Serangan Siber di RI Gila-gilaan, 15 Kali per Detik Sepanjang 2025
Uzone.id — Laporan terbaru dari AwanPintar
mengungkapkan bahwa Indonesia saat ini berada dalam level kewaspadaan tinggi
perihal serangan siber.
Dalam laporan bertajuk Indonesia Waspada: Ancaman Digital di
Indonesia Semester 2 Tahun 2025, jumlah total serangan yang menargetkan
Indonesia mencapai 234.528.187 serangan untuk semester 2 tahun 2025.
Jika dihitung kembali, warga Indonesia rata-rata mengalami 15
kali serangan per detiknya di ruang digital selama paruh kedua 2025 kemarin.
Khusus pada bulan Desember 2025 saja, jumlah serangan menyentuh angka 90.590.833 kali. Jumlah tersebut dipicu oleh tingginya aktivitas serangan Distributed Denial of Service (DDoS) dan juga eksploitasi terhadap lalu lintas transaksi ekonomi digital selama periode liburan akhir tahun.
Yudhi Kukuh, founder AwanPintar mengatakan bahwa pelaku
serangan siber yang ada di dalam negeri tidak hanya bergerak secara individu
melainkan bekerja sama secara terogranisir untuk menargetkan layanan publik dan
platform ekonomi.
“Kondisi ini mencerminkan adanya kebutuhan mendesak untuk
memperkuat edukasi literasi keamanan di seluruh lapisan masyarakat agar tidak
mudah terjebak dalam skema manipulasi yang dibuat oleh pelaku lokal,” katanya.
Salah satu serangan yang mengalami peningkatan paling tinggi adalah Attempted Administrator Privilege Gain dengan angka mencapai 60 persen, dimana para penjahat berupaya untuk mencuri hak akses admin pada sistem Windows di perangkat korban.
Serangan selanjutnya adalah Generic Protocol Command Decode
yang memanipulasi protokol jaringan untuk mengeksploitasi kerentanan sistem.
Dilanjut dengan Misc Activity (kegiatan mencurigakan pada sistem), Attempted
Information Leak (pencurian informasi sensitif) hingga Trojan.
Salah satu yang memberikan sumbangsih besar pada serangan
siber ini juga antara lain botnet Mirai yang terdeteksi pada awal 2025 kemarin.
Serangan ini aktif menginfeksi berbagai perangkat IoT lalu dijadikan jaringan
botnet untuk melancarkan serangan DDoS dalam skala besar.
Penjahat siber juga terdeteksi fokus memanfaatkan pintu
belakang (backdoor) untuk merebut hak akses admin tanpa terdeteksi lalu
mengeksekusi ransomware atau melakukan pencurian data. Banyaknya serangan
tersebut menunjukkan bahwa pelaku serangan siber jauh lebih agresif dalam
mengeksploitasi kerentanan pada sistem operasi perangkat yang belum terlindungi
atau belum ditambal.