Gadget

Otak-atik Variable Aperture di iPhone 18 Pro Max, Begini Hasilnya

Muhammad Faisal Hadi Putra •
Otak-atik Variable Aperture di iPhone 18 Pro Max, Begini Hasilnya

Highlight Artikel

  • iPhone 18 Pro dan 18 Pro Max dilengkapi fitur variable aperture pada kamera utama 48 MP Fusion.
  • Fitur ini menggunakan enam bilah aperture fisik dengan empat opsi bukaan lensa: f/1.48, f/1.8, f/2.8, dan f/4.
  • Bukaan lensa yang lebih lebar (angka kecil) menghasilkan bokeh lembut dan banyak cahaya, ideal untuk portrait, sedangkan bukaan sempit (angka besar) memperluas area fokus.
  • Pada kondisi minim cahaya, bukaan sempit (f/2.8, f/4) meningkatkan ISO, sehingga lebih cocok untuk objek tidak bergerak atau pencahayaan memadai.

Uzone.id - Salah satu upgrade pada kamera iPhone 18 Pro dan 18 Pro Max adalah hadirnya variable aperture. Dengan fitur ini, pengguna bisa mengatur sendiri seberapa lebar bukaan lensa kamera utama sesuai kebutuhan. 

Ya, fitur variable aperture cuma ada pada kamera utama 48 MP Fusion dengan empat opsi bukaan lensa, yakni f/1.48, f/1.8, f/2.8, dan f/4. 

Perlu diingat, ini bukan fitur berbasis software, tapi Apple benar-benar menggunakan enam bilah aperture yang bisa membuka dan menutup. Efeknya bakal kelihatan jelas ketika melirik lebih dekat kamera utama yang terletak di bagian bawah. 

Cara kerja variable aperture di iPhone 18 Pro dan 18 Pro Max mirip seperti kamera profesional. Semakin kecil angkanya, berarti bukaan lensanya semakin lebar. Kalau semakin lebar, artinya lebih banyak cahaya yang masuk dan latar belakang—kalau memotret portrait—bisa terlihat lebih lembut.

Sebaliknya, angka bukaan lensa yang lebih besar, maka bukaannya menyempit. Tapi, area fokus jadi terlihat lebih luas. 

Kami sudah mencoba keempat bukaan tersebut dalam kondisi terang dan malam hari menggunakan kamera utama iPhone 18 Pro Max. Bukan cuma untuk memotret orang, kami turut mencobanya pada benda dari jarak dekat, bangunan, sampai objek yang bergerak pada malam hari.

Namun, sebelum membahas perbedaannya, kami akan bagikan cara menggunakan variable aperture di iPhone 18 Pro Max.

Perlu diingat, variable aperture hanya tersedia pada kamera utama 1x saja. Kalian bisa buka aplikasi Camera atau semudah menekan tombol Camera Control. 

Ada menu berbentuk dua baris tiga titik di sisi kanan bawah view finder, tekan menu tersebut, dan pilih Lens Aperture. Ada lima opsi, termasuk mode Auto. Sesuai namanya, mode Auto akan menentukan sendiri bukaan lensa berdasarkan kondisi cahaya dan kedalaman bidang yang dibutuhkan. 


Kalian bisa menentukan bukaan lensa yang diperlukan. Sementara untuk menyimpan pilihan aperture terakhir agar tetap digunakan saat aplikasi Camera dibuka kembali, masuk ke Settings, pilih Camera, tekan Preserve Settings, kemudian aktifkan Lens Aperture. 


Kontrol bukaan lensa ini bukan cuma ada dalam mode Photo saja, tapi bisa diaktifkan saat merekam video juga. Namun dalam artikel kali ini, kami khusus membahas perbedaan foto dengan variable aperture.

Perbedaan hasil foto pada setiap bukaan lensa

Di kondisi terang, perbedaan antara f/1.48 dan f/1.8 tidak langsung terlihat jelas. Kedua bukaan lensa ini masih mampu menjaga wajah tetap tajam, sementara tanaman dan lampu di latar belakang terlihat blur dengan efek yang sedikit lebih lembut.


Tapi khusus bukaan f/1.48, mode ini memberikan pemisahan subjek dan latar belakang yang paling kentara. Lampu di belakang juga masih terlihat membulat dengan pendar yang cukup tipis.

Sedangkan untuk f/1.8, pemisahan subjek dan latar belakang masih cukup terasa, tapi detail tanaman di belakang agak lebih jelas. Menurut kami, bukaan ini menjadi ‘pilihan paling aman’ untuk foto portrait, karena bisa menjaga keseimbangan antara detail subjek, latar, dan cahaya yang masuk.

Naik ke f/2.8, perbedaannya langsung kelihatan. Latar seperti daun, batang tanaman, sampai pohon di belakang mulai kelihatan agak tegas. Lampu-lampu di atasnya juga bukan lagi berbentuk bulat dengan pendar yang halus, tapi semburat berbentuk bintang.

Pada f/4, hampir seluruh bagian latar belakang kelihatan lebih jelas. Lampu di atasnya pun jadi berbentuk bintang yang ‘tembus’ ke bagian atas wajah subjek. Untuk beberapa skema, bukaan terkecil ini memang pas buat mempertahankan detail di seluruh frame, tapi tetap ada kesan portrait yang lebih tipis. 

Pola yang sama juga terlihat ketika kamera diarahkan ke benda dari jarak dekat, seperti smartwatch. Pada f/1.48 dan f/1.8, jam tangan tetap tajam, sedangkan tekstur trotoar, dedaunan, dan objek lainnya di belakang terlihat dengan efek blur yang lembut. Ketika bukaan dipersempit ke f/2.8 dan f/4, detail trotoar di belakang mulai terlihat jelas. 

