Seminggu Jajal Jaecoo J5 EV: Mode Eco Doang, Tenaganya Segalak Ini
Uzone.id - Seminggu penuh berkesempatan menjajal Jaecoo J5 EV, kasih pengalaman plus minus buat saya, yang biasanya pakai mobil bensin buat harian. Di rentang waktu itu, mobil listrik ini dipakai buat melibas rute harian dari Bogor ke kantor yang lokasinya di Pancoran, Jakarta Selatan, hingga menanjak curam ke kawasan Dago Atas, Bandung.
Adapun, tipe Jaecoo J5 EV yang saya pakai adalah varian Premium dengan harga Rp299,99 juta. Harga yang menarik banget di kelasnya, tak salah kalau mobil ini sempat viral saat kali pertama mengaspal pada awal November lalu.
Berikut ini review lengkap Jaecoo J5 EV Premium, membahas kelebihan dan kekurangan mobil ini, berdasarkan pengalaman langsung di jalanan.
Hening, berkesan mewah
Sama sekali tidak ada kesan ‘mobil listrik murah’ di Jaecoo J5. Kesan pertama masuk ke kabinnya saja sudah senyap, kedap banget di jalanan. Suara ban dan angin di jalan teredam dengan baik. Ditambah kehadiran panoramic roof yang bikin suasana kabin terasa lebih lega, terang, dan mewah.
Jaecoo pun hadirkan sistem entertainment dengan layar besar seluas 13,2 inci yang sudah mendukung Android Auto dan Apple CarPlay, sehingga membuat proses navigasi, hiburan, hingga mirrorring layar smartphone jadi lebih mudah.
Plus, panel instrumen digital seluas 8 inci yang menampilkan informasi berkendara secara langsung, tentu dengan tampilan yang lebih jelas dan modern.
Detail kecil, tapi saya suka, adalah area wireless charging yang berada di bawah area layar. Tinggal taruh, baterai smartphone yang mendukung pengecasan nirkabel langsung terisi dengan cukup cepat. Kalaupun belum mendukung fitur ini, tersedia lumayan banyak port USB di kompartemen depan maupun belakang untuk mengisi daya.
Jaecoo J5 juga memiliki fitur camera 540 derajat yang menampilkan situasi di sekeliling mobil secara menyeluruh. Saya bisa mengatur kamera mana yang menyala, atau membiarkan sistem menampilkan blind spot secara otomatis. Atau, mengaktifkan fitur 360 derajat yang menampilkan citra animasi mobil dari atas.
Tenaganya nggak nyangka
Jaecoo J5 EV ditenagai motor listrik bertenaga 155 kW atau setara 210 PS dengan torsi puncak 288 Nm, yang tentu saja memberikan tenaga instan khas mobil listrik. Baterainya berkapasitas 60,9 kWh yang klaimnya dapat menempuh jarak sampai 461 km dalam sekali ngecas.
Mobil ini punya tiga mode berkendara, Eco, Normal, dan Sport. Selama penggunaan, hampir selalu mengaktifkan mode Eco, karena jujur, mobil listrik suka bikin kepikiran soal baterai. Buat saya, mending ‘alon-alon asal kelakon’, daripada baterai mobil habis di tengah jalan.
Toh, ternyata mode Eco lebih bertenaga dari yang saya bayangkan. Tenaganya masih instan, bahkan melibat tanjakan curam dengan sudut 45-50 derajat di Dago Atas, Bandung, pun masih sanggup-sanggup saja.
Kondisinya bukan kosongan malah. Jaecoo J5 diisi penuh lima orang penumpang (termasuk saya), plus bagasi yang penuh barang bawaan. Mobil tetap nanjak naik tanpa nogs-ngosan sama sekali, tanpa perlu effort injak pedal gas dalam-dalam.
Nilai plus buat bagasinya, barang bawaan banyak bisa masuk tanpa harus mengorbankan kenyamanan penumpang belakang.
Pertanyaannya sekarang adalah, bagaimana konsumsi baterainya saat dipakai harian dan jalan-jalan ke luar kota?
Untuk rute harian, saya berangkat dari Bogor ke kantor di kawasan Pancoran, Jakarta Selatan via Tol Jagorawi dan jalanan Jakarta yang lumayan padat—macet dengan jarak sekitar 61 km. Mode Eco menyala, dan baterai pun berkurang rata-rata 12 sampai 13 persen saja.
