Pindah dari MacBook Pro ke MacBook Air M4 itu Bukan Downgrade
Uzone.id - Sebagai seorang yang sehari-harinya pernah menggunakan MacBook Pro M1 Pro (2021), saya sangat penasaran mencoba MacBook Air baru bermesin chipset M4.
Secara keseluruhan, Macbook Air M4 memberi kesan ringan namun premium. Bertenaga pasti, karena memang peranti ini didukung oleh ‘otak’ dengan arsitektur terbaru. Namun, apakah sebagai pengguna MacBook Pro-walaupun lawas- cocok untuk dijadikan pengganti yang tepat? Apakah semacam downgrade?
Berikut hasil review, saya terhadap Macbook Air M4 2025 ini.
Desain dan Material
Desain MacBook Air M4 tampak familiar, tidak banyak berbeda dari generasi Air sebelumnya, namun tetap memikat. Tapi MacBook tetaplah MacBook, bentuknya tidak lekang dimakan zaman. Lagipula, buat apa desain yang berubah, namun mengurangi kenyamanan, toh kita gak membawa laptop seperti ponsel sehari-hari.
Rancangan bodinya yang sangat tipis dan datar membuat laptop ini tampak elegan di atas meja kerja saya. Material aluminium hasil daur ulang yang dipakai pada bodi MacBook Air ini terasa sangat solid.
Bodi Air M4 terbuat dari aluminium yang tahan lama, terasa kokoh dan halus saat digenggam. Meskipun sangat tipis (hanya 0,6 inci/1,4 cm) dan ringan (1,5 kg), laptop ini tetap terasa “mantap” di tangan. Saya merasa bahwa MacBook Air M4 2025 ini terasa ringan namun “feels just heavy enough to feel premium”, artinya kesan bangunannya mirip laptop kelas atas.
Sebagai tambahan informasi, selain Sky Blue, ada pilihan Starlight, Midnight (pengganti Space Grey yang kini dihapus), dan Silver yang klasik. Semuanya memberikan pilihan personalisasi bagi pengguna.
Secara keseluruhan, portabilitas MacBook Air M4 ini benar-benar unggul. Saya bisa menyelipkan laptop ini ke dalam tas tipis dengan mudah, suatu hal yang dulu sulit saya lakukan dengan MacBook Pro yang lebih tebal. Ketipisan Air ini juga membuatnya cepat dingin kembali setelah dimatikan, yang menyenangkan karena saya sering berganti perangkat sepanjang hari.
Namun, ada satu hal yang saya rasa masih kurang, yaitu port yang terbatas. Di sisi kiri bodi hanya terdapat dua port USB-C/Thunderbolt 4, satu port MagSafe 3 untuk pengisian daya, dan jack audio 3,5 mm.
Semua konektor ini ada di satu sisi, sehingga kadang saya harus memastikan agar tidak saling menghalangi saat digunakan bersamaan. Berbeda dengan MacBook Pro yang memiliki port di dua sisi (termasuk HDMI dan slot kartu SD), MacBook Air M4 mengharuskan saya membawa adaptor tambahan jika ingin menghubungkan monitor eksternal atau kartu memori langsung.
Misalnya, ketika presentasi saya perlu dongle USB-C ke HDMI karena laptop ini memang tidak punya port HDMI. Meski begitu, kemudahan MagSafe tetap terasa berkat pelekatan magnet yang praktis, jika kabel tersenggol tidak akan menjatuhkan laptop saya.
Layar, Keyboard, dan Trackpad
Kecerahan hingga 500 nits memudahkan penggunaan di luar ruangan saat sinar matahari pagi, sedangkan dukungan satu miliar warna P3 dan teknologi True Tone menjaga akurasi warna di berbagai kondisi.
Sebagai perbandingan dengan MacBook Pro, layar MacBook Air ini memang tidak seunggul layar mini-LED Pro (tidak ada dukungan HDR tinggi atau refresh rate 120Hz), sehingga hitam gelapnya tampak agak lebih pucat dan tampilan bergerak dibatasi 60Hz.
