Nvidia Pamer Vera Rubin, Otak AI yang Lebih Pintar dari Blackwell
Uzone.id - Di Consumer Electronics Show (CES) 2026, Nvidia pamer ‘Vera Rubin’, arsitektur pengganti Blackwell yang diklaim sebagai hardware AI paling canggih saat ini. Arsitektur ini mengambil nama dari astronom Vera Florence Cooper Rubin, yang dikenal membuktikan keberadaan dark matter melalui penelitian kurva rotasi galaksi.
"Vera Rubin dirancang untuk mengatasi tantangan mendasar yang kita hadapi: Jumlah komputasi yang diperlukan untuk AI sedang meroket," ujar CEO Nvidia, Jensen Huang, dalam gelaran yang berlangsung di Las Vegas, Amerika Serikat (AS).
Vera Rubin dirancang menggunakan pendekatan ‘extreme co-design’, yang menggabungkan enam jenis chip yang bekerja bersama, mirip satu superkomputer AI. Di dalamnya terdiri dari Cera CPU, Rubin GPU, NVLink 6, ConnectX-9 SuperNIC, BlueField-4 DPU, hingga Spectrum-6 Ethernet Switch, yang disatukan menjadi sebuah sistem rak server bernama Vera Rubin NVL72.
Nvidia mengklaim, arsitektur Vera Rubin punya kecepatan 5 kali lipat dibanding Blackwell untuk tugas inferensi AI, dan 3,5 kali lebih ngebut untuk pelatihan model AI.
Secara spesifik, seperti dikutip dari Tom’s Hardware, setiap Rubin GPU menjanjikan performa inferensi hingga 50 PFLOPS menggunakan tipe data NVFP4, jauh melampaui Blackwell GB200. Sementara untuk performa training, kecepatannya tembus 35 PFLOPS.
Untuk menopang kebutuhan komputasi AI yang besar tersebut, setiap paket GPU Rubin dibekali delapan tumpukan memori HBM4. Kapasitasnya mencapai 288 GB dengan bandwidth super cepat di angka 22 TB per detik.
Peran NVLink 6 untuk cegah bottleneck
Vera Rubin memiliki chip NVLink 6 untuk jaringan skala besar yang meningkatkan bandwidth per GPU menjadi 3,6 TB/s. Sementara di dalam satu rak Vera Rubin NVL72, terdapata 9 switch NVLink 6 yang membuat total bandwidth-nya mencapai 260 TB/s.
Peningkatan jalur data ini krusial. Pasalnya, model AI modern seperti Mixture-of-Experts (MoE) butuh komunikasi data yang sangat masif antar node di dalam sistem. Tanpa jalur data yang lebar, proses komunikasi antar chip ini bakal macet alias mengalami bottleneck.
Tak cuma itu, Nvidia juga membenamkan Vera CPU yang menggunakan 88 core Arm kustom bernama ‘Olympus’. Koneksi interkoneksi ke GPU dipercepat dua kali lipat menjadi 1,8 TB/s dibanding generasi sebelumnya.
Masalah memori cache yang sering kepenuhan saat menangani konteks panjang juga diatasi lewat chip BlueField-4 DPU. Chip ini menciptakan tingkatan memori penyimpanan baru yang bisa diakses secara eksternal, membuat pengelolaan data cache AI jadi jauh lebih efisien tanpa membebani sistem utama.
Di balik performanya yang gahar, nilai jual utamanya justru ada pada efisiensi biaya bagi perusahaan teknologi.
Jensen Huang menyebut, berkat Vera Rubin, perusahaan hanya butuh seperempat jumlah GPU Rubin untuk melatih model AI yang sama jika dibandingkan dengan memakai chip Blackwell. Nvidia bahkan mengklaim Rubin bisa memangkas biaya per token untuk inferensi AI hingga 10 kali lipat di berbagai model.
Disebutkan, raksasa teknologi seperti Amazon Web Services (AWS), OpenAI, Anthropic, hingga Google Cloud dipastikan bakal menjadi pengguna pertama infrastruktur ini. Nvidia sendiri menargetkan sistem Vera Rubin NVL72 mulai diproduksi massal pada paruh kedua tahun 2026.