Pemerintah Resmi Tetapkan Target BBM Etanol E10 di 2028
Uzone.id - Belum lama ini, pemerintah ingin mewajibkan kandungan etanol dalam BBM yang dijual di Indonesia. Kabar terbarunya, kewajiban ini akan diresmikan pada 3 tahun ke depan.
Saat ini BBM dengan kandungan etanol di Indonesia baru 5 persen saja, itupun dijual dalam produk terpisah yaitu Pertamax Green 95. Ke depannya, kandungan tersebut akan ditambah lebih banyak.
Target ini disampaikan oleh Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR RI di Jakarta.
"Sesuai arahan kita memprediksi bahwa pada tahun 2028 atau lebih cepat bisa dilakukan mandatori E10," ujar Eniya dikutip dari Antara.
Eniya mengatakan dengan mandatori bioetanol, dapat mengurangi impor bensin yang cukup tinggi bagi Indonesia.
Kementerian ESDM bersama Pertamina memang sudah melakukan uji pasar BBM dengan kandungan Bioetanol yakni Pertamax Green 95 sejak tahun 2023 lalu.
Hingga 2025 ini, sudah terdapat 146 SPBU Pertamina di Indonesia yang sudah memiliki BBM bioetanol Pertamax Green 95 yang tersebar di Jabodetabek, Jawa Timur, Bandung, Jawa Tengah, dan Yogyakarta.
"Seperti yang kami sampaikan bahwa pentahapan mandatori untuk etanol ini dikeluarkan nantinya sebagai turunan dari Peraturan Menteri ESDM 4/2025 tentang Pengusahaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati menjadi keputusan menteri," sebut Eniya.
Eniya berpendapat, saat ini Indonesia mengalami sejumlah tantangan untuk memulai etanol dengan standar fuel grade. Tantangan dari mulai ketersediaan bahan baku hingga keterbatasan insentif.
Ada juga fluktuasi harga dari minyak nabati yang sangat berpengaruh, isu lingkungan, dan deforestasi juga menjadi hal yang harus dicermati.
Tak berhenti sampai disitu, tantangan lainnya dalam BBM bioetanol lainnya adalah infrastruktur produksi dan distribusi, keterbatasan dari fasilitas di terminal bahan bakar minyak (TBBM) juga perlu dipertimbangkan.
Termasuk moda angkut yang memenuhi persyaratan termasuk fasilitas pendukung kapal jika suatu hari nanti ada pabrik bahan bakar nabati, lalu dari situ harus dikirimkan ke seluruh Indonesia.
Di sisi lain, dari segi teknologi juga terdapat tantangan mengenai kesiapan memproses bioetanol secara efisien, sekaligus untuk menurunkan biaya produksi.
Karena jika bahan baku yang ada berkompetisi dengan bahan pangan, bahan baku pupuk, dan lain sebagainya, dapat membuat industri BBM nabati sulit berkembang.
"Dari sini kami memberikan satu gambaran, bahwa dalam pelaksanaannya nanti tentunya perlu mempertimbangkan berbagai hal untuk pelaksanaan dari tantangan dan sinergi dari pelaksanaan program bahan bakar nabati ini," pungkas Eniya.