Relawan TIK Jabar Gandeng Uzone, Dorong Mahasiswa Kritis Hadapi AI
Uzone.id — Relawan TIK (RTIK)
Jawa Barat sukses menggelar seminar nasional bertajuk “Membangun Literasi
Digital di Era Kecerdasan Artificial” sebagai bagian dari komitmen mereka untuk
meningkatkan literasi di kalangan masyarakat–khususnya anak-anak muda.
Digelar di Universitas Muhammadiyah, Kamis, (05/02) lalu,
seminar ini merupakan kolaborasi berbagai pihak, termasuk Pemerintah Kabupaten
Cirebon, Universitas Muhammadiyah Cirebon, Uzone.id dan juga Telkomsel.
Acara ini diisi oleh Ketua Relawan TIK Jawa Barat Muhammad Arifin, Supervisor Mobile Postpaid Customer & Community (MPCC) Telkomsel Branch Cirebon Yudi Gustaman, serta Vice Editor in Chief Uzone.id Susetyo Prihadi, dengan panduan moderator Khusnul Amalia dari Relawan TIK Kabupaten Cirebon.
Panelis ini akan membagikan pandangan mereka terkait
perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang semakin pesat, khususnya
dalam lingkup digital.
Tak hanya itu, para panelis juga mengajak ratusan peserta
untuk bertukar pandangan mendalam mengenai cara kerja, potensi hingga dampak
yang ditimbulkan AI di dunia informasi dan juga komunikasi.
Muhammad Arifin selaku Ketua Relawan TIK Jawa Barat
mengungkapkan bahwa literasi digital saat ini menjadi kebutuhan mendasar untuk
generasi-generasi muda, khususnya untuk memahami dan memilah informasi di ruang
digital.
“Di era AI, literasi digital tidak hanya soal bisa
menggunakan teknologi, tapi juga memahami dampaknya, baik dari sisi etika,
keamanan, maupun keakuratan informasi,” ujarnya dalam sesi pemaparan.
Ia menambahkan bahwa pemahaman ini menjadi modal penting untuk melindungi diri dari paparan hoaks, disinformasi, dan penyalahgunaan teknologi.
Yudi Gustaman, SPV MPCC Brand Telkomsel Cirebon juga
menambahkan kemudahan akses terhadap informasi dan konten tanpa filter menuntut
penguatan literasi digital yang mumpuni.
"Jangan sampai kita disibukkan dengan meng-upgrade
handphone kita atau aplikasi di dalamnya, tapi lupa untuk meningkatkan pola
pikir dan literasi digital kita, untuk lebih kreatif dan bijaksana dalam
menggunakannya,” katanya.
Maka dari itu, adanya Program Internet BAIK (Bertanggung Jawab, Aman, Inspiratif, dan Kreatif) turut mendorong terciptanya ekosistem digital yang produktif, termasuk penerapan etika digital, perlindungan data pribadi, hingga pemanfaatan internet untuk melahirkan inovasi dan karya yang bermanfaat bagi orang lain.
Di sisi lain, Editor in Chief Uzone.id, Trisno Heriyanto
menjelaskan bahwa saat ini pemanfaatan AI memiliki jangkauan yang cukup luas
mulai dari hal yang sederhana hingga kompleks sekalipun.
Salah satunya adalah penggunaan AI untuk memantau gangguan
pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi atau stunting.
Kehadiran AI tersebut dinilai bisa membantu meningkatkan efektivitas pemantauan
layanan kesehatan di setiap daerah.
“AI menghasilkan automated priority ranking yang
menyusun urutan wilayah atau kelompok sasaran berdasarkan tingkat urgensi,
serta menyediakan rekomendasi operasional yang siap ditindaklanjuti, seperti
peningkatan kunjungan ibu hamil, optimalisasi intervensi untuk Bayi di Bawah
Dua Tahun (Baduta), hingga penguatan distribusi kader,” ujar Trisno dalam
sambutannya.
Lebih lanjut, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika
Kabupaten Cirebon, Bambang Sudaryanto menggaris bawahi kalau AI bukan lagi
sekedar wacana masa depan tetapi hal nyata yang kini sudah terintegrasi dalam
berbagai layanan digital.
Menurutnya, penguasaan teknologi harus berjalan selaras
dengan tanggung jawab dan etika. Literasi digital tidak boleh hanya dimaknai
sebagai kemahiran teknis dalam mengoperasikan gawai, melainkan harus mencakup
kemampuan berpikir kritis untuk menyaring derasnya arus informasi.
“Dunia saat ini telah memasuki era kecerdasan artifisial.
Literasi digital bukan sekadar kemampuan menggunakan gawai, tetapi menyangkut
cara berpikir kritis dalam menyaring informasi dan bersikap bijak terhadap
teknologi,” ungkapnya.
Melihat penggunaan dan intergrasi AI yang semakin luas,
peran mahasiswa pun menjadi salah satu elemen vital saat ini. Mereka dianggap
sebagai agen perubahan dalam menciptakan budaya digital yang sehat.
AI sendiri merupakan alat bantu pembelajaran yang sangat
bermanfaat namun, penggunaannya tetap dilakukan secara bijak dan penuh tanggung
jawab.
Melalui seminar ini, para peserta diajak untuk memahami
bagaimana teknologi AI bekerja dan bagaimana memanfaatkannya secara positif
serta produktif. Adanya edukasi seperti ini pun diharapkan memberi kontribusi
positif untuk mendorong masyarakat agar tidak hanya menjadi pengguna pasif,
tetapi mampu berpikir kritis terhadap konten digital yang mereka konsumsi
setiap hari.