Pendiri AI Google: Gelar Dokter dan Hukum akan Ketinggalan Zaman
Uzone.id - Salah satu pendiri Artificial Intelligence (AI) di Google menyebutkan saat ini calon dokter dan pengacara dapat tidak lagi dipakai di masa depan. Kira-kira apa penyebabnya?
Jad Tarifi selaku pendiri tim AI generatif pertama Google yang keluar di 2021, mengatakan kemampuan AI yang terus meningkat mungkin akan membuat gelar sarjana hukum atau kedokter menjadi sia-sia.
Dikutip dari Futurism, Tarifi juga memberikan saran kalau tidak seorang pun harus menempuh gelar PhD kecuali terobsesi dengan bidang ilmunya.
Tarifi sendiri merupakan seorang lulusan PhD bidang AI pada tahun 2012 yang mana saat itu masih kurang populer.
Namun saat ini, pria berusia 42 tahun itu kerap mempelajari topik khusus terkait AI, seperti AI untuk biologi. Menurutnya, jika AI sudah menguasai suatu bidang tertentu maka manusia tidak perlu gelar sama sekali.
"Pendidikan tinggi seperti yang kita kenal sekarang berada di ambang kepunahan. Keberhasilan di masa depan takkan datang dari mengumpulkan kredensial, melainkan dari mengembangkan perspektif unik, kesadaran emosional, dan ikatan antaramanusia yang kuat," ujarnya.
"Saya mendorong kaum muda untuk berfokus pada dua hal yaitu seni terhubung secara mendalam dengan orang lain, dan upaya batin untuk terhubung dengan diri sendiri," lanjutnya.
Menurut Tarifi, belajar untuk menjadi dokter medis atau pengacara sudah tidak sepadan untuk masa depan. Dirinya berpendapat gelar tersebut perlu diraih dalam waktu yang sangat lama.
Sehingga jika dibandingkan dengan seberapa cepat Ai bisa berevolusi, maka membuat seseorang yang mempelajarinya hanya membuang waktu bertahun-tahun dalam hidup mereka.
"Dalam sistem medis saat ini, apa yang Anda pelajari di sekolah kedokteran sangat ketinggalan zaman dan didasarkan pad ahafalan," sebutnya.
Tarifi pun tidak sendirian menilai pendidikan tinggi tidak lagi mengikuti gelombang AI yang terus berubah.
Belakangan ini Mark Zuckerberg juga mengakui hal tersebut, bahkan menurutnya biaya sekolah yang tinggi dengan kurikulum ketinggalan zaman menciptakan badai sempurna bagi tenaga kerja yang tidak siap.
"Saya tidak yakin bahwa perguruan tinggi mempersiapkan orang untuk pekerjaan yang mereka butuhkan saat ini. Saya pikir ada masalah besar tentang itu dan juga semua masalah utang mahasiswa," sebut Zuckerberg.
Bahkan CEO Open AI, Sam Altman mengklaim model AI terbaru yang dibuatnya saat ini sudah dapat bekerja dengan cara yang setara dengan orang-orang bergelar PhD.
"GPT-5 benar-benar terasa seperti berbicara dengan pakar tingkat PhD dalam topik apa pun. Sesuatu seperti GPT-5 hampir tak terbayangkan di masa lain dalam sejarah," ungkapnya.