Prabowo Mau Indonesia Bikin HP Sendiri, Biar Gak Cuma Jadi Pasar
Uzone.id - Presiden Prabowo Subianto ingin Indonesia tidak hanya menjadi pasar bagi produk teknologi dari negara lain. Ia menegaskan, Indonesia harus mulai mampu membuat produk industri sendiri, termasuk komputer dan juga smartphone.
Hal ini disampaikan Prabowo dalam pidatonya pada Rapat Paripurna DPR RI di Gedung Nusantara MPR/DPR/DPD RI, Jakarta pada Rabu (20/5).
“Kita harus bikin mobil kita sendiri. Kita harus bikin motor kita sendiri. Kita harus bikin televisi, komputer, handphone kita sendiri. Kita tidak boleh hanya jadi pasar untuk bangsa lain,” kata Prabowo, dikutip dari laman Sekretariat Kabinet.
Meski begitu, Prabowo belum menjelaskan lebih lanjut seperti apa produksi komputer dan HP buatan dalam negeri yang ia maksud. Apakah sebatas memperluas perakitan lokal, memperbesar kandungan komponen dalam negeri, atau benar-benar membangun rantai produksi dari hulu ke hilir.
"Saya sudah kumpulkan profesor kita, pakar kita, saya katakan pengabdian mu untuk bangsa wujudkan hari ini tidak boleh kita menyerah tidak boleh rendah diri," tegas Prabowo.
Namun, pernyataan ini cukup menarik. Sebab, Indonesia selama ini memang dikenal sebagai salah satu pasar smartphone dan komputer yang besar, dengan deretan merek global yang saling berebut pangsa pasar terbanyak.
Mulai dari Samsung, Oppo, Vivo, Xiaomi, Realme, Infinix, Tecno, hingga Apple, semuanya punya ‘nama’ di pasar smartphone Indonesia. Di pasar komputer atau laptop pun, ada Apple, Asus, Acer, sampai Lenovo, yang rutin meluncurkan ragam produk baru di pasar dalam negeri.
Sementara untuk merek-merek lokal, ada beberapa yang masih bertahan sampai sekarang, seperti Advan, Axioo, Polytron, sampai Zyrex.
Hanya saja, merek-merek lokal ini belum bisa dibilang benar-benar bersaing ketat dengan brand global, baik dari sisi skala produksi, riset, desain, pemasaran, hingga ke layanan purna jualnya.
Ukuran ‘lokal’ baru diukur dari TKDN 35 persen
Selama ini, ukuran ‘lokal’ pada perangkat teknologi di Indonesia lebih banyak mengacu pada pemenuhan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Untuk smartphone, komputer genggam, dan tablet berbasis 4G maupun 5G, nilai TKDN minimal yang wajib dipenuhi berada di angka 35 persen.
Angka tersebut bisa dipenuhi lewat beberapa skema, mulai dari proses perakitan, penggunaan tenaga kerja lokal, pengembangan software, sampai investasi. Jadi, status lolos TKDN belum berarti sebuah perangkat benar-benar dibuat sepenuhnya di Indonesia.
Komponen penting seperti prosesor, layar, kamera, memori, baterai, hingga sensor masih banyak bergantung pada rantai pasok global. Ini yang membuat mimpi punya HP dan komputer buatan Indonesia tetap butuh proses panjang.
“Kita harus percaya diri, kita harus percaya kepada kekuatan kita sendiri, kita harus percaya kepada kepribadian kita sendiri, kepada budaya kita sendiri, kepada falsafah nenek moyang kita. Kita percaya kepada gotong royong, kita percaya kepada saling mendukung dan saling membantu. Itu naluri kita, itu budaya kita,” tutupnya.