengidentifikasi kerentanan dan
mengumpulkan informasi kontekstual untuk investigasi, mengurangi jumlah
pekerjaan rutin manual.
Peran dari tim SOC pun bergeser dari pencarian data secara
manual ke pengambilan keputusan berbasis konteks. Alat keamanan pun akan
beralih ke antarmuka bahasa alami yang memungkinkan perintah otomatis alih-alih
pertanyaan teknis yang kompleks.