Review Poco X8 Pro: Spek 'Rata Kanan', Tapi Harus Akrab Sama Iklan
Uzone.id - Poco masih dengan pakemnya, khususnya untuk seri X dan juga F. Termasuk Poco X8 Pro yang baru rilis di Indonesia, yang dibanderol dengan harga yang ekstrem tapi punya spesifikasi ‘rata kanan’ di kelasnya.
Bayangkan, harga mulai Rp4,9 jutaan saja, Poco X8 Pro kasih performa tinggi, layar yang terbilang premium, dan kapasitas baterai yang besar dengan fast charging tembus 100W.
Tapi, dengan harga yang se-ekstrem ini, pasti ada kompromi yang harus diterima oleh pengguna. Tim Uzone.id sudah menggunakan Poco X8 Pro selama seminggu, jadi berikut review lengkap kami setelah memakainya sebagai perangkat harian, membeberkan apa saja kelebihan dan kekurangan ponsel ini.
Desainnya simple tapi tangguh
Smartphone yang pas dalam genggaman memang sedang ngetren saat ini. Poco pun melakukan hal yang sama, memperkecil ukuran layar X8 Pro ketimbang seri sebelumnya, membuatnya lebih pas dalam genggaman.
Dibanding Poco X7 Pro yang bawa layar 6,67 inci, smartphone ini mengusung layar 6,59 inci. Bodinya dibuat flat, tapi sudut-sudutnya dibikin lebih membulat, beda jauh dari sebelumnya yang cenderung menyiku.
Memang pas dalam genggaman, tapi soal bobot dan ketebalan, justru sedikit lebih bulky ketimbang Poco X7 Pro. Di atas kertas, Poco X8 Pro 0,1 mm lebih tebal dengan bobot sekitar 6,5 gram dari X7 Pro. Hal ini sebenarnya bisa dimengerti, lantaran smartphone ini ditopang baterai 6.500 mAh yang besar—500 mAh lebih besar dari X7 Pro.
Boleh murah, tapi soal build quality memang jempolan. Sasis Poco X8 Pro dibuat dari bahan aluminium, diapit oleh panel kaca yang berlapis Gorilla Glass 7i di bagian depan.
Belum cukup, smartphone ini juga sudah mengantongi rating IP66, IP68, IP69, dan IP69K, yang berarti tahan air hingga kedalaman 1,5 meter selama 30 menit dan semprotan air bertekanan tinggi.
Simple, satu kata yang pas buat menggambarkan desain belakang Poco X8 Pro. Cuma ada tiga warna, Mint Green yang kami review, White, serta Black, yang seluruhnya punya finishing matte yang halus dan tidak gampang kotor oleh bekas sidik jari.
Nah, biar kelihatan standout, Poco ngide untuk menghadirkan Dynamic RGB Lights. Jadi, terdapat dua ring lampu yang disematkan di sekeliling lensa kamera, yang bisa menyala dalam 8 warna berbeda. Fungsinya bisa kalian atur sendiri lewat menu Settings, bisa saat bermain game, notifikasi, mendengarkan musik, penanda kamera, hingga saat ada panggilan telepon.
Cuma kurangnya satu, paparan lampu tersebut cenderung agak murahan. Cahayanya tidak mulus mengalir ke sekelililing kamera, melainkan seperti tumpukan garis-garis yang melingkar di sekeliling kamera. Beruntung, kalian bisa mematikan fitur ini, atau mengurangi tingkat kecerahannya.
Untuk tata letak tombol, sisi kiri polos, sementara sisi kanan diisi tombol volume dan power. Bagian atas ada mikrofon dan IR blaster khas ponselnya Xiaomi, Redmi, atau Poco. Di bawah, kalian bakal menemukan port USB-C, slot dual nanoSIM, mikrofon utama, dan lubang speaker kedua.
Sekarang sedikit membahas soal layar. Poco X8 Pro bawa layar yang terbilang premium di kelasnya. Panel AMOLED ini suguhkan resolusi yang bukan kaleng-kaleng, tembus 1.268 x 2.756 piksel, di mana kedalaman warnanya mencapai 68 miliar warna atau 12-bit.
Dukungan HDR10+ dan Dolby Vision juga ada, lengkap dengan refresh rate 120Hz, touch sampling rate 480Hz, hingga in-display fingerprint. Mewah kan? Klaim Xiaomi pun, tingkat kecerahannya tembus 3.500 nits pada peak mode.
