Digilife

Perang Memanas, Iran Ancam Serang Fasilitas Google dan Microsoft

Muhammad Faisal Hadi Putra
Perang Memanas, Iran Ancam Serang Fasilitas Google dan Microsoft

Uzone.id - Garda Revolusi Iran (IRGC) terang-terangan mengancam bakal menyerang infrastruktur milik perusahaan teknologi asal Amerika Serikat (AS) yang beroperasi di Timur Tengah. Deretan perusahaan tersebut yang disebut ‘target potensial’ adalah Google, Microsoft, Palantir, IBM, Nvidia, sampai Oracle.

Ancaman ini muncul pada hari ke-12 memanasnya konflik antara AS dan Israel dengan Iran sejak 28 Februari lalu. Juru bicara markas militer Khatam al-Anbiya menyatakan, langkah ini sebagai balasan atas serangan Israel ke sebuah cabang bank di Teheran yang menewaskan sejumlah karyawan.

“Musuh membiarkan kita leluasa untuk menargetkan pusat-pusat ekonomi dan bank-bank milik Amerika Serikat dan rezim Zionis di wilayah tersebut,” tegas perwakilan Khatam al-Anbiya, seperti dikutip dari Al Jazeera.

“Penduduk di wilayah tersebut sebaiknya tidak berada dalam radius satu kilometer dari bank. Amerika harus menunggu tindakan balasan dan respons keras kami,” tambahnya.



Google dkk ditarget Iran

Berdasarkan laporan kantor berita Tasnim yang berafiliasi dengan IRGC, perusahaan-perusahaan teknologi asal AS tersebut dicap sebagai ‘target baru Iran’. Katanya, perluasan target ini terjadi karena skala perang regional kini bergeser menjadi perang infrastruktur.

Perusahaan teknologi AS ini memang punya jejak operasional yang masif di Timur Tengah. Sekitar 13 persen dari total pekerja global mereka disebut-sebut menetap di Israel, yang menjadi pusat riset dan pengembangan terbesar kedua di luar AS.

Ancaman terhadap fasilitas teknologi asal AS di Timur Tengah ini bukan sekadar gertakan pemerintah Iran saja. 

Sebelumnya, seperti dilansir dari Tom’s Hardware, beberapa data center regional Amazon Web Services (AWS) di Uni Emirat Arab dan Bahrain sempat tumbang terkena serangan drone. Iran secara terbuka mengakui serangan tersebut dengan alasan fasilitas itu digunakan untuk menopang sistem militer AS.

Bagi raksasa teknologi, hancurnya data center karena perang atau konflik bersenjata memberikan dampak yang sangat besar secara finansial. 



Sebab, polis asuransi standar biasanya tidak menanggung kerusakan akibat perang atau invasi militer. Artinya, kerugian jutaan dolar akibat kerusakan server dan infrastruktur bakal sepenuhnya ditanggung oleh perusahaan itu sendiri.

Peringatan keras dari Khatam al-Anbiya ini sebenarnya dipicu oleh aksi Israel yang mengebom sebuah gedung di Beirut, Lebanon. Gedung tersebut dilaporkan sebagai cabang Al-Qard Al-Hassan, lembaga keuangan terafiliasi Hizbullah yang rutin memberikan pinjaman tanpa bunga serta mengelola berbagai yayasan amal, sekolah, hingga rumah sakit.

Hingga kini, skala kerusakan dan korban jiwa dari perang ini terus membengkak. Pihak Iran mencatat pasukan AS dan Israel telah mengebom hampir 10.000 situs sipil di negaranya, menewaskan lebih dari 1.300 orang. 

Di sisi lain, operasi militer Israel di Lebanon—yang diklaim bertujuan menghancurkan Hizbullah—telah merenggut nyawa setidaknya 570 orang dan memaksa 780.000 warga mengungsi dari rumah mereka.