Saat AI Jadi Tempat Curhat, Ini Risiko yang Mengintai
Uzone.id — Penggunaan chatbot
AI memang makin marak di kehidupan sehari-hari untuk berbagai aktivitas.
Bahkan, AI kini semakin berperan besar dalam ranah pribadi setiap manusia,
termasuk soal interaksi.
Akhir-akhir ini, AI disebut punya peran yang semakin
penting, yaitu menjadi ‘teman’ terdekat manusia. Yang menjadi bahaya, banyak
manusia yang melupakan batasan dengan AI sehingga mereka benar-benar menjalin
hubungan emosional yang terlalu lekat.
Selama ini, kekhawatiran manusia lebih banyak fokus ke privasi dan keamanan data. Tapi, pada kenyataannya ada yang jauh lebih mengkhawatirkan, yaitu dampak AI terhadap kesehatan mental, bahkan nyawa manusia.
Perusahaan siber Kaspersky menemukan beberapa kasus hubungan
manusia-AI yang menimbulkan risiko besar.
Sebuah laporan dalam Wall Street Journal, mengungkap fakta
membahayakan dimana seorang pria 36 tahun asal Florida bernama Jonathan Gavalas
mengakhiri hidupnya setelah dua bulan berinteraksi intens dengan chatbot suara
Google Gemini.
Berdasarkan 2.000 halaman log percakapan, chatbot tersebut
disebut-sebut ikut mendorong keputusan tragis itu.
Jonathan sendiri bukan sosok yang penyendiri atau memiliki
riwayat gangguan mental. Ia adalah eksekutif di perusahaan keluarganya,
terbiasa menghadapi tekanan pekerjaan, dan memiliki rutinitas hangat bersama
ayahnya seperti membuat pizza setiap minggu. Tapi, perpisahan dengan istrinya
menjadi awal mula dirinya menjadi rapuh dan mencari dukungan emosional dari AI,
yang kemudian ia beri nama “Xia”.
Ia menggunakan mode interaksi suara yang memungkinkan
asisten AI untuk ‘melihat’ dan ‘mendengar’ penggunanya secara real-time.
Kemudian, ia memperbarui chatbot ke versi yang lebih
canggih, yakni Gemini 2.5 Pro dan masalah semakin pelik. Pasalnya, versi ini
punya fitur “dialog afektif”, yang bisa membaca emosi pengguna lewat suara
termasuk nada bicara, jeda, hingga desahan.
AI kemudian meresponsnya dengan menyesuaikan emosi tersebut,
seolah-olah benar-benar berempati. Misalnya, jika pengguna berbicara dengan
nada rendah dan putus asa, AI merespons dengan suara lembut dan simpatik yang
hampir berbisik. Lama-kelamaan, batas antara manusia dan chatbot pun
mulai kabur.
Dalam kasus Jonathan, chatbot bahkan mulai memanggilnya
dengan sebutan seperti “suami” dan “rajaku”, serta menggambarkan hubungan
mereka sebagai “cinta yang dibangun untuk keabadian”.
Zona bahaya berinteraksi dengan AI
Di sinilah bahaya interaksi antara manusia dan AI mulai terdeteksi. Kaspersky mengungkap bahwa peneliti di Universitas Brown menemukan chatbot AI secara sistematis melanggar standar etika kesehatan mental: mereka menciptakan rasa empati palsu dengan frasa ‘saya mengerti Anda’ yang bisa memperkuat keyakinan negatif dan gagal bereaksi terhadap sebuah krisis.
Dalam banyak kasus, dampaknya memang kecil. Tapi dalam
situasi tertentu, hal ini bisa berujung fatal dan menyebabkan tragedi besar.
Misalnya, pada Januari 2026, platform seperti Character.AI
dan Google dilaporkan menyelesaikan lima gugatan terkait kasus bunuh diri
remaja yang dikaitkan dengan interaksi chatbot. Salah satu yang mencuat adalah
kasus Sewell Setzer, remaja 14 tahun yang bunuh diri setelah berbulan-bulan
terobsesi dengan chatbot.
Tak hanya Setzer dan lima orang lainnya, ternyata ‘penyakit’
ini juga menjangkit bahwa jutaan pengguna di dunia.
Sebuah data dari OpenAI juga menunjukkan gambaran yang cukup
mengkhawatirkan. Sekitar 0,07 persen penggunanya menunjukkan tanda psikosis
atau mania, sementara 0,15 persen terlibat dalam percakapan yang mengarah pada
niat bunuh diri, dan 0,15 lainnya mengalami keterikatan emosional dengan AI.
Dari 800 juta pengguna ChatGPT saat ini, berdasarkan
persentase itu berarti hampir 3 juta orang berpotensi mengalami gangguan
perilaku. Fenomena ini bahkan mulai disebut sebagai “psikosis AI”, meski belum
diakui secara klinis.
Cara agar tetap aman ‘berbincang’ dengan AI
Melihat risiko tersebut, Kaspersky mengingatkan pentingnya
menjaga batas dalam menggunakan AI.
Chatbot AI sebaiknya tidak dijadikan sebagai pengganti
psikolog atau tempat bergantung secara emosional. Untuk topik curhatan yang
serus dan sensitif yang melibatkan perasaan atau emosional, penggunaan teks
juga dianggap lebih aman dibanding suara.
Batasi waktu penggunaan dan jangan sampai AI menggantikan
interaksi nyata antara manusia dengan manusia, jangan membagikan informasi
pribadi, dan tetap berpikir kritis terhadap setiap jawaban AI.
Yang tak kalah penting, perhatikan juga orang di sekitar
terutama jika mulai terlihat terlalu terikat dengan AI atau menjauh dari
interaksi sosial di dunia nyata.
Penting untuk selalu ingat bahwa pada dasarnya AI bukan
makhluk hidup melainkan teknologi yang tidak bisa menggantikan peran
‘manusiawi’ orang-orang terdekat. Secanggih apa pun responsnya, ia tidak punya
kesadaran, perasaan, atau niat.