Paruh Awal 2025, Android Kena Serangan Siber hingga 22,8 Juta Kali
Uzone.id — Serangan siber
terhadap pengguna smartphone tercatat semakin meningkat dari tahun ke tahun.
Kaspersky mencatat adanya peningkatan hingga 29 persen serangan ke pengguna
Android di paruh pertama 2025 ini dibandingkan dengan tahun 2024 lalu.
Serangan siber yang menargetkan pengguna Android ini
mencapai 22,8 juta serangan selama 6 bulan pertama di tahun 2025 ini. Angka
tersebut melonjak dari tahun sebelumnya yang hanya berkisar di 17,7 juta.
“Paruh pertama tahun 2025 menunjukkan lonjakan serangan malware Android dibandingkan tahun 2024. Terdapat berbagai vektor serangan, dan aplikasi sideloading dari toko aplikasi luar adalah salah satunya,” kata Anton Kivva, Pimpinan Tim Analis Malware di Kaspersky.
Ia melanjutkan, “Malware terus menyusup bahkan ke Google
Play Store, tempat verifikasi pengembang telah lama berlaku. Malware juga
menyusup ke App Store Apple.”
Kaspersky menjelaskan bahwa ancaman ke smartphone (khususnya
Android) ini banyak dilakukan oleh beberapa malware populer, termasuk malware
pencuri seperti SparkCat, SparkKitty, dan Triada.
Perusahaan juga mencatat bahwa jumlah trojan mobile banking
yang terdeteksi pada paruh pertama (Q1) tahun 2025 hampir empat kali lipat
lebih banyak daripada paruh pertama (Q1) tahun 2024 dan lebih dari dua kali
lipat lebih banyak daripada paruh kedua (Q2) tahun 2024.
Selain itu, aplikasi-aplikasi berisi konten dewasa dan VPN
juga banyak disusupi oleh malware.
Salah satu modus yang banyak ditemukan adalah ketika
penyerang siber menanamkan trojan ke dalam aplikasi ‘konten dewasa’ untuk
mengirimkan data-data spesifik dari perangkat korban.
Modus lainnya, adanya klien VPN palsu yang membajak akun
pengguna dengan mencegat kode sandi sekali pakai (OTP) dari aplikasi perpesanan
pengguna lalu mengirimkannya ke pelaku siber.
Aplikasi penipuan seperti Fakemoney, trojan perbankan dan
malware bawaan perangkat juga banyak ditemukan di Android.
Aplikasi Fakemoney mengelabui pengguna agar percaya bahwa mereka bisa memperoleh uang atau hadiah nyata melalui tugas, permainan, atau investasi. Padahal nyatanya, aplikasi ini malah mencuri informasi pribadi, uang, dan sama sekali tidak memberikan hadiah yang dijanjikan.
Ada juga trojan bawaan perangkat seperti Triada dan Dwphon
yang sering terdeteksi. Menurut Kaspersky, malware ini masuk lewat firmware
selama proses produksi.
Akibatnya bisa fatal termasuk adanya pencurian data,
tindakan ilegal, dan tidak bisa dihapus karena akan tetap ada bahkan setelah
melakukan reset.
Beberapa negara di dunia banyak menjadi korban dari
malware-malware ini, salah satunya adalah Turki, India, Uzbekistan dan Brazil.
Kebanyakan dari trojan yang menyerang negara-negara ini memiliki tujuan yang
serupa, yaitu mencuri informasi pribadi dan keuangan.
Malware ini banyak menyerupai aplikasi perbankan, hadiah
atau loyalty app, pencarian kerja, hingga aplikasi sederhana seperti
kalkulator.
Agar tetap terlindungi, masyarakat diminta agar tetap
berhati-hati dan tetap mengunduh aplikasi di toko resmi seperti Apple App Store
dan Google Play.
“Tetapi ingatlah bahwa mengunduh aplikasi dari toko resmi
pun tidak selalu bebas risiko,” tambah Anton.
Masyarakat juga diminta untuk menjaga keamanan, periksa
ulasan aplikasi, gunakan hanya tautan dari situs web resmi, dan instal
perangkat lunak keamanan yang andal. Tak hanya itu, jangan lupa untuk memeriksa
izin aplikasi yang digunakan dan selalu perbarui sistem operasi dan aplikasi.