Periskop 2026: Tren AI Bubble Melambung, Asia Tenggara Ikut Terkena?
Uzone.id — Menjelang akhir
2025, fenomena AI Bubble semakin mencuri perhatian perusahaan-perusahaan
teknologi. Dampaknya pun diprediksi akan menyebar luas, salah satunya kenaikan
harga pada perangkat-perangkat seperti laptop hingga smartphone.
Lalu, apakah AI Bubble ini akan semakin meledak di tahun
2026 dan akan berdampak juga ke kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia?
Melansir dari Business Times Singapore, Senin, (29/12), saat
ini, startup AI di Asia Tenggara mengumpulkan pendanaan sekitar USD2,3 miliar
hingga Juni 2025 kemarin. Tak hanya itu, dana lain juga mengalir untuk
pembangunan pusat data dan juga proyek infrastruktur lainnya.
Contoh saja Malaysia hingga Vietnam yang mendapat investasi
pembangunan pusat data hingga USD2,7 miliar di paruh pertama tahun ini.
Sementara di Amerika Serikat, angka investasi malah lebih tinggi. Saham-saham yang terkait dengan kecerdasan buatan (AI) menyumbang sekitar 44 persen dari nilai S&P 500 atau setara dengan sekitar USD25,5 triliun.
Melihat dari angka tersebut, sebagian besar investor hingga
CEO perusahaan menunjukkan optimismenya terhadap kawasan di Asia
Tenggara.
Mereka menganggap jika AI Bubble global meletus, mereka
percaya bahwa kawasan ini mungkin akan merasakan dampaknya lebih lambat dan
kurang parah dibandingkan dengan AS.
“Akibatnya, Asia Tenggara akan muncul dengan industri yang
lebih terarah pada pelaksanaan daripada sekadar sensasi,” kata mereka, dikutip dari Tech in Asia.
Tak hanya itu, Karl Chan, pendiri dan CEO perusahaan AI,
Sourcy berpendapat bahwa startup di Asia Tenggara sudah terbiasa bekerja dalam
keterbatasan. Sehingga, jika terjadi perlambatan global di sektor AI, kondisi
tersebut justru tidak membuat mereka panik karena sudah terbiasa dengan
efisiensi yang memang sudah berjalan di kawasan ini.
Willson Cuaca dari East Ventures juga menilai adopsi AI di Asia Tenggara lebih condong ke pemanfaatannya.
Pada akhirnya, ia menilai jika terjadi penurunan pasar AI, investor kemungkinan akan
kembali berinvestasi pada perusahaan yang tata kelolanya baik, punya pendapatan
nyata, dan model bisnis yang kuat.
Sementara itu, alih-alih kemungkinan AI Bubble yang meledak
di tahun 2026, sebagian besar dari investor startup dan perusahaan teknologi
merasa bahwa AI bubble ini tidak akan memberikan dampak yang fatal.
Mereka percaya kalau AI ini bukan cuma tren sesaat dan akan
terus dipakai oleh masyarakat luas ke depannya. Namun, mereka percaya kalau ada
3 masalah yang mungkin akan terus muncul kedepannya terkait AI ini.
Pertama, adalah ekspektasi yang terlalu tinggi dibandingkan
dengan kenyataannya, biaya yang terus naik (dan lebih cepat) dibandingkan
dengan pemasukan, serta ketergantungan pada investor dan pasar modal.
“Pertanyaannya bukan apakah model-model ini punya value atau tidak–jelas mereka bernilai—tetapi berapa lama pasar modal dapat terus mensubsidi struktur biayanya ini,” kata Karl Chan, pendiri dan CEO perusahaan AI, Sourcy.
Di tingkat penerapannya, Chan optimis bahwa saat ini
sebagian besar industri masih dalam proses memahami bagaimana AI bisa
menggantikan alur kerja manual dengan otomatisasi yang dapat menghemat waktu
dan biaya.
jika perusahaan aplikasi berhasil mewujudkan manfaat
tersebut, nilai yang dihasilkan pada akhirnya dapat ‘membayar’ biaya yang
dikeluarkan di awal, katanya.
Terkait ekspektasi dan realitas yang ada, sebagian besar
eksekutif di bidang teknologi di Asia berpendapat bahwa ada kesenjangan antara
apa yang mampu dilakukan oleh AI dan apa yang sebenarnya bisa dilakukan AI.
Kesenjangan ini terlihat ketika AI dan robotika saling
beririsan, kata Albert Causo, CEO dan pendiri bersama One Hand Robotics.
Pada akhirnya, ekspektasi ini menimbulkan harapan kalau AI
bisa melakukan hal yang belum realistis atau terlalu mahal, dan jika kekecewaan
ini terus terjadi, kepercayaan terhadap AI berisiko menurun meski teknologinya
sebenarnya sudah berguna untuk tugas tertentu.
Pada akhirnya, jika nantinya AI Bubble benar-benar meledak,
seperti siklus teknologi sebelumnya, hal tersebut dapat mendukung fase
pertumbuhan yang lebih sehat ketika ekspektasi sejalan dengan kenyataan.
“Koreksi tidak akan membunuh AI, justru akan membuatnya
lebih sehat,” kata Amit Verma, pendiri dan kepala teknologi Neuron7, dikutip
dari Tech in Asia.