Digilife

Siapa yang Harus Kita Follow di Media Sosial?

  • 04 Apr 2022 WIB
    Bagikan :
    Ilustrasi: Adem AY/Unsplash

    Salah satu kelebihan zaman now adalah terbukanya akses untuk mengikuti (follow) siapa pun dan kapan pun. Cukup dengan beberapa klik di media sosial, kita sudah dapat mengikuti dan mengetahui apa saja yang dilakukan oleh orang yang kita ikuti.

    Baik kita sadari atau tidak, orang yang kita ikuti dapat memengaruhi pola pandang bahkan akidah kita. Oleh karena itu, pertanyaan “siapa yang harus kita ikuti” adalah pertanyaan yang relevan bukan hanya hari ini tetapi juga di zaman sebelum-sebelum kita.

    Pernah suatu ketika seseorang bertanya kepada Imam Junaid Al-Baghdadi, yang dikenal mumpuni di bidang ilmu fiqih dan tasawuf.

    “Siapakah hamba Allah (yang masih hidup) yang harus aku ikuti, wahai Imam ? Apakah dia yang dapat terbang di udara?”

    Tidak,” jawab sang Imam.

    “Atau dia yang dapat berjalan di atas air?” tanya orang itu lagi.

    Tidak,” jawab sang Imam.

    Lalu siapa?” tanya orang itu penasaran.

    Sang Imam pun menjawab, “Ikutilah dia yang hanya kamu temukan ketika ada perkara halal (dan baik), tetapi tak pernah kamu menemukannya ketika ada perkara haram.”

    Dengan kata lain, Imam Junaid Al-Baghdadi menganjurkan kita untuk mencari teman dan panutan yang kita temui di majelis ilmu, zikir, taubat, atau di tempat-tempat baik lainnya di mana kebaikan bersemayam.

    Yang tak kalah penting, sang Imam berpesan agar kita jangan mencari panutan yang ia sendiri masih berkutat di tempat-tempat dan perbuatan yang haram dan maksiat. Sehingga ditakutkan malah justru kita terperosok ke lubang maksiat bersama dengannya.

    Sejalan dengan hadis Rasulullah ﷺ, kalau kita dekat dengan pandai besi maka kita pun bisa saja terkena bara api atau badan kita berbau asap besi, tetapi jika kita dekat dengan penjual minyak wangi kita bisa saja menjadi harum karenanya (HR. Bukhari no. 2101).

    Manariknya, percakapan antara Imam Junaid Al-Baghdadi dan orang itu tidak selesai sampai di situ. Masih penasaran dan terkesima dengan karomah atau pun kedigdayaan yang dimiliki oleh orang lain, ia pun kembali bertanya kepada sang Imam.

    “Lalu bagaimana jika aku melihat seseorang yang dapat terbang di langit? Apakah aku boleh mengikutinya?”

    Sang Imam pun berpesan, “Jangan kau ikutinya sampai engkau melihat bagaimana ia menghormati perintah Alquran dan Sunnah."

    Di sini jelas sekali pesan dari Imam Junaid. Bahwasanya patokan dari orang yang boleh—bahkan harus kita ikuti—adalah jika orang tersebut mengikuti Alquran dan Sunnah. Jika ia berpaling dari keduanya, maka jangan diikuti.

    Sebab sebanyak apa pun pengikut (follower) yang dimiliki seseorang—jutaan atau bahkan ratusan juta follower di media sosial atau di alam nyata sekalipun—bukan berarti dia yang paling benar.

    Itu hanya indikator kepopuleran, bukan kebenaran atau kebajikan—sehingga belum tentu patut untuk di-follow.

    ###

    *Jika artikel di aplikasi KESAN dirasa bermanfaat, jangan lupa share ya. Semoga dapat menjadi amal jariyah bagi kita semua. Aamiin. Download atau update aplikasi KESAN di Android dan di iOS. Gratis, lengkap, dan bebas iklan.

    **Ingin menulis untuk KESAN dan berbagi ilmu yang berguna? Tunggu apa lagi? Sebab berbagi ilmu itu bukan hanya indah, tetapi juga berpahala. Kirim artikelmu ke salam@kesan.id

    Related Article