Gadget

Review iQOO 15: Bukan Sekadar HP Gaming, Kamera Tele-nya Sadis!

Muhammad Faisal Hadi Putra
Review iQOO 15: Bukan Sekadar HP Gaming, Kamera Tele-nya Sadis!

Uzone.id - iQOO boleh saja memposisikan iQOO 15 sebagai performance phone. Tapi buat kami, iQOO 15 sudah masuk ke dalam kategori flagship, yang menawarkan fitur serta spesifikasi all-rounder

Mau kencang bisa, dipakai motret juga bagus, desainnya pun terbilang mewah—gak kalah dengan smartphone flagship lainnya, dan yang pasti dijual dengan harga mencapai dua digit, bahkan lebih mahal dari generasi sebelumnya.

Di Indonesia, iQOO 15 tersedia dalam tiga varian, Model terendah dengan RAM 12 GB dan memori 256 GB dijual Rp12.999.000, atau naik Rp3 juta dari seri sebelumnya. iQOO 15 juga tersedia dalam opsi 16/512 GB dengan harga Rp13.999.000 yang lagi-lagi naik dari sebelumnya, serta versi terbaru 16 GB dan 1 TB yang dijual Rp15.999.000.



Pertanyaannya satu, harganya naik, tetap worth-it nggak sih? Kami sudah pakai iQOO 15 sebagai perangkat harian selama beberapa minggu. Kami akan jabarkan impresi lengkap pakai smartphone ini dalam review iQOO 15 berikut ini. 

Sayang, sudah tak ada logo ‘BMW M Motorsport’


Seperti generasi sebelumnya, iQOO 15 tampil dalam dua varian warna, ada putih yang disebut Legend dan hitam klasik bertekstur matte yang disebut Alpha. Kalau tahun-tahun sebelumnya, kami lebih senang warna putih karena ada logo ‘BMW M Motorsport’, tapi tahun ini beda. 


Warna Legend pada iQOO 15 kehilangan logo prestisius tersebut, entah apa penyebabnya. Sekarang, kami lebih suka warna Alpha, lebih klasik dan elegan saja. Memang tak sepekat generasi sebelumnya, tapi warna ini begitu cocok disandingkan dengan bingkai kamera dan kaca hitam yang disertakan di atasnya.


Secara desain, sebenarnya iQOO 15 tetap mempertahankan desain khasnya, yakni modul kamera persegi yang diletakkan di sisi kiri atas bodi. Tak seperti Poco misalnya, yang seperti ‘tak punya identitas’, desainnya kerap kali berubah-ubah di setiap serinya. 

Cuma, kalau ditelisik lebih dalam lagi, modul kamera iQOO 15 dibuat seperti melayang. iQOO menyebutnya ‘Floating Design’, dimana tepiannya dibuat transparan dan dilengkapi strip lampu LED yang bisa menyala warna-warni—dapat disesuaikan dengan skenario tertentu. 


Kelebihan lainnya, iQOO 15 juga dibuat menggunakan material berkualitas tinggi, layaknya smartphone flagship masa kini. Sasisnya aluminium dengan bodi belakang kaca. Ponsel ini juga tahan air dengan rating IP68+IP69, yang secara teori juga tahan terhadap semprotan air bertekanan tinggi. 


Kurangnya satu, agak pegal pegang iQOO 15 lama-lama pakai satu tangan. Bobotnya 215 gram untuk Alpha dan 220 gram buat Legend, ketebalannya sendiri 8,1 mm. Memang ada alasan kenapa smartphone ini bongsor, yakni baterai berkapasitas bak sebuah powerbank, yakni 7.000 mAh.

Layar mentereng, katanya buat Galaxy S26 Ultra


iQOO 15 bukan jadi salah satu smartphone pertama dengan Snapdragon 8 Elite Gen 5. Di bagian depan, iQOO 15 juga jadi yang pertama pakai panel layar OLED Samsung M14. Panel ini, konon kabarnya akan disematkan Samsung untuk Galaxy S26 Ultra, lho!

Layar OLED seluas 6,85 inci ini emang enak buat dipandang. Kalau nonton, warnanya tajam, lantaran sudah dukung HDR10+, HDR Vivid, dan Dolby Vision pula. Buka YouTube, cari video HDR, kemudian putar di resolusi tertinggi, potensi layar ini langsung keluar maksimal. 


Layar iQOO 15 sendiri sudah beresolusi QHD+ atau 1.440 x 3.168 piksel. Ditambah, dengan dukungan refresh rate 144Hz. Buat kalian yang suka main game, apalagi game sekarang yang grafisnya sudah serba ‘rata kanan’, detail tingginya bakal berasa banget di layar iQOO 15. 