Performa 'rata kanan' di kelasnya
Hal spesial lainnya dari Poco X8 Pro, performa. Boleh dibilang, chipset yang digunakan sudah ‘rata kanan’ di kelasnya, bahkan lebih premium dari smartphone high-end Xiaomi sekalipun, seperti Xiaomi 15T.
Poco X8 Pro jadi yang pertama dengan chipset Dimensity 8500 Ultra, yang di atas kertas performanya naik kelas dibanding Dimensity 8400 Ultra pada Poco X7 Pro atau Xiaomi 15T.
Bicara teknisnya, chip 4nm ini mengusung konfigurasi CPU 1-core Cortex-A725 berkecepatan 3,4 GHz, ditambah 3-core pada kecepatan 3,2 GHz, dan 4-core untuk efisiensi dengan kecepatan 2,2 GHz. Untuk urusan grafis, GPU Mali-G720 MC8 juga menjanjikan visual yang lebih lancar.
Gak cuma kencang di prosesor, Poco juga memberikan jeroan yang serba cepat lewat RAM LPDDR5X dan memori internal UFS 4.1. Adapun, unit Poco X8 Pro yang kami review punya RAM 12 GB dengan memori penyimpanan 512 GB.
Dites menggunakan beberapa aplikasi benchmark, angkanya benar-benar buas. Di AnTuTu versi 11, Poco X8 Pro tembus skor fantastis di 2.269.388 poin. Skor setinggi ini tentu saja impresif, mengingat harganya yang dibanderol mulai dari Rp4,9 jutaan. Info saja, versi 12/512 GB yang kami review sendiri dibanderol Rp5,7 jutaan.
Sementara di Geekbench 6, skor single-core ada di 1.706 poin dan multi-core di 6.607 poin. Skor GPU OpenCL-nya mencapai 13.974 poin, yang artinya buat gaming berat harusnya tidak ada kendala berarti.
Cuma, performa tinggi tentu saja punya konsekuensi tersendiri. Terbukti saat kami paksa kinerjanya terus-menerus lewat 3DMark pada skema Wild Life Stress Test yang melakukan pengujian secara simultan sampai 20 menit tanpa henti.
Skor tetingginya mencapai 13.440 poin dengan tingkat stabilitas 72,6 persen. Dari grafis, memang performanya cukup konsisten, di mana penurunan kinerjanya tak terjadi secara drastis, melainkan melandai hingga skor 9.764 poin pada lowest score.
Tapi, suhu perangkat jadi catatan penting pada pengujian ini. Dari tes yang kami lakukan, suhu Poco X8 Pro melonjak dari 32°C ke 50°C.
Baterainya pun terkuras, dari 17 persen tersisa hanya 6 persen. Jadi, kalau kalian mau main game kompetitif dalam durasi lama, sangat disarankan pakai cooling fan tambahan atau jangan dipaksa di setelan paling mentok kalau tidak mau tangan terasa 'hangat'.
Di bagian baterai, seperti yang kami tulis di awal, Poco X8 Pro ditopang baterai 6.500 mAh. Yang hebat, Poco X8 Pro sudah mendukung 100W HyperCharge, bahkan bisa jadi powerbank dadakan dengan daya yang dikeluarkan mencapai 27W. Nah, buat ngecas sampai penuh cukup 40 menitan saja kok, cepat kan?
Ini kompromi terbesarnya
Poco X8 Pro sudah berjalan di HyperOS 3 berbasis Android 16. Fitur ini punya segudang AI, yang bisa bantu pekerjaan sehari-hari, hingga urusan kreativitas untuk membuat ilustrasi visual hingga wallpaper.
Beberapa fitur AI yang sangat berguna selama menggunakan Poco X8 Pro, seperti transkrip rekamana suara ke berbagai bahasa. Bukan cuma Bahasa Indonesia dan Inggris saja, Bahasa Korea, China, Thailand, Jepang, Jerman, dan belasan bahasa lainnya juga bisa.
Kemudian ada AI Dynamic Wallpaper. Dengan fitur ini, kalian bisa mengubah foto menjadi live wallpaper, cuma dengan beberapa langkah saja.
Fitur lainnya, Poco X8 Pro juga bisa nyambung secara seamless ke perangkat Mac. Di MacBook misalnya, kalian tinggal install Xiaomi Interconnectivity, login ke akun Xiaomi, otomatis perangkat yang tersambung ke akun XIaomi yang sama bakal terhubung ke Mac kalian.
