Digilife

Selain Google Maps, Ini 5 Aplikasi Lokal untuk Pantau Titik Banjir

Aulia Azzahra
Selain Google Maps, Ini 5 Aplikasi Lokal untuk Pantau Titik Banjir

Di tengah cuaca ekstrem yang tidak menentu, mengandalkan Google Maps saja seringkali belum cukup untuk menjamin perjalanan kalian aman. Benar bahwa Google Maps bisa memberitahu kita area mana yang macet dengan indikator warna merah pekat, tapi aplikasi navigasi raksasa ini seringkali luput memberikan detail krusial mengenai penyebab kemacetan tersebut.

Apakah macet itu disebabkan oleh banjir? Seberapa dalam airnya? Apakah aman dilewati motor? Pertanyaan-pertanyaan ini sering kali tidak terjawab oleh Google Maps. Akibatnya, banyak pengendara yang nekat menerobos jalur merah di Google Maps, namun berujung mogok karena terjebak banjir yang cukup dalam.





Untuk mendapatkan data yang lebih presisi, kita perlu melirik aplikasi buatan anak bangsa yang datanya lebih spesifik dan real-time. Berikut adalah 5 aplikasi lokal alternatif selain Google Maps untuk memantau titik banjir secara akurat.

1. JAKI (Jakarta Kini)





Jika kalian warga Jakarta, aplikasi ini wajib ada di ponsel. JAKI adalah super-app resmi Pemprov DKI Jakarta yang terintegrasi langsung dengan sistem Jakarta Smart City.

Kenapa Lebih Baik dari Google Maps? Saat Google Maps hanya memberikan estimasi waktu macet, JAKI menampilkan data teknis yang sangat detail mengenai banjir. Kalian bisa melihat Tinggi Muka Air (TMA) di pintu air, status Siaga (1-4), hingga lokasi pompa air yang sedang aktif bekerja menyedot banjir.

Fitur paling krusial yang tidak dimiliki Google Maps adalah akses CCTV real-time. Kalian bisa melihat langsung visual sungai atau jalanan, sehingga bisa menilai sendiri apakah genangan banjir tersebut bisa dilewati atau tidak. Selain itu, ada fitur JakLapor di mana warga bisa memfoto genangan air, dan laporannya langsung diteruskan ke kelurahan untuk ditangani pasukan oranye.

2. PetaBencana.id





Bagi kalian yang enggan menginstal aplikasi berat, PetaBencana.id adalah solusi terbaik. Ini adalah platform open source berbasis web yang memvisualisasikan laporan warga (crowdsourcing) mengenai titik banjir.

Kenapa Lebih Baik dari Google Maps? Keunggulan utama platform ini dibanding Google Maps adalah indikator kedalaman air yang spesifik. PetaBencana.id mengubah laporan media sosial yang seringkali chaos menjadi titik-titik rapi di peta dengan kode warna:

  • Kuning (10-70 cm)
  • Oranye (71-150 cm)
  • Merah (>150 cm)

Google Maps tidak memiliki fitur indikator kedalaman banjir seperti ini. Cakupannya pun luas, mulai dari Jabodetabek, Bandung, Surabaya, hingga Semarang. Kalian bisa mengakses visualisasinya langsung di situs resmi PetaBencana.id untuk melihat situasi terkini tanpa perlu login.

3. Info BMKG





Mencegah lebih baik daripada mengobati. Prinsip inilah yang ditawarkan oleh aplikasi Info BMKG. Aplikasi resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika ini bertindak sebagai langkah preventif sebelum banjir terjadi.

Kenapa Lebih Baik dari Google Maps? Google Maps bersifat reaktif; ia baru memberi tahu merah setelah kemacetan akibat banjir terjadi. Sebaliknya, Info BMKG memberikan peringatan dini cuaca. Aplikasi ini memberitahu potensi hujan lebat disertai petir untuk 3 hari ke depan.

Dengan data ini, kalian bisa membatalkan rencana keluar rumah sebelum benar-benar terjebak banjir di jalanan. Fitur radar hujan di dalamnya juga lebih akurat memprediksi pergerakan awan dibandingkan fitur cuaca standar di Google Maps.

4. Travoy (Travel With Jasa Marga)





Bagi pengguna roda empat yang sering melintasi jalan tol, Travoy adalah asisten wajib. Seringkali Google Maps mengarahkan kita masuk tol karena dikira lancar (hijau), padahal di depan ada genangan banjir yang membuat banyak mobil mogok di bahu jalan.

Kenapa Lebih Baik dari Google Maps? Travoy menyediakan akses ke ribuan CCTV live streaming di ruas tol Jabodetabek dan Trans Jawa. Kalian bisa melihat sendiri kondisi aspal, apakah kering atau sudah tergenang banjir. Google Maps tidak menyediakan akses visual langsung seperti ini.

Sambil memantau CCTV di Travoy, pastikan juga kendaraan kalian dalam kondisi prima. Kalian bisa membaca tips mengenai perawatan mobil dan gadget otomotif terkini agar kendaraan tidak rewel saat harus menghadapi cuaca buruk di jalan tol.

5. inaRISK Personal


Terakhir, ada aplikasi resmi dari BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana). inaRISK Personal bukan sekadar aplikasi navigasi seperti Google Maps, melainkan aplikasi keselamatan berbasis kajian risiko.

Kenapa Lebih Baik dari Google Maps? Aplikasi ini bisa mendeteksi apakah posisi kalian berdiri sekarang berada di "Zona Bahaya Banjir" (Risiko Tinggi, Sedang, atau Rendah). Google Maps tidak memberikan informasi mengenai riwayat bencana di suatu lokasi. Dengan inaRISK, kalian bisa mengetahui risiko lingkungan sekitar sebelum bencana banjir benar-benar datang, serta mendapatkan edukasi langkah penyelamatan diri yang tepat.

Kombinasikan Google Maps dan Aplikasi Lokal

Kesimpulannya, Google Maps tetap menjadi juara untuk menunjuk arah jalan tercepat. Namun, untuk urusan keselamatan dari ancaman banjir, kelima aplikasi lokal di atas menawarkan data yang jauh lebih detail, akurat, dan spesifik dibandingkan Google Maps.

Saran terbaik bagi kalian adalah menggunakan strategi kombinasi. Gunakan Google Maps untuk melihat rute perjalanan, lalu buka JAKI atau PetaBencana.id untuk memvalidasi apakah rute tersebut bebas dari genangan air. Yuk, download sekarang sebagai persiapan menghadapi musim hujan!