Lain ceritanya ketika memotret bangunan yang sebagian besar objeknya berada cukup jauh dari kamera. Pada skema seperti ini, perbedaan kedalaman bidang dari f/1.48 sampai f/4 tidak terlalu kentara. Fasad bangunan, pohon, dan rumput masih terlihat relatif tajam pada keempat foto.

Perbedaan paling jelas justru kembali terlihat pada sumber cahaya. Di f/1.48, lampu-lampu taman terlihat membulat dengan pendar yang lembut. Semburat bintang mulai muncul di f/1.8, kemudian terlihat jauh lebih tegas pada f/2.8 dan f/4.

Perbedaan keempat aperture ini semakin mudah terlihat pada saat memotret di malam hari. 

Di bukaan f/1.48, lampu-lampu di belakang terlihat lebih membulat dengan efek cahaya yang lebih lembut. Bukaan yang lebar juga membantu kamera menerima lebih banyak cahaya dalam kondisi gelap. 

Cuma, di bukaan selebar ini, terlihat juga efek flare pada gambar. Efek yang sama juga terlihat pada bukaan f/1.8. Bedanya, lampu di latar belakang punya semburat bintang yang lebih kentara dari f/1.48. 

Naik ke f/2.8 dan f/4, efek bintang pada setiap lampu makin kelihatan jelas dan panjang, malah menjadi salah satu elemen yang paling menonjol dalam foto. Di bukaan lensa yang sempit ini, efek flare cahaya juga berangsur hilang. 

Efek dari setiap bukaan semakin jelas ketika kamera diarahkan langsung ke lampu depan kereta misalnya. Pada f/1.48 dan f/1.8, cahaya lampu kereta terlihat melebar dengan pendar berwarna oranye yang cukup besar.

Begitu bukaan diganti ke f/2.8, cahaya dari lampu depan kereta berubah menjadi pola bintang dengan garis yang panjang. Efeknya terlihat makin kentara pada f/4, sampai lampu-lampu lain di area peron ikut menampilkan semburat serupa.

Menariknya, tingkat kecerahan antarfoto tetap terlihat relatif konsisten meski bukaan lensa terus dipersempit. Kamera mengatur exposure secara otomatis agar foto pada f/4 tidak langsung terlihat jauh lebih gelap dari f/1.48.

Konsekuensinya, dalam kondisi minim cahaya kamera perlu mengompensasi bukaan sempit melalui ISO. Melihat EXIF gambar yang kami ambil, foto malam dengan f/1.48 diambil dengan ISO 640, f/1.8 diambil pada ISO 800, f/2.8 diambil pada ISO 2000, dan f/4 diambil pada ISO 4000.


Karena itu, f/2.8 dan f/4 sebaiknya digunakan ketika objek tidak banyak bergerak atau pencahayaan di sekitar masih cukup memadai.

Kesimpulan


Kalau ingin memotret satu orang dengan latar yang lebih lembut, f/1.48 buat kami jadi pilihan bukaan lensa yang paling pas, terutama dalam kondisi minim cahaya. Sementara f/1.8 terasa lebih seimbang untuk foto portrait, karena pemisahan subjek masih terlihat tanpa membuat detail latar terlalu kabur.

Bukaan f/2.8 lebih pas ketika ingin menampilkan subjek bersama suasana di sekitarnya, sekaligus mendapatkan semburat bintang dari sumber cahaya. Sedangkan f/4 cocok buat foto berkelompok, pemandangan, atau bangunan yang membutuhkan area fokus lebih luas. 

Karena itu, f/2.8 dan f/4 lebih ideal digunakan saat pencahayaan masih memadai. Dalam kondisi gelap, ISO yang tinggi bisa membuat noise lebih kentara.

FAQ Artikel

Apa itu variable aperture di iPhone 18 Pro dan 18 Pro Max?

Variable aperture adalah fitur pada kamera utama 48 MP Fusion yang memungkinkan pengguna mengatur lebar bukaan lensa secara fisik (bukan software) dengan empat opsi: f/1.48, f/1.8, f/2.8, dan f/4.

Bagaimana cara kerja variable aperture di iPhone 18 Pro Max?

Cara kerjanya mirip kamera profesional; angka bukaan lensa yang lebih kecil (misal f/1.48) berarti bukaan lebih lebar untuk lebih banyak cahaya dan latar belakang lembut, sedangkan angka lebih besar (misal f/4) berarti bukaan menyempit untuk area fokus yang lebih luas.

Kapan sebaiknya menggunakan bukaan lensa f/1.48 atau f/1.8?

Bukaan f/1.48 ideal untuk memotret satu orang dengan latar belakang sangat lembut, terutama di kondisi minim cahaya. Sementara f/1.8 lebih seimbang untuk foto portrait dengan pemisahan subjek yang masih terlihat tanpa latar terlalu kabur.

Untuk kondisi apa bukaan lensa f/2.8 dan f/4 direkomendasikan?

Bukaan f/2.8 pas untuk menampilkan subjek bersama suasana sekitar dengan semburat bintang dari sumber cahaya. Sedangkan f/4 cocok untuk foto berkelompok, pemandangan, atau bangunan yang membutuhkan area fokus lebih luas, ideal saat cahaya cukup atau objek tidak banyak bergerak.

Apakah variable aperture dapat digunakan saat merekam video?

Ya, kontrol bukaan lensa ini bukan hanya tersedia dalam mode Photo, tapi bisa diaktifkan juga saat merekam video.