Automotive

Raja Otomotif ASEAN Tumbang, Indonesia Kalah dari Malaysia

Muhammad Faisal Hadi Putra
Raja Otomotif ASEAN Tumbang, Indonesia Kalah dari Malaysia

Uzone.id - Petak kekuatan otomotif Indonesia menunjukkan pergeseran, demikian seperti dilaporkan Nikkei Asia. Pada kuartal kedua tahun ini, penjualan mobil di Malaysia berhasil menyalip Indonesia, lantaran ditopang oleh merek mobil lokal mereka, yakni Perodua dan Proton yang berhasil memimpin pangsa pasar. 

Dikutip Uzone, pasar otomotif di Malaysia menunjukkan stabilitas yang lebih baik dari negara-negara ASEAN lainnya, seperti Indonesia, Thailand, Filipina, dan Vietnam. 

Penjualannya hanya turun tipis 1 persen. Rahasianya, terletak pada kesetiaan konsumen terhadap merek nasional, Perodua dan Proton, yang mendominasi hingga 63 persen dari total penjualan mobil di sana dari Januari hingga Juni 2025.



Kondisi ini berbalik 180 derajat dengan yang terjadi di Indonesia, yang mana penjualan anjlok 12 persen pada periode yang sama. Penurunan tajam bahkan terjadi di bulan Juni, yang merosot hingga 21 persen. 

Total, penjualan mobil di Indonesia hanya 169.578 unit, kalah banyak dari Malaysia di periode yang sama dengan angka penjualan tembus 183.366 unit. Padahal, Indonesia dikenal sebagai ‘raja otomotif’ di pasar ASEAN.

Penyebab utama penurunan ini adalah melemahnya daya beli kelas menengah dan syarat pembiayaan konsumen yang lebih ketat. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) pun mendukung hal ini, menunjukkan porsi kelas menengah di Indonesia menyusut dari 21,4 persen pada 2019 menjadi 17,1 persen pada 2024.

Di sisi lain, Vietnam justru tampil sebagai bintang baru dengan pertumbuhan penjualan mencapai 18 persen. Pertumbuhan PDB mereka yang meroket hingga 7,52 persen pada paruh pertama 2025 menjadi yang tertinggi dalam 15 tahun terakhir, turut mendongkrak daya beli kelas menengahnya. 

Kekuatan pasar Vietnam bahkan bisa jadi lebih besar dari yang tercatat, karena data penjualan produsen besar seperti VinFast dan Hyundai lokal tidak masuk dalam statistik resmi asosiasi.

Sementara itu, Thailand sebagai pasar terbesar ketiga, mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan dengan kenaikan penjualan 3,6 persen. 



Ini adalah kenaikan kuartalan pertama sejak kuartal ketiga 2022. Pemulihan ini didorong oleh ledakan penjualan mobil listrik (EV) yang kini menyumbang 23 persen dari total penjualan mobil di sana. Namun, di tengah euforia EV, raksasa otomotif Jepang seperti Honda, Suzuki, dan Nissan justru sedang mengurangi skala operasi mereka dan menutup beberapa pabriknya di sana.

Penjualan mobil di Indonesia melesu

Berdasarkan data penjualan mobil yang dirilis Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), selama semester satu 2025, penjualan mobil di Indonesia anjlok hingga 8,6 persen dibandingkan tahun lalu menjadi 374.740 unit dari sebelumnya mencapai 410.020 unit, atau turun hingga 35.280 unit.

Penjualan mobil secara retail pun turun 9,7 persen menjadi 390.467 unit, dibanding enam bulan pertama 2024 sebanyak 432.453 unit. Menurut Gaikindo, lesunya penjualan mobil di Indonesia disebabkan oleh perekonomian masyarakat yang saat ini dalam tekanan. 

Tekanan ekonomi, menurut Ketua I Gaikindo Jongkie D Sugiarto, berdampak sangat kuat terhadap daya beli konsumen. Oleh sebab itu penjualan mobil nasional selama semester pertama 2025 cenderung turun dibanding periode yang sama tahun kemarin. 

“Tetapi memang pasarnya yang masih lemah,” kata Jongkie.