Digilife

RI Jadi Target Empuk, Serangan Backdoor Tertinggi di ASEAN

Vina Insyani
RI Jadi Target Empuk, Serangan Backdoor Tertinggi di ASEAN

Uzone.id — Ancaman siber terhadap bisnis di Asia Tenggara terus meningkat selama beberapa tahun terakhir, terutama dari serangan backdoor. Sepanjang 2025, solusi milik Kaspersky mendeteksi dan memblokir lebih dari 3 juta serangan jenis ini di kawasan tersebut.

Serangan berjenis backdoor sendiri merupakan celah yang memungkinkan penyerang mendapatkan akses administrasi dari jarak jauh ke perangkat korban secara sembunyi-sembunyi. 

Berbeda dengan alat resmi, backdoor bekerja secara diam-diam tanpa sepengetahuan pengguna. Setelah masuk, penyerang bisa mengirim, menerima, mengeksekusi, hingga menghapus file, serta mencuri data sensitif dan memantau aktivitas perangkat.

Sederhananya, penjahat menciptakan “pintu belakang” ke dalam sistem atau perangkat tanpa diketahui pemiliknya.




Adrian Hia, Managing Director Kaspersky  Asia Pasifik mengatakan bahwa secara keseluruhan, bisnis di Asia Tenggara mengalami peningkatan serangan backdoor sebesar 17 persen pada tahun 2025 dibandingkan tahun 2024.

“Meningkatnya deteksi ini, menyoroti pergeseran kritis dalam lanskap ancaman di seluruh Asia Tenggara, dari “menerobos ke dalam sistem” menjadi “bertahan di dalam sistem”. Bagi bisnis, ini menggarisbawahi pentingnya pemantauan berkelanjutan, deteksi canggih, dan kemampuan respons cepat untuk mengungkap akses tersembunyi dan mencegah serangan siber berkelanjutan,” tambahnya.

Dari total kasus yang tercatat, Indonesia menjadi negara dengan jumlah deteksi tertinggi, yaitu mencapai 1.583.035 kasus. Angka ini jadi yang paling tinggi se-Asia Tenggara diikuti Vietnam dengan 1.296.924 kasus.

Sementara itu, Thailand mencatat 251.502 kasus, Malaysia 212.239, Singapura 50.511, dan Filipina 35.232. Secara total, kawasan Asia Tenggara mencatat 3.429.443 deteksi serangan backdoor pada 2025.

Jika dilihat dari tren tahunan, selain jumlahnya yang tinggi, ternyata peningkatan serangan ini juga cukup signifikan dibandingkan tahun lalu.

Malaysia mencatat lonjakan tertinggi sebesar 86 persen, diikuti Indonesia sebesar 36 persen, dan Vietnam 3 persen. Sementara itu Thailand tidak mengalami perubahan dimana serangan tahun ini dan tahun sebelumnya tetap sama. 

Beda dengan negara lain yang terus jadi sasaran empuk, Singapura dan Filipina justru mencatat penurunan serangan masing-masing sebesar 49 persen dan 35 persen.

Selain serangan backdoor, Kaspersky juga mencatat lebih dari 46 juta ancaman lain pada perangkat di lingkungan bisnis Asia Tenggara sepanjang tahun lalu. Ancaman ini umumnya menyebar melalui metode offline, seperti USB, CD, DVD, atau file yang belum dibuka, termasuk installer kompleks dan file terenkripsi.




Meski secara keseluruhan terjadi penurunan sebesar 6 persen untuk serangan perangkat B2B, Vietnam, Indonesia, dan Thailand tetap menjadi negara dengan volume ancaman tertinggi pada 2025.

Indonesia sendiri mencatat 14.136.184 deteksi, sementara Vietnam mencapai 21.561.107 dan Thailand 4.632.103. Total ancaman perangkat di Asia Tenggara mencapai 46.474.714 kasus.

Menurut Kaspersky, posisi Asia Tenggara sebagai simpul penting dalam rantai pasokan global membuat kawasan ini terus menjadi target utama serangan siber. Kondisi ini juga diperparah oleh tren kerja jarak jauh dan hybrid yang sering melibatkan perangkat yang tidak terkelola, sehingga memperluas potensi celah keamanan.

Untuk mengurangi risiko serangan, Kaspersky pun menghimbau perusahaan untuk rutin memperbarui perangkat lunak, melakukan pencadangan data secara berkala, serta menggunakan solusi keamanan yang mampu mendeteksi dan merespons ancaman dengan cepat. 

Selain itu, perusahaan juga disarankan memanfaatkan intelijen ancaman terbaru serta layanan analisis dan respons insiden untuk memperkuat sistem keamanan mereka.