Telco

Roadmap AI di Indonesia: Rencana Besar, Infrastruktur Jadi PR

Hayyitita Nastatih
Roadmap AI di Indonesia: Rencana Besar, Infrastruktur Jadi PR

Uzone.id - Pemerintah memaparkan roadmap pengembangan kecerdasan buatan (AI) di Indonesia dalam acara Telkom Enterprise Solution Day 2025 di Jakarta, Kamis (21/8). Fokus utamanya adalah membangun infrastruktur fundamental untuk mengejar visi Indonesia Emas 2045.

Hal ini disampaikan Director of AI & New Technology Ecosystem Komdigi, Aju Widya Sari. Menurutnya, roadmap AI di Indonesia akan difokuskan pada pengembangan jaringan serat optik, percepatan transformasi digital, peningkatan indeks teknologi informasi dan komunikasi (ICT), serta penyediaan kebutuhan energi yang stabil untuk mendukung pengoperasian pusat data berskala besar.

“Kita perlu memastikan ketersediaan infrastruktur hijau dan super green untuk mendukung pertumbuhan data center AI”, ujarnya.


Salah satu program utama dalam visi Indonesia Emas 2045 adalah membangun ekosistem AI yang etis dan bertanggung jawab guna memperkuat daya saing Indonesia di tingkat global.

Untuk mencapai visi ini, pemerintah menetapkan dua tujuan utama. Pertama, mengakselerasi pertumbuhan ekonomi dengan mengintegrasikan AI ke dalam program prioritas Presiden dan inisiatif Asta Cita—delapan program unggulan pemerintah.

Dan kedua, memperkuat daya saing Indonesia di panggung global, khususnya dalam hal pengembangan dan adopsi teknologi AI secara luas.

  1. Adapun strategi yang akan dijalankan oleh Komdigi meliputi:
    Mengoptimalkan pemanfaatan infrastruktur jaringan mulai dari backbone, middle mile, hingga last mile untuk mendorong pertumbuhan ekonomi digital dan meningkatkan kontribusi AI terhadap pembangunan nasional.
  2. Mengembangkan infrastruktur komputasi serta memperluas akses internet melalui kolaborasi lintas sektor, demi mendukung ekonomi digital yang inklusif.

Perspektif dari pelaku industri

Sementera itu, Director of Planning & Transformation Telkomsel, Wong Soong Nam, mengatakan bahwa pemanfaatan AI berperan penting dalam memperkuat layanan pelanggan, manajemen jaringan, serta pengembangan solusi bersama mitra bisnis.

Saat ini, Telkomsel telah mengintegrasikan teknologi AI ke dalam jaringan internal, serta membentuk unit khusus untuk mendorong adopsi AI di kalangan pelanggan korporat.

Managing Director International OpenAI, Oliver Jay, juga menekankan kunci transformasi digital terletak pada eksekusi nyata. Meskipun banyak perusahaan telah menyediakan berbagai alat berbasis AI, dampaknya hanya akan terlihat jika adopsi dilakukan secara masif.

“Adopsi adalah kriteria krusial. Tanpa adopsi, tidak akan ada dampak maupun ROI,” tegasnya.


Di sisi lain, Vice President Group Strategy, Engineering and Innovation Singtel, Yu Leong Lim, menekankan kesiapan infrastruktur 5G menjadi faktor penting untuk percepatan adopsi AI.

“Mengimplementasikan 5G di negara sebesar Indonesia tentu memiliki tantangan tersendiri, termasuk terkait investasi dan jarak geografis,” ujarnya.

Jaringan 5G di Indonesia baru menjangkau sekitar 8,92 persen dari populasi, jauh berbeda dibandingkan dengan 2G yang telah mencakup 99,40 persen, 3G sebesar 1,68 persen, dan 4G mencapai 99,15 persen."

Saat ini, tingkat penetrasi internet di Indonesia mencapai 80,66 persen, dengan kapasitas pusat data sekitar 1,5 watt per kapita.

Angka tersebut menunjukkan bahwa kapasitas pusat data per kapita di Indonesia masih tertinggal cukup jauh dibanding negara-negara seperti Jepang yang telah mencapai 10 watt per kapita dan Singapura yang bahkan melampaui 100 watt per kapita.

Hal ini mencerminkan tantangan nyata dalam kesiapan infrastruktur digital Indonesia, sekaligus menggarisbawahi pentingnya percepatan investasi strategis di sektor ini.

Tanpa infrastruktur digital yang memadai khususnya dalam hal pusat data dan pasokan energi, upaya Indonesia untuk menjadi pemain utama dalam pengembangan dan pemanfaatan teknologi AI akan sulit untuk direalisasikan secara optimal.