Soal kecerahan, iQOO 15 mampu tampilkan kecerahan sampai 6.000 nits pada peak mode, sehingga masih enak banget untuk dipakai di bawah terik matahari.



Performa kencang Snapdragon 8 Elite Gen 5


Snapdragon 8 Elite Gen 5, sampai saat ini masih menjadi chipset paling ngebut buat smartphone Android. iQOO 15 ditenagai prosesor super kencang dari Qualcomm tersebut, menyandingkannya dengan RAM LPDDR5X Ultra hingga 16 GB dan ruang penyimpanan UFS 4.1 sampai 1 TB.

Kombinasi ini memang kasih performa yang kencang. Buat harian, buka atau beralih antar aplikasi seperti tanpa beban, sat set banget. Buat nge-game apalagi, beberapa judul game AAA di Android sudah dicoba, dari Where Winds Meet sampai Delta Force, game tersebut bisa dimainkan dalam grafis ‘rata kanan’ dengan frame rate yang stabil di atas 90 FPS. 


Malah, buat beberapa judul game seperti PUBG Mobile misalnya, game tersebut bahkan bisa dimainkan pada 144 FPS berkat Game Frame Interpolation. Semuanya berkat kombinasi spek tadi, ditambah chip in-house SuperComputing Q3, yang tugasnya untuk mengurangi beban Snapdragon 8 Elite Gen 5, terutama soal pemrosesan grafis. 


Saat main game, ada Ultra Game Mode yang otomatis menaikkan kinerja smartphone agar difokuskan pada game yang sedang dimainkan saja. Ada beberapa pengaturan, seperti mengaktifkan Monster Mode untuk performa yang lebih tinggi, mengatur tingkat frame rate untuk masing-masing game, menyesuaikan kualitas visual dan keluaran suara, serta tentu saja menampilkan tingkat FPS secara langsung.


Itu soal experience, bagaimana kalau pengujian benchmark langsung? Kami menggunakan beberapa aplikasi tes. Selama pengujian, iQOO 15 juga diset pada Monster Mode, sehingga skor yang dihasilkan smartphone ini kami nilai sudah maksimal. 

Di AnTuTu Benchmark v11, skor yang kami dapatkan tembus 3.852.054 poin. Dibanding Snapdragon 8 Elite yang skornya di kisaran 3-3,1 juta poin, jelas menjadi upgrade signifikan.

Kami juga mengujinya dengan Geekbench 6. Skor single-core tertinggi yang diraih rembus 3.513 poin dan multi-core mencapai 10.269 poin. Sementara di PCMark, skor yang diraih ponsel ini mencapai 16.715 poin, membuktikan kalau ponsel ini sangat sanggup untuk dipakai kerja harian.

Mainboard iQOO 15
Mainboard iQOO 15

Mainboard iQOO 15
Mainboard iQOO 15

Kinerjanya kencang, tapi kurang stabil. Walau dilengkapi 8K Vapor Chamber Cooling System, kinerjanya akan turun signifikan saat menerima beban kerja yang berat secara intens. 

Di PCMark saja, stabilitas CPU-nya naik-turun, pun demikian saat kami menyiksa GPU-nya dengan 3DMark Wild Life Stress Test.

iQOO 15 mencetak angka yang fantastis dengan skor 23.351 poin. Namun, smartphone ini langsung mengalami penurunan kinerja saat suhunya meningkat tajam. Stabilitasnya tercatat 48,9 persen dengan skor terendah di 11.426 poin. Rentang FPS-nya pun di 41-190 FPS dengan kenaikan suhu hingga 47 derajat Celcius. 

Dari tes yang kami lakukan, chipset ini memang sangat buas di awal. Namun, saking agresifnya, sistem pendingin dan software secara agresif melakukan throttling atau menurunkan performa untuk menjaga suhu agar tidak overheat

Bicara soal baterai, iQOO 15 ditopang baterai berkapasitas 7.000 mAh yang bisa tahan lebih lama untuk penggunaan harian yang intens, mulai dari scrolling medsos, tes kamera, sampai gaming.


Dari data pemakaian kami, ponsel ini mampu tembus Screen-on Time (SoT) hingga 8 jam 46 menit dengan sisa baterai 7 persen. Artinya, untuk pemakaian normal tanpa gaming berat, iQOO 15 bisa dengan mudah bertahan seharian penuh tanpa ngecas. 

Namun, iQOO justru memangkas kecepatan pengisian dayanya menjadi 100W FlashCharge, turun dari 120W di seri iQOO 13. 

