Telco

Registrasi SIM Card Biometrik Bikin Operator Rugi, Benarkah?

Vina Insyani
Registrasi SIM Card Biometrik Bikin Operator Rugi, Benarkah?

Uzone.idKementerian Komunikasi dan Digital bersama dengan operator seluler sepakat untuk mulai menerapkan registrasi kartu SIM menggunakan biometrik pengenalan wajah mulai Januari 2026 dan akan diterapkan secara menyeluruh pada Juli 2026.

Untuk mekanisme registrasi menggunakan pengenalan wajah biometrik, nantinya ini berlaku untuk pengguna baru SIM Card saja. Mereka akan diminta untuk memasukkan NIK (Nomor Induk Kependudukan) lalu kemudian melakukan validasi biometrik wajah menggunakan kamera di aplikasi atau pun web.

Penerapan biometrik ini bertujuan untuk menekan tindakan ilegal yang merugikan seperti scam call, spoofing, smishing, hingga penipuan social engineering yang menjadikan nomor seluler sebagai alat utama.




Komdigi mencatat bahwa hingga saat ini, kerugian penipuan digital ini sudah mencapai lebih dari Rp7 triliun. Bahkan setiap bulan ada 30 juta lebih scam call dan setiap orang menerima minimal satu spam call seminggu sekali.

Penerapan biometrik dengan pengenalan wajah ini akan mempersempit penggunaan identitas orang lain untuk mendaftar SIM baru. Namun, di sisi lain hal ini kemungkinan menyebabkan pengurangan jumlah pelanggan di setiap operator seluler.

“Pasti lah (ada potensi), ya karena orang-orang jadi malas untuk pindah-pindah ganti kartu (SIM) kan. Sebenarnya kan behavior, kenapa sih orang ganti kartu? Untuk ngejar promo, ya kan?” kata Marwan O. Baasir, Excecutive Director ATSI dalam acara Talkshow Registrasi Biometrik, Rabu, (17/12). 




Ia mencatat bahwa saat ini, terdapat kurang lebih 1,5 persen pengguna SIM Card di Indonesia yang rajin mengganti kartu mereka dengan berbagai alasan, ada yang memang mengejar promo ada juga penjahat yang memanfaatkan kartu SIM untuk merugikan orang lain.

“Yang 1,5 persen ini ada orang baik yang menggunakan promo dan sebagainya. Ada juga penjahat-penjahat yang memanfaatkannya, iya kan? Itu gak bisa dipungkiri. Nyata kok,” ujarnya.

Terkait potensi adanya kerugian karena lambatnya pertumbuhan pengguna, ATSI pun memahami hal tersebut dan menganggap bahwa adanya penerapan biometrik ini akan menjadi solusi untuk menekan jumlah kejahatan yang merugikan masyarakat.

“Sebenernya, kalo jujur operator kan juga melihatnya ‘aduh kita baru 2023 berubah’ dan 2025 ini berharap masih bertahan ya lama. Tapi kan kita gak bisa memungkiri situasi dinamika kejahatan ini, digitalisasi aktivitas ini berubahnya luar biasa ya kan. Jadi akhirnya operator mendukung,” tambah Marwan.

Sebagai gantinya sekaligus untuk mempersiapkan infrastruktur hingga layanan penerapan metode ini, operator seluler pun mendapat kesempatan untuk menguji coba dahulu selama 6 bulan hingga kemudian diterapkan sepenuhnya pada Juli 2026.