Startup

Seller E-commerce Ramai Pindah ke Toco, CEO Ungkap Alasannya

Vina Insyani
Seller E-commerce Ramai Pindah ke Toco, CEO Ungkap Alasannya

Uzone.id — Di tengah kompetisi e-commerce di Indonesia yang terus didominasi nama-nama besar seperti Tokopedia, Shopee hingga Lazada, ada satu nama baru yang menjadi sorotan.

Toco, platform e-commerce asal Indonesia ini berhasil menjadi sorotan di pertengahan tahun 2025 setelah banyak seller berbondong-bondong pindah ke e-commerce tersebut.

Didirikan pada tahun 2024 oleh Arnold Sebastian Egg (yang dulu mendirikan Tokobagus/OLX), Toco menjadi e-commerce berbasis komunitas di Indonesia yang salah satu keunggulannya adalah menawarkan layanan tanpa biaya admin bagi para penjual.

Per Juni 2025 kemarin, nama e-commerce ini menjadi perbincangan hangat karena peningkatan jumlah penjual yang bergabung ke platform tersebut. Peningkatan ini terjadi dalam waktu yang hampir bersamaan dengan kenaikan biaya layanan yang diumumkan oleh Shopee maupun Tokopedia.




Arnold menjelaskan bahwa kenaikan pertumbuhan pengguna ini didorong oleh kebijakan di e-commerce lain seperti Shopee dan Tokopedia yang dianggap memberatkan para seller.

Shopee misalnya, platform ini terus menaikkan biaya layanan pada seller. Sementara Tokopedia dianggap memaksa seller untuk bergabung ke platform TikTok Shop yang kini menjadi bagian dari ekosistem mereka.

“Pada Juni 2025 lalu, tiba-tiba banyak yang join Toco, tiba-tiba mereka semua muncul dan ini semua organik ya,” kata Arnold, dalam acara Digital Economy & Telco Outlook 2026, Selasa, (26/11).

Ia menjelaskan bahwa pindahnya seller ini menimbulkan pertumbuhan yang tinggi untuk perusahaan. Hingga saat ini, Toco telah mencatat pengguna aktif bulanan hingga 1 juta pengguna dengan produk yang ditawarkan mencapai 3,4 juta.

Alasan Toco menjadi pilihan yang tepat bagi para seller pun diungkap oleh Arnold. Ia menjelaskan bahwa saat ini, Toco dibuat dengan filosofi yang berbeda dengan e-commerce lainnya.




“Kenapa beda? Karena kita by principle, kita gak mau charge market sama sekali. So, there’s no biaya admin sama sekali,” ujarnya.

Di saat platform e-commerce lain menekankan biaya potongan dari 8 hingga 38 persen, Toco justru tidak menerapkan hal tersebut. Untuk monetisasinya, Toco menerapkan platform fee dengan harga Rp2000 saja per transaksinya yang dibebankan kepada konsumer.

“So kita punya flat fee yang kita charge. So kita punya charge, the consumer Rp2.000 yang kita sebut biaya parkir,” tambahnya.

Menurutnya, hal inilah yang menjadi alasan kenapa Toco kini banyak dipilih oleh seller-seller UMKM untuk berjualan di platform mereka.

Sementara itu, Toco sendiri percaya bahwa platformnya akan tetap bertahan di Indonesia mengingat saat ini, transaksi e-commerce masyarakat Indonesia sangat tinggi bahkan 40 juta warga RI bisa transaksi secara online 2 kali satu minggu.

“Gimana bisa survive? For me, simple. Kalau kita lihat, transaction volume di Indonesia besar, ya kalau tidak salah 40 juta orang transaksi 2 kali sebulan atau 2 kali seminggu, I don't know. It’s a lot. Kalau ambil 5 persen dari itu, kalikan Rp2 ribu (platform fee), itu luar biasa,” tuturnya.