Automotive

Perang AS-Israel dan Iran Picu Lonjakan Mobil Listrik

Brian Priambudi
Perang AS-Israel dan Iran Picu Lonjakan Mobil Listrik

Uzone.id - Perang Amerika Serikat (AS) - Israel melawan Iran memiliki dampak yang luas. Selain lonjakan pada harga minyak dunia, ternyata juga berdampak pada permintaan mobil listrik di kawasan Asia.

Dikutip dari JapanTimes, kondisi seperti ini memberikan peluang bagi produsen kendaraan listrik, seperti BYD, yang menikmati peningkatan minat konsumen di berbagai negara di Asia.

Disebutkan, sejumlah showroom BYD di distrik finansial Manila, Filipina, mendapatkan lonjakan minat terhadap mobil listrik yang terlihat secara jelas.

Permintaan meningkat pesat dalam beberapa pekan terakhir, beriringan dengan kenaikan harga bensin dan solar di negara tersebut.

Fenomena ini ternyata tak hanya dirasakan oleh BYD, tetapi juga merek lain, sehingga menandakan adanya pergeseran preferensi konsumen menuju elektrifikasi.




Bahkan, seorang tenaga penjual mengungkapkan kini konsumen mulai mengganti mobil konvensional mereka yang berbahan bakar bensin dengan mobil listrik, karena biaya operasional yang lebih rendah.

Selain karena harga, kebijakan pemerintah di sejumlah negara juga ikut mendorong tren peningkatan adopsi kendaraan elektrifikasi.

Beberapa negara juga mulai memberikan insentif tambahan untuk kendaraan listrik, sekaligus memperketat biaya kepemilikan kendaraan berbahan bakar minyak.





Dengan demikian, peralihan menuju mobil yang ramah lingkungan semakin dipercepat di berbagai negara tersebut.

Meskipun sebelum perang dimulai, prediksinya pertumbuhan mobil listrik akan melambat karena tak ada algi subsidi dan insentif pemerintah. Dengan lonjakan harga minyak ini, kemungkinan besar bisa memutar balikkan situasi.

Di sisi lain, konflik antara AS-Israel dengan Iran mulai menimbulkan kekhawatiran baru yang dipicu oleh efek berantai, bermula dari kenaikan harga energi hingga gangguan rantai pasok industri otomotif.




Dimulai dari harga minyak mentah yang melonjak hingga melewati USD 110 per  barel, angka ini terakhir kali terlihat pada tahun 2022 silam.

Kenaikan harga energi berpotensi meningkatkan biaya produksi kendaraan, sekaligus biaya distribusi bagi industri otomotif.

Carscoops melaporkan, kenaikan harga energi juga dapat berdampak langsung pada konsumen. Harga bahan bakar yang lebih mahal biasanya berpengaruh pada keputusan pembelian kendaraan, terutama di pasar yang didominasi mobil bermesin bensin atau diesel.

Kondisi ini memicu konsumen memilih kendaraan yang lebih ramah lingkungan atau hemat bahan bakar, seperti hybrid atau mobil berukuran kecil, dibandingkan mobil besar seperti SUV atau pickup berukuran besar.