Namun, dalam praktik sehari-hari saya merasa layar ini sudah sangat memadai untuk menonton video, editing foto ringan, dan membuka dokumen. Saya juga suka bahwa bezel layarnya cukup tipis sehingga ukuran keseluruhan laptop tidak terlalu besar, sekalipun layarnya 15 inci.
Keyboard Magic Keyboard di Air M4 sama nyamannya dengan di MacBook Pro. Saya sudah terbiasa mengetik lama, dan transisi ke MacBook Air hampir tanpa adaptasi—layout keyboard-nya sama-sama memiliki 12 tombol fungsi penuh dan empat tombol arah dalam formasi “T terbalik”.
Tidak ada Touch Bar (yang memang sudah lama dihapus dari lini Pro), tetapi saya jarang menggunakannya juga. Perjalanan tombolnya pas dan responsif, sehingga sesi mengetik artikel atau skrip video berlangsung lancar tanpa banyak kesalahan.
Lampu latar keyboard juga sangat membantu ketika bekerja di ruangan gelap. Saya dapat mengetik dengan kecepatan tinggi tanpa jari cepat pegal. Satu tambahan kecil tapi krusial: ada Touch ID di pojok kanan atas yang memudahkan membuka kunci MacBook atau melakukan pembayaran online dengan sidik jari.
Trackpad Force Touch yang luas juga sangat memanjakan saya. Menggeser kursor, melakukan zoom, atau gesture multitouch terasa mulus dan akurat. Ruang geraknya nyaris sebesar MacBook Pro 13/14, jadi saya tidak merasa terbatas saat berpindah jendela aplikasi dengan tiga jari atau klik keras (force click).
Dalam pekerjaan pengeditan gambar atau pengelolaan dokumen berlapis, trackpad ini benar-benar membantu produktivitas.
Tak ketinggalan, kamera depan kini 12MP dengan Center Stage. Ini peningkatan besar dibandingkan kamera 720p lama di Air saya sebelumnya.
Saat saya video call atau rekaman langsung, gambar wajah saya tampak jauh lebih jernih, dan kamera otomatis menyesuaikan agar tetap fokus mengikuti gerakan saya. Sementara itu, speaker stereo di Air M4 (empat saluran untuk model 13 inci, enam saluran untuk 15 inci) menghasilkan suara yang mengesankan.
Ketika saya streaming musik atau memutar video demo, suaranya keras dan natural—bass-nya terasa lebih berat daripada MacBook Air terdahulu, dan vokal jelas terdengar. Tentu tidak seperti sistem speaker terpisah, tetapi untuk sebuah laptop tipis ini sudah lebih dari cukup untuk menikmati konten multimedia tanpa perlu headset.
Performa Chipset M4
Perpaduan ini menghasilkan kinerja yang amat mumpuni. Dalam penggunaan sehari-hari sebagai reviewer teknologi, saya kerap membuka banyak aplikasi sekaligus: browser dengan puluhan tab, software editing foto (Photoshop), editor video (Premiere Pro atau DaVinci Resolve) untuk konten ringan, aplikasi pengelola dokumen, dan terkadang mesin virtual.
Semua aplikasi tersebut berjalan mulus tanpa terasa lag. Transisi antar program instan, dan saya jarang melihat wheel loading berputar.
Contohnya, saat saya membuka proyek pengeditan video 4K dengan beberapa lapisan efek, MacBook Air M4 ini dapat memutar timeline dengan lancar pada resolusi preview rendah.
Jika dibandingkan MacBook Air generasi sebelumnya, peningkatan kinerjanya sangat terlihat. Apple mengklaim M4 ini sekitar 18 persen lebih cepat single-core dan 31 persen lebih baik multi-core daripada chipset M3. Saya merasakannya betul: misalnya kompilasi kode dan rendering video pendek selesai jauh lebih cepat daripada di Macbook generasi sebelumnya.
Saat membandingkannya dengan MacBook Pro lawas saya yang pakai chip M1 Pro, tentu ada perbedaan. M1 Pro yang menggunakan sistem pendingin kipas dapat mempertahankan performa tinggi lebih lama di beban berat.
MacBook Air M4 yang fanless perlu menurunkan kecepatan prosesor saat suhu naik. Saya memang sempat mengukur, CPU MacBook Air ini bisa mencapai suhu sekitar 100°C di bawah beban penuh.
