Satu Siang di Pelabuhan Benoa: Menguji Kamera Poco F8 Ultra
Bali, Uzone.id - Poco F8 Ultra bukan sekadar kencang saja performanya, tapi juga bawa upgrade kamera yang signifikan. Kamera 50 MP yang mentereng kualitasnya, serta hadirnya kamera periscope telephoto, sudah membuktikan betapa seriusnya Poco garap sistem kamera untuk ponsel flagship-nya.
Hal ini juga diungkapkan oleh Kang Lou, Senior Product Marketing Manager Poco Global. Menurutnya, kamera akan jadi fokus berikutnya Poco untuk seri-seri ponsel flagship mereka yang akan datang.
“Di sini, saya ingin membuat janji kecil bahwa kamera kita di masa mendatang akan menjadi lebih baik dari apa yang kita miliki saat ini,” katanya, di atas panggung.
Di atas kertas, spesifikasi kamera Poco F8 Ultra memang sangat meyakinkan. Ada kamera utama 50 MP dengan sensor besar Light Fusion 950 yang didukung OIS, kamera periscope telephoto 50 MP dengan 5x optical-zoom dan OIS, serta kamera ultrawide 50 MP.
Berbekal kamera tersebut, kami pun tak menyia-nyiakan kesempatan menjajal langsung kameranya untuk menangkap kesibukan di Pelabuhan Benoa, Bali. Mulai dari megahnya kapal pesiar Discovery Princess yang sedang bersandar, pesawat yang bersiap mendarat, hingga aktivitas nelayan dan wisatawan yang asyik parasailing di atas laut.
Kami menjajal fleksibilitas lensanya dalam berbagai rentang focal length, mulai dari ultrawide 0,7x (18mm) hingga memaksanya ke zoom 20x (460mm) untuk membidik pesawat di kejauhan.
Ultrawide 0,7x (18mm)
Kamera ultrawide yang biasanya dianggap sepele, ternyata punya kualitas yang mumpuni pada Poco F8 Ultra. Kamera ini mampu mengabadikan lanskap Pelabuhan Benoa secara utuh.
Kamera ini hasilkan konsistensi warna yang baik, terlihat dari saturasi langit biru dan gradasi air laut yang terekam vibrant, namun tetap terlihat natural di mata. Detail pada tekstur air dan awan pun masih terjaga dengan baik, tidak terlihat soft atau pecah di bagian pinggir frame yang biasanya sering jadi penyakit lensa sudut lebar.
Garis horizon laut dan struktur masif kapal pesiar Discovery Princess yang tengah bersandar, tetap terlihat proporsional dan lurus, tanpa efek lengkung yang berlebihan di sisi-sisi foto.
Dynamic range-nya pun tergolong luas, terlihat dari kemampuan sensor menyeimbangkan cahaya terik matahari yang memantul keras di tabung sekoci putih tanpa membuatnya over-exposed, sembari tetap mempertahankan detail tajam di area bayangan kapal.
Zoom 1x (23mm)
Kamera utama 50 MP di Poco F8 Ultra menunjukkan kualitas terbaiknya pada pencahayaan melimpah di Pelabuhan Benoa. Dynamic range-nya impresif, lihat saja kapal pesiar Discovery Princess yang didominasi warna putih dan memantulkan cahaya matahari yang terik, sensornya mampu ‘menahan’ highlight agar tidak tampak over-exposed.
Detail jendela kabin hingga sekoci penyelamat tetap terlihat tajam, bersanding kontras dengan langit biru dan awan tipis yang terekam dramatis tanpa terlihat artifisial.
Ketajaman dan detail tekstur juga menjadi poin plus. Saat membidik aktivitas parasailing maupun hamparan perahu nelayan, kamera ini mampu memproses riak air laut secara jelas dan tetap natural, tanpa kesan oversharpening atau detail yang dipaksakan.
Plus-nya lagi, kecepatan shutter pun bisa diandalkan untuk membekukan gerakan ombak maupun parasut yang sedang melayang tanpa motion blur yang mengganggu.
Soal warna, memang cenderung vibrant, tapi tetap tampak hidup yang harusnya sesuai dengan selera pengguna yang suka foto ready-to-post.
Zoom 2x (46mm)
Kualitas perbesaran 2x pada 46mm juga memiliki kualitas gambar yang oke. Resolusi tinggi dari sensor Light Fusion 950 mampu menangkap detail, bahkan pada detail yang jauh seperti tulisan ‘Discovery Princess’ di lambung kapal, hingga kisi-kisi balkon penumpangnya.