Dengan fitur ini, bukan saja transfer file yang begitu seamless karena tinggal drag and drop saja, tapi juga mengatur ponsel langsung dari layar Mac.
Cuma, di balik asyik dan kencangnya ponsel ini, HyperOS 3 di Poco X8 Pro menyimpan kekurangan besar yang sejujurnya bikin enggan lama-lama pakai ponsel ini. Kekurangan tersebut adalah iklan. Bayangkan, tiap kali buka File Manager, iklannya keluar. Beralih antar Folder, iklan lagi keluar.
Memilih ringtone saja, iklan pun keluar yang terkadang muncul hitung mundur selama 5 detik agar bisa ditutup. Memutar musik di aplikasi Music, iklan juga muncul dan cukup sulit ditutup. Bahkan, aplikasi Security yang notabene untuk keamanan, iklannya pun berlapis.
Akhirnya kami merasa, “Ini smartphone udah kena adware dari awal apa gimana sih?” Iklan tersebut intinya bakalan muncul di setiap kali kalian mengakses aplikasi bawaan atau fitur-fitur yang langsung terhubung ke GetApps atau Themes bawaan Xiaomi.
Belum cukup dengan iklan, bloatware aplikasi ini pun segudang dan cenderung ‘memaksa’ biar dipasang di smartphone. Kebanyakan game, dan lumayan PR buat menghapusnya satu persatu.
Kamera lumayan juga
Poco pun nggak mau tanggung di sektor kamera. Meski secara konfigurasi memang bukan yang paling lengkap, tapi sensor yang dipakai pada kamera utama bisa dibilang cukup mumpuni.
Kamera utamanya menggunakan sensor 50MP Sony IMX 882, atau yang lebih dikenal sebagai LYT 600, dengan bukaan lensa f/1.5 yang lebar dan sudah dilengkapi OIS. Poco juga menyebutnya sebagai Light Fusion 600.
Hasil jepretannya ternyata bagus. Fotonya punya dynamic range dan kontras yang luas. Reproduksi warnanya juga terasa hidup—dibuat lebih vibrant atau punchy—yang ready to post ke media sosial.
Detailnya pun cukup tajam, bahkan saat kami mencoba melakukan perbesaran menggunakan in-sensor zoom sebanyak 2x. Yang menarik, kamera utama ini juga bisa memotret objek dari jarak yang lumayan dekat, kira-kira sekitar 9-10 cm. Detailnya pun tajam, dengan efek bokeh yang cukup natural, meski ponsel ini tidak punya lensa makro.
Ada pula kamera ultrawide dengan sensor 8 MP. Standar memang, tapi keluaran warnanya terbilang konsisten, cukup oke lah untuk ponsel yang mementingkan sektor performa.
Di depan, Poco sematkan sensor 20 MP dengan lensa yang lebih lebar, di mana focal length-nya setara 21mm. Saat coba mengambil swafoto, karakter warnanya cenderung agak warm, yang justru bikin kulit warna jadi agak lebih cerah.
Natural? Kurang bisa dibilang demikian, lantaran kulit pun dibuat agak halus oleh sistem pencitraannya. Yang patut diapresiasi, selfie dengan kamera menghadap sinar matahari langsung, ternyata bisa diantisipasi oleh sensor dan sistem pencitraan ponsel ini.
Hasil foto Poco X8 Pro:
Kesimpulan
Poco X8 Pro sebenarnya bisa disebut ponsel paket lengkap buat kalian yang memuja performa di atas segalanya. Poco X8 Pro cocok buat kaum mending yang sering bilang “Mendingan ini lah, harga lebih murah tapi kencang, daripada itu,” dan berbagai alasan lainnya.
Dengan harga mulai Rp4,9 jutaan, kalian dapat chipset Dimensity 8500 Ultra yang bertenaga, layar premium, baterai jumbo 6.500 mAh, hingga desain yang tidak urakan dan nyaman digenggam.
Tapi, ada kompromi yang memaksa penggunanya berdamai dengan keadaan. Iklan di HyperOS 3 yang agresif, sejujurnya kalau buat kami, benar-benar mengurangi experience penggunaan secara keseluruhan.
Tapi jika kalian bisa berkompromi dengan itu, agaknya sulit menemukan lawan sebanding yang menawarkan spesifikasi sebuas ini di rentang harga yang sama.
