Susul Grab, Gojek Mau Ikut Naikkan Tarif Imbas Krisis BBM
Uzone.id — Platform ride-hailing
di Singapura sudah mulai menyesuaikan tarif layanan mereka seiring dengan
krisis bahan bakar minyak yang dihadapi oleh negara tersebut. Setelah Grab yang
resmi menyesuaikan harga, kini giliran Gojek yang juga akan menaikkan tarif
mereka di negara tersebut.
Gojek dilaporkan akan menaikkan tarif layanan mereka mulai
10 April hingga 31 Mei 2026 sebagai bentuk dukungan mereka pada mitra driver di
tengah konflik yang terjadi di Selat Hormuz.
Dalam email yang dikirim ke pengguna, Gojek mengatakan bahwa
pihaknya akan melakukan penyesuaian harga sebesar 90 sen dan akan diberlakukan
untuk semua jarak perjalanan.
Gojek sendiri menyebut bahwa kenaikan tarif ini tidak berlaku untuk layanan GoTaxi dimana layanan ini tetap menggunakan argo seperti biasanya.
Tak hanya itu, perusahaan juga menyatakan bahwa 100 persen
dari biaya tersebut akan disalurkan kepada pengemudi dan akan memantau kondisi
saat ini.
“Gojek akan berupaya semaksimal mungkin untuk memastikan
perjalanan tetap andal dan juga terjangkau,” kata Gojek dikutip dari CNA,
Senin, (06/04).
Sebelumnya, Grab juga melakukan penyesuaian harga pada 31
Maret 2026 kemarin dengan menaikkan biaya tambahan bahan bakar menjadi 90 sen
mulai 7 April hingga 31 Mei.
Langkah tersebut mencakup penambahan biaya tambahan sebesar
40 sen pada tarif penumpang selama periode tersebut.
Tak hanya Grab dan Gojek saja, platform ride-hailing lainnya
seperti Tada, Strides dan ComfortDelGro juga melakukan penyesuaian harga pada
platform mereka hingga 31 Mei 2026 sebagai imbas dari pasokan bahan bakar
minyak yang banyak terjebak di Selat Hormuz.
Sementara itu, platform ride-hailing di Indonesia belum melakukan penyesuaian harga namun mereka akan terus memantau kondisi saat ini. Grab misalnya, mereka menyebut akan terus memantau secara cermat termasuk soal harga bahan bakar.
Kepada Uzone.id, perwakilan Grab Indonesia menyatakan bahwa
pihaknya akan terus melakukan pemantauan kondisi termasuk perkembangan harga
bahan bakar yang kemungkinan ikut terpengaruh.
“Grab Indonesia terus memantau secara cermat dinamika global
maupun domestik, termasuk perkembangan terkait harga bahan bakar yang
berpotensi mempengaruhi ekosistem/industri ride-hailing,” kata Tyas Widyastuti,
Director of Mobility and Logistics Grab Indonesia kepada Uzone.id.
Sebagai bagian dari ekosistem transportasi nasional, Grab
Indonesia pun menegaskan komitmen mereka untuk terus menjaga keseimbangan
antara keterjangkauan layanan bagi pengguna, keberlanjutan pendapatan Mitra
Pengemudi, serta stabilitas operasional platform.
“Setiap kebijakan, termasuk terkait penyesuaian tarif, akan
selalu mempertimbangkan berbagai aspek secara menyeluruh dan dilakukan sesuai
dengan ketentuan regulasi yang berlaku serta melalui koordinasi dengan pemangku
kepentingan terkait,” tambahnya.