Tidak terlihat adanya penurunan kualitas atau noise yang berarti, bahkan saat kami men-zoom hasil fotonya di layar untuk melihat tekstur ombak.
Buat kami, sebenarnya mode 46mm ini lebih menjadi sweet spot untuk framing yang lebih rapi, yang membuang gangguan visual yang mungkin muncul di pinggir frame, tanpa harus bergerak maju.
Saat digunakan memotret aksi parasailing, algoritma pencitraannya mampu mempertahankan detail subjek yang bergerak cepat. Cipratan air di sekitar speed boat juga terekam dengan baik.
Zoom 5x (115mm)
Selain kamera utama, kelebihan lain dari Poco F8 Ultra adalah periscope telephoto-nya. Berkat dukungan OIS juga, bidikan dengan zoom sejauh ini tetap stabil dan tajam.
Detail yang dihasilkan punya tekstur yang tetap tajam. Warnanya pun sama sekali tak terlihat seperti cat air, melainkan tetap tegas dengan separasi warna yang konsisten dengan kamera utamanya.
Kebetulan, kami juga naik kapal yacht bersama rekan-rekan media dari seluruh dunia di Pelabuhan Benoa. Poco menghadirkan hiburan berupa penari Bali dan topeng ‘Rangda’ di atas kapal.
Kami tak mau melewatkan momen ini untuk menunjukkan kemampuan kamera Poco F8 Ultra untuk memotret human interest dan portrait.
Pada focal length 115mm, kami bisa memotret objek candid dari jarak jauh tanpa mengganggu momen. Isolasi subjeknya luar biasa, dengan latar belakang menjadi blur secara alami berkat optik, bukan software.
Detail pada manik-manik gelungan penari dan helai rambut pada topeng terlihat sangat tajam, sementara skin tone penari tetap terlihat natural di bawah bayangan matahari siang.
Zoom 10x (230mm)
Kemampuan optical-nya memang pada perbesaran 5x, namun di perbesaran 10x secara hybrid-zoom, Poco F8 Ultra tetap kasih gambar yang ready-to-post.
Berkat sensor 50 MP pada lensa periskopnya, detail kecil dari objek yang jauh pun masih terlihat jelas. Seperti tulisan kecil atau pipa-pipa instalasi di atas kapel tanker yang sedang bersandar di Pelabuhan Benoa.
Kamera ini juga mampu membuat efek seolah objek depan dan latar belakang, seperti menjadi dekat dengan latar yang padat. Alhasil, kami pun bisa merekam kesibukan aktivitas di sekitaran Pelabuhan Benoa menggunakan kamera Poco F8 Ultra.
Berkat OIS pula, membidik pesawat yang bersiap untuk mendarat atau orang yang sedang bergelantungan di parasut, dapat terekam dengan bagus. Hasil fotonya tetap tajam, minim noise, dan warnanya tidak pudar, membuktikan kalau fitur perbesarannya bukan sekadar gimmick saja.
Zoom 20x (460mm)
Di perbesaran digital sejauh ini, kami nothing to lose sebenarnya. Kalau bagus syukur, jelek pun tidak apa-apa. Apalagi, motret sejauh ini juga butuh tangan yang stabil, walau secara hardware sudah ada OIS untuk membantu stabilisasinya.
Namun, saat membidik pesawat yang melintas lumayan cepat, hasilnya malah di luar dugaan. Memang secara detail nggak bagus-bagus amat dibanding perbesaran 10x apalagi 5x, namun tulisan dan warna pesawat masih terlihat jelas dengan kontras yang tetap punchy dengan langit biru.
Algoritma pemrosesan gambarnya pun secara pintar dapat merapikan garis-garis pinggir pesawat, sehingga tidak terlihat ‘bergerigi’. Yang kami salut adalah warnanya yang sama sekali tidak ‘hancur lebur’ seperti lukisan cat minyak.
Poco F8 Ultra sendiri tersedia dalam opsi warna Denim Blue dan Black, dibanderol dengan harga USD729 atau setara Rp12,1 jutaan untuk versi 12/256 GB dan USD799 atau Rp13,3 jutaan untuk model 16/512 GB. Kabar baiknya, Poco juga kasih harapan kalau F8 Ultra dan F8 Pro, akan dipasarkan resmi di Indonesia.