Lalu, saat dipakai rute luar kota Jakarta - Bandung via Tol Cipularang yang menanjak, konsumsi baterainya tercatat hanya berkurang sekitar 30 persen untuk jarak 150 km sampai ke Dago Atas.
Selama seminggu pemakaian, saya total mengisi daya di SPKLU sebesar Rp177 ribu, itu sudah gabungan fast charging CCS2 dan sedikit slow charging—lantaran tidak tersedianya soket pengisian cepat saat itu.
Hitungan kasarnya, dengan modal Rp177 ribu, saya sudah menempuh jarak total lebih dari 500 km selama seminggu. Artinya, biaya per kilometernya cuma berkisar Rp350 saja.
Kalau dibandingkan dengan mobil bensin dua baris penumpang dan punya mesin di bawah 1.500cc, dengan asumsi paling irit adalah 1:15 km/liter dan meminum Pertalite seharga Rp10.000, maka biayanya sekitar Rp660 per kilometernya. Beda lagi kalau pakai Pertamax, bisa tembus Rp800-an per kilometernya.
Jadi, buat saya yang sebelumnya pakai mobil bensin, Jaecoo J5 ini memang lebih hemat. Walau, ada satu concern khusus buat saya, ini ditenagai oleh baterai yang infrastruktur SPKLU-nya saja masih ‘rebutan’.
Informasi baterai yang masih sisa 30 persen di panel instrumen saja sudah bikin kepikiran untuk harus ngecas lagi. Saat mencari SPKLU, ada rest area di sekitaran Tol Jagorawi yang tidak menyediakan SPKLU di dalamnya.
Bicara pengisian baterainya, Jaecoo J5 sendiri sudah mendukung pengisian cepat 130 kW. Selama kami pakai mobil ini, ngecas di soket CCS2 dengan daya maksimum 60 kW, daya masuk sekitar 25 kWh hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit.
Tapi, ada PR yang harus dibenahi
Tentu, tidak ada mobil listrik yang sempurna, apalagi dengan harga Rp299 jutaan. Ada beberapa catatan minus yang cukup mengganggu kenyamanan saya selama seminggu ini.
Pertama soal fitur Regenerative Braking. Niatnya bagus buat nambah daya, tapi eksekusinya terasa kasar. Saat kaki melepas pedal gas, mobil seperti mengerem mendadak alias engine brake-nya terlalu agresif.
Efeknya mobil jadi terasa ndut-ndutan. Buat pengemudi mungkin bisa adaptasi, tapi buat penumpang belakang, sensasi ini sukses bikin mual dan tidak nyaman, terlebih saat di jalan tol dalam kondisi jalan yang menurun.
“Kan bisa pakai cruise control?”
Tunggu dulu, inilah kekurangan kedua menurut saya. Fitur cruise control-nya juga terasa kurang halus. Saat sistem melakukan pengereman otomatis karena ada kendaraan di depan, pengereman lagi-lagi terasa kasar, bukan melambat secara gradual atau halus.
Ketiga, soal build quality di beberapa titik. Tombol-tombol kontrol di setir terasa sekali plastiknya, agak keras saat ditekan dan kurang memberikan sensasi taktil yang premium. Rasanya kontras dengan dashboard-nya yang sudah terlihat mewah dan punya banyak area soft touch.
Terakhir, posisi tuas transmisi yang ada di sisi kanan belakang setir butuh adaptasi ekstra, terutama buat saya yang baru pertama kali pakai mobil model begini. Sering banget kagok, niat mau kasih lampu sein atau nyalakan lampu utama, tangan malah menyentuh tuas transmisi.
Jaecoo memindahkan semua kontrol lampu, sein, hingga wiper depan-belakang jadi satu di tuas sebelah kiri setir. Jadi buat yang terbiasa pakai mobil Jepang, mungkin di awal-awal bakal sering salah tuas.
Kesimpulan
Jaecoo J5 EV tipe Premium yang saya gunakan sejujurnya adalah mobil yang sangat menarik, wajar banget kalau saat perilisannya waktu itu, mobil ini langsung viral. Dengan harga Rp300 juta, sudah dapat mobil listrik yang kabinnya senyap, fitur melimpah, bagasinya lega, dan biaya operasional harian yang irit.
Meski memang, ada beberapa kekurangan yang jadi PR Jaecoo, mungkin untuk produk generasi selanjutnya.