PPATK: 80 Persen Pemain Judol Bergaji di Bawah Rp5 Juta
Uzone.id - Jumlah transaksi judi online (judol) memang turun, meski nilainya masih mencapai ratusan triliun Rupiah. Namun di balik itu semua, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) mengungkap fakta yang jauh lebih mengkhawatirkan, yakni profil para pemainnya.
Kepala PPATK, Ivan Yustiavandan, membeberkan bahwa mayoritas atau 80 persen pemain judol adalah masyarakat dari kalangan berpenghasilan rendah.
"Kita sudah pernah menyampaikan bahwa 80 persen pemain judi online itu adalah saudara-saudara kita yang berpenghasilan Rp5 juta atau kurang," ungkap Ivan.
Namun, Ivan melanjutkan, bahwa upaya pemberantasan yang gencar dilakukan telah menunjukkan hasil yang positif, khususnya pada kelompok yang rentan tersebut.
"Nah, saat ini dibandingkan tahun 2024, jumlah pemain dengan kategori penghasilan rendah sudah berkurang 67,92 persen. Artinya, pemain-pemain dengan jumlah penghasilan di bawah Rp5 juta per bulan itu berkurang sebanyak 67,92%,” tegasnya.
Penurunan ini, lanjut Ivan, sejalan dengan berkurangnya jumlah pemain secara keseluruhan. Per Oktober 2025, pemain judi online sudah berkurang 68,32 persen dibandingkan dengan tahun 2024.
Menurutnya, penurunan ini merupakan buah kolaborasi kuat antar lembaga, yang berhasil menurunkan akses masyarakat ke situs-situs judi online.
"Secara keseluruhan, jumlah pemain judi online per hari ini hingga Q3 kemarin sudah berkurang 68,32% dibandingkan dengan tahun 2024," jelas Ivan.
“Nah, ini berkat kolaborasi yang sangat kuat antara seluruh stakeholder yang berkepentingan, khususnya kami sama-sama berkomitmen dengan sungguh-sungguh untuk menjalankan, mendukung program Presiden terkait dengan Asta Cita,” lanjutnya.
Upaya kolaborasi ini juga yang berhasil menekan total transaksi terkait judol. Seperti diberitakan sebelumnya, Ivan menyebut jika sepanjang 2024 transaksi judol mencapai Rp359 triliun angkanya berhasil ditekan menjadi Rp155 triliun di tah, 2025, atau turun 57 persen.