Automotive

Rantis Baracuda 12 Ton Sebagai Pengendali Massa, Bukan Bunuh Sipil!

Bagja Pratama
Rantis Baracuda 12 Ton Sebagai Pengendali Massa, Bukan Bunuh Sipil!

Uzone.id - Kendaraan Taktis (Rantis) Barracuda sejatinya dirancang untuk kebutuhan serba guna. Mobil full modifikasi lapis baja dan bisa menahan berbagai serangan ini punya bobot sampai 12 ton.

Fungsi rantis Barracuda di Indonesia, yang digunakan oleh Korps Brimob, adalah sebagai kendaraan angkut pasukan lapis baja (APC) serbaguna untuk berbagai misi, termasuk pengamanan aksi demonstrasi, operasi anti-terorisme, penanggulangan konflik horizontal, dan perlindungan objek vital. 




Kendaraan ini dirancang untuk melindungi awaknya dari serangan, serta mampu beroperasi di berbagai medan, termasuk medan off-road dan kondisi perkotaan. 

Namun yang jadi banyak pertanyaan masyarakat adalah, dalam kondisi demonstrasi di Jakarta kemarin (28/8) oknum petugas mengemudikanya dengan sembarangan, salah satunya ngebut di tengah kerumunan massa.

Kalau memang hendak kabur dari kerumunan massa, sebenarnya berdiam diri atau berjalan pelan pun, mobil ini tidak akan rusak oleh berbabagi 'senjata' yang dibawa para demonstran, seperti batu, besi, kayu, petasan dan lain sebagainya.

Bodi Barracuda dilapisi pelat baja setebal 8 mm dan memiliki kaca anti peluru yang membuatnya aman dari pecahan granat dan peluru kaliber 7,62 mm. 

Dilengkapi dengan ban berteknologi run-flat, memungkinkan kendaraan tetap dapat melaju meskipun bannya kempes atau bocor. 

Karenanya, bisa dibayangkan apa jadinya ketika kendaraan perang seberat itu sampai menabrak orang tanpa perlindungan sama sekali?

Sony Susmana, pakar Safety Driving dan Training Director di Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI) mengatakan, kendaraan seperti Barracuda atau sejenisnya dimodifikasi jadi kendaraan taktis dengan spesifikasi anti huru-hara.

"Tahan peluru, hantaman bom, mampu melibas segala medan, dan sudah pasti bobotnya juga berat," ujar Sony saat dihubungi Uzone.id.

Dengan spesifikasi tersebut, lanjut Sony, sudah seharusnya prosedur mengemudikannya harus dengan penuh perhitungan.




"Jangan main gaspol, karena spesifikasinya sudah taktis, jadi blindspotnya besar. Yang dihadapi juga harus dilihat, kan bukan musuh tapi cuma rakyat. Senjata mereka cuma kayu, besi, helm, yang boro-boro mematikan, merusak kendaraan taktis juga tidak," beber Sony.

"Jadi dengan bobot yang berat tersebut, untuk majunya saja butuh effort, apalagi ketika harus mengerem seketika. Jangan salah, karena kendaraan taktis ini didesign untuk menerobos segala rintangan," pungkas Sony.