Pencurian Password Masih Marak, Indonesia Tembus 234 Ribu Kasus
Uzone.id — Malware Password
Stealer kini menjadi salah satu ancaman siber yang paling banyak digunakan
pelaku kejahatan digital untuk menyerang perusahaan di Asia Tenggara termasuk
di Indonesia.
Sebagai informasi, Password Stealer merupakan jenis malware
yang dirancang khusus untuk mencuri kata sandi dan informasi akun
pengguna.
Berdasarkan penemuan dari Kaspersky, serangan password
stealer terhadap pengguna bisnis di negara-negara Asia Tenggara meningkat 18
persen sepanjang 2025 kemarin.
Vietnam menjadi negara dengan serangan Password Stealer paling banyak, yaitu 468.313 serangan, disusul Malaysia dengan 244.061 serangan.
Indonesia sendiri berada di posisi ketiga mencatat 234.615
serangan yang berhasil diblokir sepanjang 2025. Kemudian ada Thailand dengan
53.218 serangan, Singapura dengan 33.926 serangan dan Filipina dengan 25.310
serangan.
Secara regional, Filipina menjadi negara dengan lonjakan tertinggi, mencapai 41 persen serangan dibanding tahun sebelumnya.
Managing Director Asia Pasifik Kaspersky, Adrian Hia
mengatakan Password Stealer masih menjadi alat favorit pelaku kejahatan siber
karena menyerang titik paling vital perusahaan, yakni kredensial pengguna.
“Password stealer tetap menjadi salah satu alat paling
efektif dalam persenjataan pelaku kejahatan siber karena mereka menargetkan
pintu depan setiap perusahaan, yaitu kredensial pengguna,” katanya.
Melihat serangan malware pencuri password yang semakin masif
ini didorong dengan kebiasaan pembuatan password yang masih lemah. Faktanya,
dari 193 juta kata sandi yang bocor, sebanyak 45 persen kata sandi dapat
diretas dalam waktu kurang dari satu menit saja.
Hanya 23 persen password yang dinilai cukup kuat untuk
bertahan lebih dari satu tahun dari serangan brute force.
Maka dari itu, Adrian meminta perusahaan perlu mulai mengurangi risiko dengan menggunakan password manager yang mampu menghasilkan kata sandi acak dan aman.
Selain itu, penerapan autentikasi multi-faktor (MFA),
audit kredensial rutin, serta pembatasan akses hak istimewa juga dinilai
penting untuk memperkuat keamanan.
“Bagi organisasi, pendekatan yang paling efektif adalah menghilangkan risiko ini sepenuhnya dengan mengadopsi pengelola kata sandi yang menghasilkan dan menyimpan kredensial secara benar-benar acak dan aman, di samping menerapkan kebijakan akses yang kuat seperti otentikasi multi-faktor, audit kredensial reguler, dan akses hak istimewa minimal," katanya.
Karyawan juga perlu dibekali pelatihan keamanan siber secara berkala agar budaya keamanan digital benar-benar diterapkan di lingkungan perusahaan.
Sementara untuk
pengguna individu, Kaspersky menyarankan agar tidak menggunakan kata sandi yang
mudah ditebak, seperti tanggal lahir, nama keluarga, atau kombinasi angka
sederhana. Pengguna juga disarankan memakai kata sandi berbeda untuk setiap
layanan dan mengaktifkan autentikasi dua faktor (2FA).