Automotive

Pengamat: Sirene dan Rotator Polisi Picu Stres di Jalan

Brian Priambudi
Pengamat: Sirene dan Rotator Polisi Picu Stres di Jalan

Uzone.id - Baru-baru ini ramai gerakan "Stop Tot Tot Wuk Wuk" di media sosial sebagai bentuk protes terhadap penggunaan sirene dan rotator yang kerap dilakukan polisi. Ternyata bunyi sirene dan rotator tersebut bisa bikin pengendara lain stres dan cemas.

Menurut Djoko Setijowarno selaku pengamat transportasi,  terdapat beberapa faktor yang mengakibatkan sirene dan rotator yang dikenal sebagai strobo kerap ditolak masyarakat.

"Pertama, penyalahgunaan dan hak istimewa yang tidak tepat. Alasan paling mendasar adalah penyalahgunaan. Masyarakat sering melihat kendaraan pribadi atau pejabat yang bukan dalam keadaan darurat menggunakan strobo untuk menerobos kemacetan," ujar Djoko dalam keterangan yang dikirim ke Uzone.id.

"Hal ini menimbulkan persepsi bahwa strobo adalah simbol hak istimewa dan bukan alat untuk keselamatan publik. Penggunaan yang tidak pada tempatnya ini menciptakan rasa tidak adil dan memicu kemarahan," lanjut Djoko.




Djoko juga menyebutkan, penyebab kedua adalah gangguan dan kebisinagan dari sirene yang nyaring sangat mengganggu. Terutama ketika digunakan di lingkungan padat penduduk atau di tengah malam.

"Gangguan ini tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga dapat menimbulkan stres, bahkan memicu kecemasan. Orang tua, orang sakit, atau mereka yang ingin beristirahat sering merasa terganggu oleh kebisingan yang berlebihan," ungkap Djoko.

Djoko juga merasa regulasi penggunaan sirene dan rotator masih kurang tegas, meskipun ada aturan siapa saj ayang berhak menggunakannya, namun penegakan hukumnya sering kali dianggap lemah.





Bahkan membuat banyak orang berani untuk menggunakan sirene dan rotator tanpa izin, sehingga memperburuk masalah penyalahgunaan alat tersebut.

"Ketika sirene dan strobo digunakan secara sembarangan, kepercayaan masyarakat terhadap sistem darurat bisa menurun. Saat mendengar sirene, masyarakat tidak lagi yakin apakah itu benar-benar situasi darurat atau hanya kendaraan yang ingin mencari jalan pintas," pungkas Djoko.




Menurut Djoko tidak menutup kemungkinan, ketika situasi darurat benar-benar terjadi, masyarakat tidak memberikan respon dengan membuka jalan secara cepat atau setanggap seharusnya.

Perlu diketahui, Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri Ijen Pol. Agus Suryonugroho telah merespon terkait gearakan 'Stop Tot Tot Wuk Wuk' di media sosial dengan membekukan penggunaan sirene dan strobo.

Kakorlantas menekankan, penggunaan sirene hanya boleh dilakukan pada kondisi tertentu yang benar-benar membutuhkan prioritas.

Irjen Pol Agus Suryonugroho pun mengapresiasi kepedulian publik atas kritik terhadap pihaknya, oleh karenanya langkah ini diambil agar tidak mengganggu masyarakat.