Seller E-commerce Ramai Pindah ke Toco, CEO Ungkap Alasannya
Uzone.id — Di tengah kompetisi e-commerce di
Indonesia yang terus didominasi nama-nama besar seperti Tokopedia, Shopee
hingga Lazada, ada satu nama baru yang menjadi sorotan.
Toco, platform
e-commerce asal Indonesia ini berhasil menjadi sorotan di pertengahan tahun
2025 setelah banyak seller berbondong-bondong pindah ke e-commerce tersebut.
Didirikan pada tahun
2024 oleh Arnold Sebastian Egg (yang dulu mendirikan Tokobagus/OLX), Toco
menjadi e-commerce berbasis komunitas di Indonesia yang salah satu
keunggulannya adalah menawarkan layanan tanpa biaya admin bagi para penjual.
Per Juni 2025 kemarin, nama e-commerce ini menjadi perbincangan hangat karena peningkatan jumlah penjual yang bergabung ke platform tersebut. Peningkatan ini terjadi dalam waktu yang hampir bersamaan dengan kenaikan biaya layanan yang diumumkan oleh Shopee maupun Tokopedia.
Arnold menjelaskan
bahwa kenaikan pertumbuhan pengguna ini didorong oleh kebijakan di e-commerce
lain seperti Shopee dan Tokopedia yang dianggap memberatkan para seller.
Shopee misalnya,
platform ini terus menaikkan biaya layanan pada seller. Sementara Tokopedia
dianggap memaksa seller untuk bergabung ke platform TikTok Shop yang kini
menjadi bagian dari ekosistem mereka.
“Pada Juni 2025 lalu,
tiba-tiba banyak yang join Toco, tiba-tiba mereka semua muncul dan ini semua
organik ya,” kata Arnold,
Ia menjelaskan bahwa
pindahnya seller ini menimbulkan pertumbuhan yang tinggi untuk perusahaan.
Hingga saat ini, Toco telah mencatat pengguna aktif bulanan hingga 1 juta
pengguna dengan produk yang ditawarkan mencapai 3,4 juta.
Alasan Toco menjadi pilihan yang tepat bagi para seller pun diungkap oleh Arnold. Ia menjelaskan bahwa saat ini, Toco dibuat dengan filosofi yang berbeda dengan e-commerce lainnya.
“Kenapa beda? Karena
kita by principle, kita gak mau charge market sama sekali. So, there’s no biaya
admin sama sekali,” ujarnya.
Di saat platform
e-commerce lain menekankan biaya potongan dari 8 hingga 38 persen, Toco justru
tidak menerapkan hal tersebut. Untuk monetisasinya, Toco menerapkan platform
fee dengan harga Rp2000 saja per transaksinya yang dibebankan kepada konsumer.
“So kita punya flat
fee yang kita charge. So kita punya charge, the consumer Rp2.000 yang kita
sebut biaya parkir,” tambahnya.
Menurutnya, hal inilah
yang menjadi alasan kenapa Toco kini banyak dipilih oleh seller-seller UMKM
untuk berjualan di platform mereka.
Sementara itu, Toco
sendiri percaya bahwa platformnya akan tetap bertahan di Indonesia mengingat
saat ini, transaksi e-commerce masyarakat Indonesia sangat tinggi bahkan 40
juta warga RI bisa transaksi secara online 2 kali satu minggu.
“Gimana bisa survive?
For me, simple. Kalau kita lihat, transaction volume di Indonesia besar, ya
kalau tidak salah 40 juta orang transaksi 2 kali sebulan atau 2 kali seminggu,
I don't know. It’s a lot. Kalau ambil 5 persen dari itu, kalikan Rp2 ribu (platform
fee), itu luar biasa,” tuturnya.