Pada situasi itu, sistem akan menurunkan frekuensi prosesor agar suhu tidak makin tinggi, sehingga waktu penyelesaian tugas-tugas berat bisa sedikit lebih lama daripada Pro saya. Namun jika tugasnya sifatnya sporadis atau beratnya menengah, MacBook Air ini jarang mengecewakan.
Sebagai contoh, saat saya melakukan rendering video pendek untuk konten sosial media, MacBook Air M4 menyelesaikannya dalam waktu yang masih wajar, dan suhu bodinya meskipun terasa hangat, tidak pernah sampai panas membakar. Jadi, selama pekerjaan saya tidak ekstrem seperti proyek film panjang, kinerja M4 ini lebih dari cukup.
Selain itu, ada beberapa fitur baru dalam M4 yang saya hargai. Salah satunya, MacBook Air M4 sekarang mendukung penggunaan dua monitor eksternal sekaligus (dengan mode clamshell). Ini berguna ketika saya perlu pengaturan layar ganda tanpa harus menutup laptop. Meski tidak setiap hari saya pakai dua monitor, opsi ini memberi fleksibilitas ekstra jika saya sedang mengerjakan desain dengan banyak ruang kerja.
Daya Tahan Baterai dan Termal
Keunggulan tradisional MacBook Air—daya tahan baterai—sangat terjaga di M4 ini. Apple menyebutkan durasi penggunaan hingga 18 jam video streaming, dan dalam praktik saya, itu bukan klaim muluk.
Dalam satu hari penuh bekerja (menulis artikel, browsing web, video call ringan, atau menonton satu atau dua episode serial saat istirahat), baterainya hampir tidak pernah habis sebelum saya pulang. Saat saya coba memutar video HD secara lokal (mode offline) terus-menerus, baterainya tahan lebih dari 15 jam.
Tentu saja, jika saya jalankan aplikasi berat seperti game atau rendering intensif, baterainya cepat terkuras. Namun untuk penggunaan produktivitas atau multimedia ringan, hasilnya sangat memuaskan. Dengan baterai tahan lama ini, saya sering tidak perlu membawa charger sepanjang hari kecuali sangat diperlukan.
Yang tak kalah penting adalah aspek termal yang dihadirkan Air M4. Karena tanpa kipas, laptop ini benar-benar senyap.
Saya ingat saat pertama kali menjalankan aplikasi berat, saya menyangka tidak ada beban, karena tidak ada suara kipas berputar. Suasana kerja jadi lebih nyaman, apalagi di tempat hening seperti perpustakaan atau kafe saat malam.
Namun tentu saja, ketenangan ini datang bersama konsekuensi termal. Bodinya akan terasa hangat ketika CPU/GPU bekerja keras. Bagian palm rest saya rasakan menghangat, tetapi sejauh penggunaan saya, tidak sampai tidak nyaman disentuh. Keseimbangan ini masih dapat diterima karena saya jarang melakukan tugas yang membuat laptop benar-benar mendidih.
Singkatnya, Macbook Air M4 dapat menyandingkan performa responsif dengan keheningan operasi yang luar biasa, hanya dengan sentuhan hangat yang masih aman untuk digunakan.
Penggunaan Sehari-hari dan Peralihan dari MacBook Pro
Sebagai seorang pekerja multitasking, laptop adalah “senjata” utama saya dalam bekerja. Saya sering bepergian untuk membuat konten, menghadiri event, atau menulis di kafe. Oleh karena itu, pengalaman saya beralih dari MacBook Pro ke MacBook Air terasa penting untuk dibagikan.
Awalnya saya ragu—MacBook Pro dengan layar mini-LED dan performa ekstra memang membantu banyak tugas berat saya. Namun, setelah menggunakan Air M4 sehari-hari, saya justru menemukan banyak keuntungan yang membuatnya sulit saya tolak.
Kelebihan utama tentu adalah portabilitas. Misalnya, beberapa waktu lalu saya diundang ke konferensi di luar kota. Ketimbang membawa MacBook Pro 14 inci, saya memilih MacBook Air M4. Berat dan ketebalannya yang lebih rendah membuatnya nyaman dimasukkan ke dalam koper dan tas kecil.