Dari pengujian kami, mengisi daya dari 6 persen hingga penuh 100 persen memakan waktu sekitar 54 menit. Meski tidak seinstan para pendahulunya yang bisa penuh dalam 30 menitan, durasi ini masih sangat wajar mengingat daya yang harus diisi jauh lebih besar.

Di samping performa yang kencang, ada hal lain yang kami suka dari smartphone ini, yakni OriginOS 6. Akhirnya, sistem operasi yang awalnya cuma eksklusif buat pengguna di China saja, dihadirkan pada jajaran smartphone Vivo dan iQOO secara global, termasuk di Indonesia.


OriginOS 6 berbasis Android ini kasih experience yang berbeda dari FuntouchOS. Pertama, iQOO 15 mendapatkan jaminan update 5 tahun untuk versi Android dan 7 tahun untuk patch keamanan rutin.

Kemudian, tampilan OS-nya lebih bersih, dengan opsi personalisasi yang cukup minimalis. Ini dalam artian positif, lantaran pengaturan personalisasinya mudah untuk diaplikasikan. Tinggal tekan Theme misalnya, untuk mengatur tampilan jam di Lock Screen, tentu kalian pun bisa menyesuaikan wallpaper sesuka hati.


Yang menarik ada Flip Cards, mirip mainan kartu hologram saat zaman SD dulu. Semuanya bisa diatur via Theme ini, mulai dari memilih foto sampai transisi efeknya. 


Mungkin itu gimmick ya. Tapi, ada satu fitur fungsional yang paling sering dipakai selama pakai iQOO 15, yakni Office Kit. 


Fitur ini memungkinkan kami untuk pakai smartphone iQOO (dan juga Vivo) di layar MacBook. Transfer file dari dan ke iQOO 15 pun tinggal drag & drop doang. Untuk transfer dari dan ke iPhone juga bisa, tinggal gunakan EasyShare saja. 



Kameranya gila!


Upgrade juga diberikan iQOO pada sektor kamera. iQOO 15 membawa spesifikasi kamera yang lebih oke dari sebelumnya. 

Untuk kamera utama memang masih sama sensornya, yakni 50 MP Sony IMX921 dengan OIS, pun demikian dengan kamera ultrawide-nya yang masih pakai sensor ISOCELL JN1 50 MP dengan lensa autofokus. 


Perbedaan signifikan ada pada kamera telephoto. Resolusinya 50 MP, tapi sensornya menggunakan Sony IMX882 yang lebih besar. Kemampuan zoom-nya juga naik berkat lensa periscope telephoto yang mampu mengambil gambar secara optikal pada perbesaran 3 kali. 

Berkat kamera yang baru, iQOO 15 juga mampu menangkap tele-macro, tak kalah dari Vivo X300 Pro sekalipun. Di depan, kameranya menggunakan sensor 32 MP dengan sudut pandang mencapai 90 derajat. Bagaimana kualitasnya? Mari kami jabarkan setiap perbesaran standar dari kamera iQOO 15 ini.

Kamera ultrawide

Hasil foto dari sensor kamera keluaran 2021, dipadukan dengan sistem pencitraan khas Vivo yang punchy, memberikan kualitas foto yang punya karakter warna lebih vibrant

Terlihat jelas dari pekatnya warna biru di langit, namun tetap enak dipandang. Rentang dinamisnya juga cukup luas, karena mampu menyeimbangkan area bayangan di bawah halte misalnya, dengan teriknya matahari menjelang sore saat pemotretan terjadi. 

Lensa ultrawide dari iQOO 15 secara keseluruhan memberikan perspektif yang dinamis, sangat membantu saat memotret deretan gedung pencakar langit atau suasana lalu lintas padat, seperti di sekitaran Bundaran HI. Hasil fotonya pun tajam berkat adanya fitur autofokus. 

Yang kami suka, koreksi distorsinya bekerja sangat rapi. Tarikan garis vertikal pada gedung tetap terlihat lurus, sementara efek melengkung di bagian pinggir yang biasanya jadi kekurangan kamera ultrawide, berhasil diminimalisir.

Kamera utama


Walau gunakan sensor yang sama seperti tahun sebelumnya, namun kamera iQOO 15 tetap andal buat motret cepat alias point and shoot. Lagi naik ojek online, terus motret gedung bertingkat dengan kondisi cuaca yang terik, plus langit yang biru nan cerah.

Hasilnya tetap detail dan tajam. Tekstur kaca dan garis arsitekturnya terlihat tegas tanpa noise yang mengganggu, sementara warna langit birunya punchy, tanpa perlu masuk aplikasi editing lagi.

