Selain Mobil Nasional, Bakal Ada juga Mobil Rakyat Seharga Rp50 Jutaan
Uzone.id - Banyak sekali istilah yang digunakan untuk mobil di Indonesia. Wacana mobil nasional sampai yang terbaru mobil rakyat berharga super murah.
Induk Koperasi Unit Desa (InKUD) mengungkapkan rencana ambisius untuk menghadirkan mobil rakyat yang akan diproduksi oleh PT Pindad.
Kendaraan ini tidak diarahkan sebagai mobil penumpang, melainkan kendaraan niaga ringan yang dirancang khusus untuk sektor pertanian dan usaha produktif desa.
Konsep mobil rakyat ini berangkat dari realitas di lapangan, di mana masih banyak desa yang kesulitan mendapatkan sarana transportasi yang terjangkau dan sesuai kebutuhan produksi.
Mulai dari mengangkut hasil panen, mendukung distribusi koperasi, hingga membantu aktivitas usaha kecil, mobil ini diharapkan menjadi solusi praktis untuk menggantikan penggunaan kendaraan modifikasi atau alat angkut sederhana yang selama ini digunakan masyarakat.
Direktur Utama InKUD, Portasius Nggedi, menegaskan bahwa mobil rakyat tidak dirancang sebagai kendaraan keluarga. Fokus utamanya adalah fungsi angkut dan daya guna di lingkungan pedesaan.
“Mobil rakyat ini bukan mobil keluarga ya tetapi seperti pikap. Ini untuk kebutuhan-kebutuhan di tingkat desa, supaya produksi di desa ada transportasinya,” kata Portasius Nggedi, Direktur Utama InKUD di Tangerang, dikutip Uzone.id.
Secara konsep, mobil rakyat ini akan memiliki karakter serupa dengan Alat Mekanis Multiguna Pedesaan (AMMDes), kendaraan yang telah lebih dulu dikenal sebagai penunjang aktivitas ekonomi desa.
Kehadiran mobil rakyat diharapkan mampu mengisi celah kebutuhan kendaraan niaga yang selama ini harganya dinilai masih terlalu tinggi bagi sebagian besar masyarakat desa. Dalam skema distribusinya, InKUD akan memanfaatkan jaringan koperasi yang telah ada.
Dengan sekitar 13 juta anggota yang tersebar di berbagai wilayah, koperasi desa akan berperan sebagai penghubung antara produsen dan masyarakat pengguna. Skema ini juga membuka peluang pembiayaan yang lebih fleksibel bagi warga.
“Di situ peran koperasi (Induk KUD) masuk, memfasilitasi mereka. Mereka juga bisa mencicil (pembayaran) mobilnya,” ujarnya.
Terkait harga, Portasius menyebutkan harga perkiraan awal yang cukup menarik perhatian publik. Ia menyebut banderolnya sekitar Rp50 juta per unit, meski menegaskan bahwa nominal tersebut belum bersifat final.
“Yang saya dengar, walaupun belum pasti karena BPS-nya belum keluar, harga kendaraan itu Rp 50 juta,” jelas dia. “Harganya masih bisa berubah karena belum ada keputusan.”
Salah satu faktor yang memengaruhi perhitungan harga adalah rencana penggunaan teknologi kendaraan listrik. Mobil rakyat dirancang sebagai kendaraan listrik, sehingga komponen baterai menjadi bagian paling krusial dalam struktur biaya produksi.
“Ini kan kendaraan EV nanti. Yang mahal itu baterainya, jadi masih akan dihitung lagi,” tutur Portasius.
Untuk menekan biaya dan memastikan kendaraan sesuai kebutuhan desa, desain mobil akan difokuskan pada fungsi dasar sebagai kendaraan niaga ringan. Artinya, tidak ada fitur mewah yang tidak relevan dengan aktivitas produksi masyarakat desa.
Selain produksi kendaraan, InKUD juga menyiapkan ekosistem pendukung. Mereka berencana menggandeng berbagai pihak untuk membangun jaringan suku cadang dan layanan purna jual. Infrastruktur koperasi yang tersebar hingga tingkat kecamatan dan desa akan dimanfaatkan, termasuk penyediaan lahan bengkel dan pusat pelatihan teknis.
Sebagai bagian dari upaya mencari mitra strategis, InKUD turut hadir dalam Pameran Aksesoris Otomotif Internasional China (CIAAF) 2025. Langkah ini dilakukan untuk menjajaki teknologi dan sistem manufaktur yang dapat diadaptasi menjadi solusi nyata bagi masyarakat pedesaan.