Ketika tiba di tempat, saya bisa langsung bekerja tanpa merasa perangkat berat di pangkuan saya. Saya gunakan untuk menulis liputan setiap malam di hotel—keyboardnya nyaman untuk mengetik kalimat panjang, dan baterainya tahan sampai dinihari saat menyelesaikan posting blog.
Presentasi pun lancar, meskipun saya perlu dongle HDMI, tetapi itu harga yang pantas saya bayar untuk kemudahan membawa laptop ringan.
Di hari-hari normal, sehari-hari MacBook Air M4 menjadi teman setia saya. Saya dapat membuka dokumen riset, mengedit foto produk gadget dengan lancar, serta menjalankan video call dengan gambar jernih dari kamera barunya.
Dalam dua layar 13 inci saya (monitor eksternal di rumah dan laptop di pangkuan) pun juga diakomodasi dengan baik berkat dukungan dual screen. Satu hal yang saya sadari: meskipun saya tidak menggantikan MacBook Pro untuk proyek pengeditan film besar, untuk kegiatan rutin saya, Air M4 bahkan terasa “terlalu” kencang.
Saya sering berpikir, tugas saya yang banyak menuntut mobilitas justru lebih terbantu dengan MacBook Air ini. Dengan ketipisan dan ringannya, saya bisa bekerja di sofa, pangkuan, atau ruang terbatas tanpa kendala.
Tentu, ada penyesuaian yang harus saya lakukan. Yang paling terasa adalah layar—saat saya harus mengerjakan editing warna yang kritis, saya sedikit merindukan layar mini-LED Pro saya yang menampilkan warna gelap sempurna.
Dan saat butuh banyak port, saya harus membawa dongle ekstra ke mana-mana. Namun setelah beberapa lama, saya belajar mengantisipasi itu: misalnya saya mulai menyinkronkan file dengan cepat ke penyimpanan awan daripada memasukkan SD card langsung, atau cukup bermodal USB-C hub kecil saat kerja di meja kantor.
Tidak membutuhkan kipas berarti saya perlu menjaga suhu ruang supaya tidak terlalu tinggi. Pada akhirnya, hal-hal tersebut merupakan kompromi kecil yang sebanding dengan kebebasan mobilitas yang saya peroleh.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, pengalaman pribadi saya menggunakan MacBook Air M4 tahun 2025 ini sangat memuaskan. Laptop ini berhasil mempertahankan identitas MacBook Air yang ringan, tipis, dan baterainya awet, sekaligus memberikan performa sedekat mungkin dengan MacBook Pro generasi sebelumnya.
Desain bodinya yang elegan dan material berkualitasnya membuat saya senang memandangi dan menggunakan perangkat ini setiap hari. Keyboard dan trackpad yang nyaman mendukung ritme kerja saya tanpa hambatan.
Chipset M4 terbukti tangguh memenuhi kebutuhan saya sebagai reviewer—aplikasi berat sekalipun masih dapat dijalankan dengan lancar walau dalam waktu terbatas, sementara untuk tugas produktivitas harian ia benar-benar andal.
Tentu, ada kompromi. Layarnya tidak seunggul Pro dalam hal kemampuan khusus seperti HDR penuh atau refresh rate super tinggi, dan pilihan port yang terbatas kadang merepotkan jika saya memerlukan banyak koneksi fisik.
Namun dibandingkan dengan manfaat portabilitas dan efisiensi yang saya peroleh, saya merasa kompromi tersebut sepadan. Dengan MacBook Air M4 ini, saya menyadari bahwa saya dapat melakukan hampir semua pekerjaan saya tanpa perlu mengorbankan kemudahan membawa laptop ke mana pun.
Saya sangat menikmati masa-masa bekerja bersama Air M4, dan percaya bahwa Apple berhasil menghadirkan MacBook Air yang mempersempit jarak dengan MacBook Pro. Bagi banyak orang (termasuk saya) yang membutuhkan kombinasi portabilitas dan kinerja, menggunakan Air generasi terbaru ini tidak lagi terasa sebagai kompromi, melainkan sebagai pilihan yang cerdas.