Rentang dinamis kamera utama ini juga patut diacungi jempol. Walau memotret di kondisi cahaya terik yang menantang, kamera mampu menyeimbangkan exposure dengan baik, yang mana kamera ini berhasil mempertahankan detail di area bayangan gedung sekaligus menjaga birunya langit agar tidak over-exposed

Kemampuannya menangkap tekstur objek jarak dekat juga impresif. Saat memotret tumpukan jeruk, gradasi warna kuning dan oranyenya terlihat segar. Meski memang, reproduksi warnanya cenderung sedikit vivid, namun tetap terlihat estetik.

Saat melakukan zooming ke 2x, tak ada penurunan kualitas yang berarti. Ketajaman gambarnya masih sangat terjaga, detail maupun tekstur gedung juga berhasil ditangkap dengan baik. Soal warna, konsisten seperti perbesaran 1x, vibrant namun tidak norak. 

3x zoom dan tele-macro


Memang asyik buat motret dari jauh pakai kamera periscope telephoto. Sudah diperbesar 3x pun, detail dan warnanya tidak hancur. Foto dengan focal length setara 73mm ini memberikan efek visual yang lebih padat, membuat jarak antara objek depan dan latar belakangnya memberikan kesan dramatis yang sulit didapatkan dari kamera depan.

Buat motret low-light juga tetap oke kok. Noise memang ada, tapi warnanya tidak pudar, serta tulisan pada lampu pun masih terbaca jelas. 


Dan iQOO 15 pun sudah dukung pengambilan gambar dalam mode tele-macro, salah satu mode pemotretan yang sangat kami suka. Dengan mode ini, kami bisa mengambil objek dari jarak fokus yang sangat dekat, tanpa harus menempelkan kamera smartphone seperti pada lensa makro biasa.

Hasilnya ajib. Detail pada tekstur lumut, gerombolan semut yang sedang mengangkut makanan, bulu-bulu halus di kelopak bunga, guratan kasar pada batang kayu, bahkan bara api yang menyala, bisa diambil dengan jelas. 

6x zoom dan 10x zoom

Hal lain yang kami apresiasi dari sistem kamera iQOO 15 adalah canggihnya algoritma pemrosesan gambar yang disematkan di dalamnya. Melakukan perbesaran 6x atau setara 146mm, detail yang dihasilkan masih sangat bagus.

Lihat saja foto patung Dirgantara di Pancoran yang kami abadikan, tekstur kasar pada permukaan patung masih terlihat jelas, dan lekukan ototnya terekam dengan kontras yang tegas. 

Saat mencoba memperbesar hingga 10x zoom atau setara 243mm, hasilnya juga bagus. Tulisan ‘Da Vinci’ pada gedung masih terbaca dengan sangat jelas, ditambah ornamen ukiran di jendelanya yang tidak kehilangan detail sama sekali.



Pun demikian saat kami memotret patung Selamat Datang di Bundaran HI. Meskipun jarak dari titik pemotretan cukup jauh, kamera mampu mengisolasi subjek patung dengan sangat rapi dari latar langit yang cerah.

Sementara saat mengabadikan foto orang-orang yang berjalan di JPO, kamera mampu menciptakan angle foto street yang terlihat dramatis. Ditambah dengan warna yang cenderung warm, cukup oke fotonya untuk bisa langsung dibagikan ke media sosial. 

Selfie


Buat yang hobi selfie, kamera depan 32 MP di iQOO 15 sudah lebih dari cukup. Dengan field of view yang lebih luas, framing jadi terasa lega tanpa perlu menjulurkan tangan terlalu jauh. 

Karakter warnanya natural, tekstur wajah seperti pori-pori dan kumis tipis tertangkap tajam tanpa efek beauty yang berlebihan. Walau, latar di belakang cenderung over brightness, jauh berbeda kualitasnya dibanding kamera belakang.



Kesimpulan


Sekali lagi, iQOO 15 bukan sekadar performance phone, tapi flagship yang menawarkan kemampuan all-rounder

Kenaikan harga yang cukup signifikan tahun ini terbayar lunas dengan peningkatan menyeluruh, mulai dari desain yang lebih premium, layar Samsung M14 yang memanjakan mata, hingga perombakan total di sisi software lewat kehadiran OriginOS 6 yang jauh lebih nyaman dan menjanjikan update panjang.

Sektor kamera juga upgrade berkat hadirnya kembali kamera periscope telephoto yang punya kemampuan tele-macro dan zoom jarak jauh jempolan. 

Kencang, sudah pasti. Akan tetapi, performa buas Snapdragon 8 Elite Gen 5 masih menyisakan sedikit PR soal stabilitas suhu saat disiksa kerja berat.