Rasanya Nostalgia Lagi: Review Singkat Motorola Razr 60
Seperti era saat itu, Motorola Razr 60 juga hadir dalam warna-warni yang seru. Ada tiga opsi warna bernuansa Pantone, yakni Gibraltar Sea, Parfait Pink, dan Spring Bud. Menariknya, masing-masing warna punya material bodi yang bervariasi, yaitu vegan leather, nilon, dan asetat.
Tim Uzone.id berkesempatan untuk menjajal langsung Motorola Razr 60 yang berbalut warna Spring Bud dengan tekstur bak kain yang halus dan empuk saat digenggam.
Seperti foldable phone model flip lainnya, menggenggam ponsel ini memang terasa ramping saat layarnya dibuka, dan pas buat masuk ke dalam saku ketika dilipat. Dan dibandingkan Razr 50, desain fisiknya memang tidak banyak yang berubah.
Motorola Razr 60 masih mengusung layar luar berukuran 3,6 inci berjenis AMOLED dengan resolusi 1.056 x 1.066 piksel, serta sudah mendukung refresh rate 90Hz, suguhkan tingkat kecerahan 1.700 nits pada peak mode, dan sudah mendukung HDR10+.
Layar bagian luarnya juga telah diberikan lapisan Gorilla Glass Victus yang tangguh. Hal ini, lantaran pengguna dimungkinkan buat mengoperasikan smartphone dari cover screen.
Ada banyak fungsi dan aplikasi yang bisa diakses lewat layar mungil ini, dari pintasan ke kamera atau aplikasi populer lainnya, mengakses Gemini, melihat informasi kalender dan ramalan cuaca, bahkan main game sekalipun.
Membuka smartphone ini, langsung terpampang layar 6,9 inci berjenis Foldable LTPO AMOLED yang beresolusi Full HD+. Layarnya lebih canggih, karena mendukung refresh rate 120Hz dan HDR10+, serta tingkat kecerahan sampai 3.000 nits pada peak mode.
Ada bekas lipatan nggak? Sejujurnya, bekas lipatan ini masih cukup terlihat, namun terbilang lumayan rata. Meski memang, kalau diusap dengan jari masih terasa ada sedikit gelombang di area engsel, tapi secara visual sama sekali tidak mengganggu pemakaian atau saat asyik scrolling.
Bicara soal engsel, selain sasis ponsel ini yang dibuat sepenuhnya menggunakan material aluminium seri 6000, engsel Motorola Razr 60 dibuat dari bahan stainless steel.
Engsel ini dibikin solid—tak mudah goyang. Juga, kalian bisa dengan bebas menekuk dan menahan layar di berbagai sudut. Misalnya, dijadikan seolah seperti camcorder untuk merekam video. Dan saat ditutup pun, tak ada celah sama sekali di tengah-tengah layar.
Hal inilah yang membuat Razr 60 juga sudah mengantongi rating IP48 yang berarti punya proteksi terhadap partikel padat berukuran lebih dari 1 mm. Kemampuan tahan airnya pun masih dipertahankan dan tetap aman meski perangkat tidak sengaja terendam.
Ditenagai Dimensity 7400
Motorola Razr 60 diotaki oleh prosesor MediaTek Dimensity 7400. Sebenarnya, prosesor ini masih mirip seperti Dimensity 7300X pada Razr terdahulu, lagian MediaTek memang sering merilis chip beda nama, dengan sedikit ubahan pada clock-speed di inti performanya.
Secara teknis, prosesor 4nm ini mengandalkan konfigurasi octa-core yang terdiri dari 4-core Cortex-A78 berkecepatan 2.6 GHz untuk performance-core, dan 4-core Cortex-A55 di angka 2.0 GHz sebagai efficiency-core. Sementara untuk urusan visual, bergantung pada GPU Mali-G615 MC2.
Hanya ada satu pilihan RAM dan memori penyimpanan saja, yang sayangnya terkesan medioker. RAM-nya 8 GB berjenis LPDDR4X dengan ruang penyimpanan 256 GB UFS 2.2. Jenis ini tentu memengaruhi kecepatan saat booting, membuka ataupun beralih antar aplikasi, hingga transfer data.
Sementara dari sisi perangkat lunak, smartphone lipat ini sudah berjalan pakai sistem operasi Android 16 dengan balutan antarmuka Hello UI.
OS-nya bersih tanpa banyak aplikasi tak penting, mirip Android murni. Dan yang menarik, Motorola juga menjanjikan update sampai tiga versi ke depan, ditambah update patch keamanan rutin selama empat tahun ke depan.
Kameranya masih 50 MP
Motorola Razr 60 membawa komposisi dua kamera belakang, terdiri dari kamera utama 50 MP dengan sensor ISOCELL GN8 berukuran 1/1.95 inci. Lensa dengan bukaan f/1.7 ini tentu sudah dilengkapi OIS (Optical Image Stabilization).
Menemani lensa utama, ada kamera ultrawide 13 MP dengan sensor Sony IMX 258 yang turut memiliki lensa dengan bukaan f/2.2 yang sudah didukung autofocus PDAF.
Sementara kalau layarnya dibuka, kalian bakal menemukan kamera selfie beresolusi 32 MP bersensor OmniVision OV32B bergaya punch hole. Untuk kebutuhan kreator, ketiga lensa ini—baik depan maupun dua di belakang—sudah sanggup merekam video tajam dengan resolusi maksimal 4K pada 30 FPS atau Full HD di 60 FPS.
Ada beberapa detail menarik dari kamera Motorola Razr 60, seperti menampilkan view finder di layar luar saat menggunakan kamera belakang. Kalian bisa selfie pakai kamera belakang, atau memperlihatkan hasil fotonya langsung ke orang yang kalian foto.
Ada juga opsi untuk menampilkan animasi ekspresi di layar bagian luar. Ini menarik, setidaknya memberikan opsi gaya yang tidak monoton saat kalian memotret orang lain, apalagi saat mereka hanya punya dua gaya kaku saja, kasih jempol atau kepalan tangan.
Di Indonesia, Motorola Razr 60 dibanderol dengan harga Rp10 jutaan, membuatnya sebagai salah satu foldable phone murah di pasar dalam negeri.