Periskop 2026: Spek HP Makin Canggih, Tapi Harganya Bikin Boncos
Uzone.id - Tahun 2025 dipenuhi oleh gempuran smartphone bertenaga AI, punya kamera beresolusi tinggi, dapur pacu kencang, bahkan ponsel lipat tiga yang menggabungkan form factor tablet dan smartphone menjadi satu. Pertanyaannya, bagaimana dengan tahun 2026 mendatang?
Kami sudah mengulas banyak smartphone, pun demikian menyaksikan langsung peluncuran ponsel-ponsel berfitur canggih, turut dengan teknologi pendukung di belakangnya, di sepanjang tahun 2025. Mengingat semua itu, kami telah merangkum prediksi fitur-fitur apa saja yang mungkin akan menjadi tren di smartphone yang rilis tahun 2026 mendatang.
Baterai 5.000 mAh sih kecil, saatnya 7.000 mAh!
Sebenarnya sudah dimulai sejak pertengahan tahun 2025, dimana ponsel-ponsel keluaran China, seperti Realme, Vivo, Oppo, Honor, dan lainnya, usung baterai dengan kapasitas di atas 5.000 mAh, bahkan ada yang sampai 7.000 mAh.
Hal yang sama juga akan berlaku di tahun depan. Bukan saja smartphone kelas menengah, tapi juga flagship. Prediksi kami, standar baru kapasitas baterai flagship bakal geser ke angka 6.000 mAh hingga 7.000 mAh.
Di tahun ini saja, seperti yang Oppo Find X9 Pro yang membawa baterai 7.550 mAh, Vivo X300 Pro yang hadir dengan baterai 6.510 mAh, atau Xiaomi 17 Pro Max dengan baterai 7.500 mAh. Ditopang baterai besar, semuanya pun dibekali teknologi fitur fast charging dan wireless charging yang cepat.
Tenang, dipastikan nggak akan tebal bodinya, lantaran ponsel-ponsel ini telah mengadopsi teknologi baterai silicon-carbon (Si/C).
Teknologi ini punya densitas energi jauh lebih padat dibanding Lithium-ion biasa. Efeknya? HP lipat atau flagship tipis sekalipun bisa menampung baterai lebih besar yang bisa tahan seharian, bahkan lebih. Jadi, nggak ada lagi cerita bawa powerbank ke mana-mana.
Kamera telephoto yang makin ‘gila’
Di tahun ini, ada beberapa smartphone yang memiliki konfigurasi kamera bak sebuah kamera profesional, bahkan dipersenjatai juga oleh aksesori khusus untuk memaksimalkan potensi kameranya.
Seperti Xiaomi 15 Ultra yang hadir dengan Photography Kit Legend Edition, membuatnya berasa mirip kamera profesional. Aksesori ini memang tak memiliki lensa tambahan khusus, hanya tersedia Ring Adaptor Filter 67mm yang dapat dikombinasikan dengan ND 67mm.
Kit ini memiliki tombol shutter, video, zoom lever, hingga tombol yang bisa disesuaikan untuk mengatur ISO, white balance, shutter speed, hingga eksposur.
Kemudian ada Oppo Find X9 Pro dengan Hasselblad Teleconverter Kit dan Vivo X300 Pro yang hadir dengan Photography Kit. Keduanya mirip, memiliki lensa tambahan untuk memaksimalkan potensi kamera telephoto-nya ke level setara kamera profesional.
Kit Oppo Find X9 Pro mengubah lensa periscope telephoto 200 MP dengan focal length 70mm, menjadi 230mm secara optik. Sementara kit untuk Vivo X300 Pro, mengubah kamera periscope telephoto 200 MP dengan focal length 85mm menjadi 200mm secara optik.
Artinya, kamera periscope telephoto bawaan saja sudah mampu buat nge-zoom yang jauh, apalagi ditambah lensa khusus. Foto jarak jauh lebih detail berkat perbesaran optik, dan dapat diambil pada resolusi tertinggi.
Di tahun 2026, adopsi lensa tambahan mungkin masih diadopsi oleh beberapa merek smartphone flagship. Namun, ada kemampuan yang bisa saja jadi tren di tahun depan, yakni continuous optical zoom yang kian sempurna. Itu berarti, perbesaran secara optik bisa digeser secara mulus, bukan loncat lensa.
Salah satu buktinya seperti Tecno yang mengenalkan teknologi Freeform Continuum Telephoto. Sesuai dengan namanya, teknologi ini berupa kamera periskop tunggal dengan zoom kontinu yang halus, dimana Tecno telah menciptakan desain yang mencakup rentang 1x hingga 9x.
Dengan teknologi ini, maka tidak perlu kamera telephoto terpisah, karena modul ini berfungsi sebagai kamera utama pada 1x) dan kemudian melakukan zoom lebih jauh daripada kebanyakan modul telephoto dengan focal length tetap seperti saat ini.
