Games

Rp1,2 T Buat IT BGN, Lebih Mahal dari Ongkos Bikin Black Myth: Wukong!

Muhammad Faisal Hadi Putra
Rp1,2 T Buat IT BGN, Lebih Mahal dari Ongkos Bikin Black Myth: Wukong!

Uzone.id - Anggaran pengadaan sistem IT untuk Sistem Informasi Pemenuhan Gizi Nasional (SIPGN) milik Badan Gizi Nasional (BGN) yang mencapai Rp1,2 triliun menjadi sorotan tajam. Bagaimana tidak, anggaran sebesar itu bahkan bisa menyaingi atau malah melampaui ongkos produksi game dengan grafis sekelas AAA, lho!

Biar ada gambaran, mari kita hitung-hitungan sedikit. Dengan kurs dolar AS (USD) saat ini yang berada di angka Rp17.320, maka bujet Rp1,2 triliun atau kurang lebih USD70 juta ini hampir menyamai total ongkos produksi game sekelas Alan Wake yang memakan dana sekitar USD75 juta atau setara Rp1,29 triliun, dikutip dari Gamerant.


Bahkan, kalau dibandingkan dengan beberapa game lainnya, dana IT BGN ini justru terlihat lebih mahal. Ambil contoh Ghost of Tsushima, biaya produksi game besutan Sucker Punch ini 'hanya' di kisaran USD60 juta atau sekitar Rp1,03 triliun dikutip dari GamesRadar


Bujet SIPGN juga masih melampaui ongkos pengembangan Horizon Zero Dawn yang berada di rentang USD45-47 juta atau sekitar Rp779-814 miliar.

Malah, dengan duit Rp1,2 triliun, kita nyaris bisa bikin dua game Black Myth: Wukong. Dicatut dari IGN, pengembangan perjalanan kera sakti itu menelan dana USD43 juta atau sekitar Rp744 miliar.


Memang, jika disandingkan dengan biaya pengembangan game lain seperti The Witcher 3 atau Ratchet and Clank: Rift Apart yang masing-masing menghabiskan modal sekitar USD81 juta atau setara Rp1,38 triliun, seperti dilansir dari PCGamer, anggaran pengadaan SIPGN ini masih jauh di bawahnya.


Apalagi kalau dibandingkan Cyberpunk 2077 yang pengembangannya mencapai USD125 juta atau lebih dari Rp2,14 triliun, seperti dikutip IGN. Namun dengan anggaran se-fantastis ini, secanggih apa sih SIPGN dari BGN ini?

Kepala BGN, Dadan Hindayana pun angkat bicara. Menurutnya, anggaran jumbo di tahun 2025 ini tidak dieksekusi sembarangan, melainkan diawasi dengan sangat ketat serta mengacu pada regulasi yang berlaku demi menjamin keamanan data nasional.

Ia merinci, dari total pagu anggaran Rp1,2 triliun tersebut, realisasi pemakaiannya saat ini baru dialokasikan untuk dua pos kebutuhan krusial.

Pertama, sekitar Rp550 miliar dikucurkan murni untuk pengembangan aplikasi SIPGN yang di dalamnya mencakup berbagai macam modul kelola. Kedua, ada dana tambahan di kisaran Rp199 miliar yang dipakai khusus untuk penyediaan layanan managed service perangkat Internet of Things (IoT).

Adapun, untuk meracik dan mengeksekusi proyek sistem ini, BGN menunjuk Perum Peruri sebagai mitra strategis utamanya. high security

Pemilihan ini bukan tanpa alasan. Menurut Dadan, masyarakat harus tahu kalau Peruri saat ini sudah jauh bertransformasi menjadi perusahaan teknologi high security, bukan sekadar urusan cetak-mencetak uang negara.

"Hal ini sesuai dengan mandat Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 6 Tahun 2019 yang memberikan wewenang kepada PERURI sebagai penyedia solusi digital sekuriti bagi instansi pemerintah," ujar Dadan di Jakarta, dikutip dari situs resmi BGN.

Posisinya makin kuat lantaran Peruri juga sudah ditunjuk sebagai GovTech Indonesia lewat Perpres Nomor 82 Tahun 2023 untuk memimpin ekosistem Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE).

Sementara itu, menanggapi isu teknis pada Sistem Pengadaan Secara Elektronik (SPSE) yang sempat jadi perbincangan, pihak BGN memastikan bahwa seluruh tahapan administrasinya tetap berjalan lurus di koridor hukum.

"Seluruh proses kerja sama dengan BGN dijalankan secara transparan, sesuai dengan regulasi yang berlaku, serta mengedepankan prinsip Good Corporate Governance (GCG). Kami memastikan tidak ada celah bagi penyimpangan karena ini menyangkut kedaulatan data gizi rakyat Indonesia," pungkasnya.