Telco

Router Impor Dibatasi AS, Pasar WiFi Terancam?

Hani Nur Fajrina
Router Impor Dibatasi AS, Pasar WiFi Terancam?

Uzone.id – Kebijakan baru pemerintah Amerika Serikat soal perangkat jaringan mulai memicu kekhawatiran global. Regulator telekomunikasi mereka, Federal Communications Commission (FCC), resmi membatasi impor dan penjualan router WiFi baru dari luar negeri, langkah yang bukan hanya soal teknologi, tapi juga keamanan nasional.

Keputusan ini diumumkan belum lama ini dan langsung mengguncang industri. Dalam praktiknya, FCC tidak lagi memberikan sertifikasi untuk router baru buatan luar negeri. Artinya, perangkat tersebut tidak bisa dipasarkan secara legal di AS.

Pemerintah AS menilai router bukan lagi sekadar perangkat rumah tangga, melainkan pintu masuk utama ke jaringan digital. Jika perangkat ini disusupi, dampaknya bisa meluas.

“Aktor jahat telah memanfaatkan celah keamanan pada perangkat jaringan,” tutur perwakilan FCC, mengutip Network World.


Pernyataan ini merujuk pada meningkatnya serangan siber yang menargetkan perangkat jaringan, termasuk router rumahan dan enterprise.

Beberapa operasi siber besar seperti Volt Typhoon dan Salt Typhoon disebut memanfaatkan kelemahan perangkat jaringan untuk mengakses infrastruktur penting. Karena itu, kontrol terhadap perangkat ini dianggap krusial.

Menariknya, kebijakan ini tidak hanya menyasar produsen dari China. Aturannya lebih luas: router yang diproduksi di luar AS berpotensi terdampak, termasuk merek global yang produksinya berbasis di Asia.

Padahal, menurut laporan Reuters, sekitar 60 persen pasar router di AS bergantung pada produk impor.

Artinya, kebijakan ini berpotensi mengganggu rantai pasok secara signifikan.



Sejumlah analis industri memperingatkan dampak langsung dari kebijakan ini. Pasokan bisa terganggu, sementara permintaan tetap tinggi.

Seperti disebutkan oleh analis di Light Reading, kebijakan ini berpotensi menyebabkan gangguan pasokan dan kenaikan harga perangkat.

Selain itu, produsen juga tidak bisa serta-merta memindahkan pabrik ke AS. Proses relokasi manufaktur butuh waktu dan biaya besar, yang pada akhirnya bisa dibebankan ke konsumen.

Efek ke Indonesia, bagaimana? Secara langsung, kebijakan FCC tidak berlaku di Indonesia. Namun karena industri router sangat global, dampak tidak langsung tetap mungkin terasa.

Untuk saat ini, pasar Indonesia masih dianggap terbuka dan belum ada kebijakan pembatasan serupa. Namun, tren global menunjukkan arah yang jelas, keamanan semakin diutamakan, dan regulasi bisa semakin ketat ke depan. Indonesia pun berpotensi mengikuti langkah serupa, setidaknya dalam bentuk sertifikasi atau pengawasan yang lebih ketat.