Games

Rating IGRS di Steam Ngawur, Game Dewasa Dilabeli 3+

Muhammad Faisal Hadi Putra
Rating IGRS di Steam Ngawur, Game Dewasa Dilabeli 3+

Uzone.id - Penerapan Indonesia Game Rating System (IGRS) di platform Steam memicu banyak protes dari para gamer dan juga developer. Di Steam, klasifikasi usia yang diberikan justru tidak sesuai, seperti game bernuansa dewasa yang mendapatkan label 3+, sementara game yang sebenarnya aman untuk anak-anak malah diklasifikasikan 18+.

IGRS sendiri kali pertama diresmikan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) pada gelaran Indonesia Game Developer eXchange (IGDX) 2025 yang berlangsung Oktober tahun lalu. 

Menurut Menkomdigi, Meutya Hafid, penerapan IGRS dilakukan untuk melindungi industri game, para gamer, dan khususnya anak-anak. Ada lima klasifikasi usia yang diterapkan, yakni 3+, 7+, 13+, 15+, dan 18+.

"Orang tua bisa lebih tenang karena pengembang game ke depan wajib mengumumkan di dalam game-nya masing-masing, usia berapa yang tepat untuk memainkan game tersebut," jelas Meutya saat itu.

Steam sendiri sudah mengintegrasikan sistem IGRS sebagai standar rating khusus untuk penggunanya di Indonesia. Klasifikasi usia untuk game-game yang beredar di Steam wajib merujuk sistem IGRS dan rating yang dikeluarkan oleh Valve selaku pemilik Steam melalui proses penilaian mandiri.

“Peringkat usia tersebut dapat berasal dari dua sumber. Peringkat yang dikeluarkan oleh Kementerian Komunikasi dan Digital Indonesia (Komdigi), melalui IGRS,” tulis Steam di situs resminya.

“Peringkat yang dikeluarkan oleh Valve melalui proses penilaian mandiri Steam. Proses Steam mempertimbangkan umpan balik pelanggan, masukan dari tim peninjau konten Valve, dan survei konten yang telah diisi oleh pengembang untuk gim tersebut,” jelas Steam. 

Tapi, rating yang dikeluarkan justru aneh dan tidak konsisten

Di sinilah masalahnya. Para gamer justru menemukan rating yang diberikan pada sejumlah game populer tidak masuk akal. 

Misalnya, PUBG: Battlegrounds yang mendapat rating 3+ alias ramah anak tanpa adanya indikasi kekerasan. Game dewasa seperti Nukitashi juga dilabeli 3+ yang berarti aman untuk semua usia, terutama anak-anak. 

Sementara game naratif lokal seperti A Space for the Unbound mendapatkan rating 18+.

Klasifikasi ini juga memberikan status ‘Refused Classification’ untuk game-game besar seperti Baldur’s Gate 3 dan Grand Theft Auto V (GTA V). Itu artinya, game ini tidak layak untuk didistribusikan dan terancam diblokir di Indonesia.

Kritik terhadap sistem ini pun bermunculan di media sosial, termasuk dari developer game, salah satunya Toge Productions. Sang CEO, Kris Antoni, melayangkan protes di mana game dengan konten dewasa justru mendapatkan rating 3+, sementara game berkualitas tinggi justru dibatasi peredarannya di Indonesia.


"Sistem Rating Game Indonesia memberi label game dengan konten seksual dewasa sebagai game yang cocok untuk usia 3 tahun ke atas. Sementara game pemenang penghargaan seperti Claire Obscure dan Metal Gear Solid Delta diberi label tidak layak untuk didistribusikan di Indonesia," tulisnya di X.

“Call of Duty dilabeli 3+. (Sementara) rating Coffee Talk 18+, ini tidak masuk akal,” lanjutkan kembali.


Dari pantauan tim Uzone.id pada Senin (6/4) pukul 07.30 WIB, sistem rating berbasis IGRS tiba-tiba hilang dari platform Steam, yang kembali menampilkan rating standar global seperti Pan European Game Information (PEGI).