Berkat teknologi ini pula, beberapa masalah yang sering terjadi seperti loncat lensa atau konsistensi rendering warna, bisa diatasi. Memiliki satu kamera yang dapat melakukan semuanya dapat menghasilkan gambar berkualitas tinggi, baik untuk foto maupun video.
Standar codec APV mulai diimplementasi
Saat Snapdragon Summit 2025 lalu, Qualcomm mengenalkan codec APV atau Advanced Professional Video secara native di smartphone.
Sederhananya, codec ini membuat rekaman video yang diambil dari smartphone memiliki data yang sangat kaya tapi kompresinya efisien, mirip seperti merekam menggunakan kamera profesional.
Tujuannya, proses grading warna atau editing di aplikasi mobile maupun PC jadi jauh lebih fleksibel, tanpa bikin kualitas video menurun jauh.
Codec APV juga didukung ekosistem yang kuat, mulai dari Samsung, Android, YouTube, Black Magic Design, Adobe, Dolby, hingga studio post-production besar seperti Company 3, untuk memastikan APV menjadi codec pilihan di platform Android dan Windows.
Dengan ketersediaan chip yang lebih baru seperti Snapdragon 8 Elite Gen 5, bukan tidak mungkin codec ini bakal diimplementasi secara masif di tahun depan.
AI on-device yang lebih cerdas
Implementasi AI makin masif di tahun ini, dan akan lebih canggih lagi di tahun depan. Prediksi kami, di tahun 2026, akan lebih fokus pada AI yang diproses secara offline atau on-device yang berjalan sepenuhnya di NPU smartphone.
Bukan sekadar buat edit foto, AI ini bakal jadi asisten proaktif yang mengerti konteks personal penggunanya. Mulai dari merangkum chat misalnya, sampai manajemen baterai yang mempelajari pola hidup pengguna secara presisi. Semuanya diproses lokal, jadi data privasi jauh lebih aman.
Akhirnya…. iPhone Fold?
Di tahun ini, perangkat yang kita tunggu-tunggu dari Apple, mungkin akan dirilis. Apalagi kalau bukan smartphone lipat yang konon akan bernama iPhone Fold.
Dari bocoran yang beredar, iPhone Fold usung layar LTPO seluas 7,58 inci di bagian dalam dan 5,38 inci untuk bagian luarnya. Kalau bocoran ini benar, maka bentuk ponsel ini bakalan agak besar, mirip seperti Samsung Galaxy Z Fold7, Google Pixel 10 Pro Fold, dan lainnya.
Saat iPhone Fold diluncurkan, ponsel ini diperkirakan akan merebut lebih dari 22 persen pangsa pasar smartphone lipat global di tahun depan, menurut laporan dari firma riset IDC.
Bukan cuma itu, walau harganya kebayang bakalan mahal, bahkan diperkirakan mencapai USD2.400 atau lebih dari Rp40 jutaan, ponsel ini juga bakal mengangkat segmen smartphone lipat di pasar global, bersama Samsung dan Huawei.
Dan saat iPhone Fold keluar, pasar HP lipat juga diperkirakan ‘meledak’. Alasannya, Apple biasanya selalu ‘memvalidasi’ sebuah kategori produk. Kompetitor Android pasti bakal makin agresif mematangkan software lipat mereka buat menyambut produk baru dari Apple tersebut.
Makin banyak Android yang punya ‘Camera Control’
Seperti yang kami mention sebelumnya, Apple selalu jadi standar atau trendsetter di industri smartphone. Ada saja fitur-fiturnya yang diadopsi oleh brand-brand Android. Salah satunya yang bakalan masif di tahun depan, mungkin adalah Camera Control.
Bukan sekadar tombol shutter, tapi tombol kapasitif yang bisa digeser buat zoom, atur bukaan lensa, atau ganti filter. Ini bakal bikin pengalaman motret pakai smartphone Android makin terasa mekanikal dan serius.
Tapi, harganya bakalan mahal
Kabar buruknya, dengan segala teknologi baru yang diadopsi nanti, bisa jadi harga smartphone di tahun depan juga bakalan naik. Prediksi ini diungkap IDC dalam laporan kuartal rutinnya, Worldwide Quarterly Mobile Phone Tracker.
Biang kerok utamanya sebenarnya kelangkaan memori global. Pasokan komponen memori yang makin seret diprediksi bakal mengerek harga komponennya menjadi lebih mahal.
Nah, biaya produksi yang bakal membengkak gegara harga memori yang naik, membuat vendor smartphone dalam posisi yang sulit. Mereka bisa saja menaikkan harga jual ke konsumen, atau mengubah fokus jualannya ke model flagship yang dibanderol lebih mahal untuk menambal kenaikan biaya komponen yang tinggi.
Di tahun depan pun, IDC melaporkan kalau harga rata-rata smartphone di tahun depan naik menjadi USD465 atau sekitar Rp7,4 jutaan.