Automotive

Nyetir Wuling Darion PHEV Bali - Jakarta: Klaim Jarak Tempuh Meleset!

Bagja Pratama
Nyetir Wuling Darion PHEV Bali - Jakarta: Klaim Jarak Tempuh Meleset!

Uzone.id - Wuling yang baru saja meluncurkan Darion langsung mengajak sejumlah media untuk mencobanya langsung. Utamanya yang versi hybrid PHEV, karena tergolong teknologi baru yang ditawarkan Wuling di Indonesia.

Gak tanggung-tanggung, Wuling menantang kami untuk mengemudikan Darion PHEV dari Bali ke Jakarta tanpa mengisi listrik dan BBM, dengan tantangan 1.000 km lebih, sesuai dengan klaim jarak tempuh Darion PHEV dari pabrikan China ini.

Ya, Wuling sendiri mengklaim, Darion PHEV yang mengandalkan mesin bensin berkapasitas 1.500cc dengan kapasitas tangki BBM 52 liter, dipadu dengan baterai berkapasitas 20,5 kWh.

Dengan kerjasama kedua sumber penggerak tersebut, Darion PHEV diklaim bisa menemppuh jarak sejauh 1.000 km lebih, dari kondisi baterai dan tangki BBM diisi full.

Sanggupkah Wuling Darion PHEV meladeni tantangan tersebut?


Kami start dari kawasan Nusa Dua, Bali. Setiap mobil diisi 4 orang. Kondisi baterai dan BBM full. Untuk gaya berkendaranya sendiri, disarankan senormal mungkin, tanpa melakukan ECO Driving ekstrem.

Rutenya dimulai dari Bali sampai Banyuwangi, kemudian lanjut sampai Solo dan berakhir di Jakarta, dengan total jarak sekitar 1.200 km.

Kebayang kan? Kalau sesuai klaim Wuling, tentu saja akan banyak peserta yang sudah akan mogok sebelum sampai di tujuan. Tapi apakah benar bakal kejadian seperti itu? Baca terus ya!

Teknologi mode pintar distribusi energi PHEV Wuling Darion EV

Sebelum berjalan, kami set mode berkendara di ECO. Kemudian ini yang menarik, ada sejumlah option yang bisa kita pilih ketika berkendara dengan Darion PHEV, terutama saat harus berjalan jauh.

Secara default, kita seharusnya bisa saja memilih opsi Hybrid, dimana mobil akan mengkombinasikan tenaga dari baterai dan mesin secara otomatis berdasarkan kebutuhan dan kondisi jalan.


Namun, kita juga bisa memilih opsi lain yang sesuai dengan kebutuhan dan strategi perjalanan, khususnya kalau yang ingin roaad-trip ribuan kilometer.

Ada EV MAX, dimana dengan opsi ini sumber penggerak utama adalah listrik yang dominan dan mesin baru akan aktif ketika kondisi baterai sudah mencapai 12 persen.

Lalu ada EV First, inin versi lite dari MAX. Tetap mengandalkan listrik sebagai sumber penggerak roda, tapi mesin sudah akan aktif ketika sisa baterai 35 persen.

Kemudian mode Hybrid yang sudah dijelaskan di atas dan satu lagi Fuel Force, yakni kebalikan dari EV MAX, dimana yang dominan adalah mesin bensin ketimbang motor listrik.

Pintarnya, mode hybrid dan Fuel Force tersebut bisa sambil mengecas baterai yang persentasenya bisa kita sesuaikan dengan maksimal kapasitas 75 persen.

Jadi misal ketika baterai sudah mulai habis, kita pindahkan mode ke hybrid dan mengeset proses pengecasan mesin ke baterai sampai kapasitas baterai 50 persen dan maksimal 70 persen sambil mobil berjalan.

Dan kalau pengecasannya mau lebih cepat bisa pakai mode Fuel Force. Tapi pastinya konsumsi BBM sedikit lebih boros karena mesin bensin bekerja ganda, menggerakkan roda dan mengisi baterai tanpa bantuan motor listrik.

Impresi berkendara

Secara keseluruhan, handling dari Darion PHEV cukup baik untuk sebuah MPV. Peredaman suspensinya juga lumayan, tidak keras dan cenderung empuk. Kami juga suka dengan kekedapan kabinnya.

Pertama kali berjalan kami menggunakan mode EV First. Mobil pun berjalan menuju Banyuwangi dari kondisi baterai dan BBM full. Jaraknya sekitar 150 km.

Sepanjang perjalanan sampai sekitar 80 km pertama, kondisi baterai sudah 35 persen dan mesin secara otomatis aktif di mode HEV alias hybrid.

Kami pun memindahkan ke mode Fuel Force untuk mengetahui secepat apa pengisianya dan seboros apa BBM-nya.

Kalau tadinya super senyap karena yang aktif hanya motor listrik, sekarang mesin hidup dan harus ngecas pula. Tapi deru suara mesin dan getarannya masih sangat minim sekali.

Berjalan beberapa kilometer ke depan, baterai pun sudah berada di angka 70 persen kembali dan kami menggunakan mode EV First lagi sampai di tujuan Banyuwangi.

Di Banyuwangi, kami punya 'tabungan' baterai 50 persen setelah dihabiskan kemarin. Ini sangat membantu efisiensi dan memperpanjang jarak tempuh karena bensin belum akan di gunakan dalam puluhan kilometer kedepan menuju Solo.


Kebanyakan, kami memilih menggunakan mode EV saat di perkotaan atau kalau kondisi jalan padat merayap dan banyak tanjakan. Karena efisiensi EV lebih tinggi di kondisi stop and go dan tanjakan.

Sementara ketika mulai cruising di jalan tol, kami menggunakan mode hybrid sambil kembali 'menabung' baterai untuk digunakan di kondisi tertentu saja yang butuh efisiensi tinggi.

Begitu seterusnya sampai Solo dan ketika berjalan lagi dari Solo ke Jakarta. Perpaduan dominan EV dan sesekali Fuel Force untuk menabung baterai ternyata cukup efektif.

Ketika memasuki kawasan Jawa Barat, kebanyakan peserta sudah mulai cemas karena kondisi BBM yang sudah menipis. Kami saja hanya menyisakan jarak tempuh BBM sekitar 50m km sebelum catatan tersebut benar-benar hilang dari MID.

Tapi tabungan baterai kami banyak! Itu yang membuat kinerja mesin bensin jadi sangat minim di akhir-akhir perjalanan, ketika trip meter sudah menunjukkan angka 1.000 km lebih.

Dengan kondisi baterai 50 persen, ketika berpindah ke mode hybrid, maka kami bisa membiarkan mesin menggerakkan roda sekaligus mengecas baterai sampai maksimal di 71 persen.

Alhasil, setelah menempuh jarak sekitar 1.216 km ketika kami finish, baterai masih tersisa di angka 71 persen dengan jarak tempuh sisa 84 km. Artinya, kalau digabung, kami bisa mengajak Wuling Darion PHEV ini berjalan sejauh 1.300 km!

Jadi, klaim Wuling kalau Darion PHEV bisa menempuh jarak mencapai 1.000 km meleset! Karena justru bisa lebih dari itu!