Protes Terus Meluas, Akses Internet di Iran Mati Total
Uzone.id — Gelombang protes
anti-pemerintah yang terjadi di Iran semakin meluas dan memanas, bahkan hingga
saat ini korban jiwa yang jatuh dalam demonstrasi skala nasional ini mencapai
500 orang lebih.
Untuk meredam protes ini, pemerintah Iran kemudian mencabut
akses internet di seluruh wilayah. Pencabutan akses ini sudah terjadi semalam
berhari-hari, tepatnya semenjak tanggal 8 Januari 2026 hingga saat ini, Senin,
(12/01).
Pemutusan akses internet ini juga dilakukan bersamaan dengan pemadaman listrik di negara tersebut. Upaya untuk meredam protes anti-pemerintah tersebut kemungkinan bisa berlangsung dalam waktu yang lama.
Melansir dari The Guardian, saat pemadaman listrik dimulai,
90 persen lalu lintas internet ke Iran turut menghilang. Panggilan
internasional ke negara tersebut tampaknya diblokir dan ponsel domestik tidak
dapat digunakan, kata Amir Rashidi, seorang ahli hak digital Iran.
Tingkat pemadaman di Iran kali ini memiliki skala yang lebih
tinggi dan dianggap belum pernah terjadi sebelumnya.
“Tidak ada sinyal di ponsel. Tidak ada antena. Rasanya
seperti hidup di tengah hutan belantara, tanpa menara BTS,” kata Rashidi,
dikutip dari sumber yang sama.
Bahkan sistem satelit Starlink milik Elon Musk yang biasanya menjadi harapan terakhir untuk tersambung ke internet juga ikut mengalami gangguan, meskipun Rashidi menyebut kalau tingkat gangguannya bervariasi dari satu kawasan ke kawasan lain.
Di saat warga Iran di seluruh negeri terputus dari internet,
Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei malah mengunggah postingan di
X. Ia memposting 12 cuitan dengan isi postingan terkait tindakan Donald Trump
dan tindakan AS di Venezuela.
Hingga berita ini diturunkan, NetBlocks mencatat bahwa
pemadaman sudah memasuki hari ke-4 dengan konektivitas ke dunia luar
hanya mencapai 1 persen saja dari tingkat normal.
“Setelah 72 jam, gangguan telekomunikasi terus mempengaruhi
kemampuan masyarakat untuk mengakses informasi dan berkomunikasi dengan
orang-orang terkasih,” tulisnya.
Protes yang terjadi semenjak 28 Desember 2025 ini terus
berlangsung di lebih dari 100 kota di seluruh Iran sebagai buntut dari
anjloknya nilai mata uang rial. Konflik ini semakin memanas setelah adanya
perang pernyataan bernada ancaman antara Presiden Amerika Serikat, Donald Trump
dan juga petinggi Iran.