Ngeri, Warga RI Kehilangan Rp49 Triliun Gara-gara Penipuan Online
Uzone.id — Penipuan online
terus menjadi musuh masyarakat Indonesia saat ini. Sebuah riset dari Global
Anti Scam Alliance (GASA) bersama dengan Indosat mengungkap penemuan baru
terkait fenomena penipuan online.
Dalam riset yang berjudul ‘State of Scams in Indonesia
2025’, masyarakat Indonesia kehilangan uang sekitar Rp49 triliun selama satu
tahun terakhir gara-gara penipuan online.
“Sebanyak Rp49 triliun (USD3,3 juta) telah dicuri oleh pelaku penipuan di Indonesia selama satu tahun terakhir,” tulis laporan tersebut.
Dari angka tersebut, rata-rata kerugian yang ditanggung per
orang mencapai Rp1,7 juta dan kejadian ini menimpa hampir ke 14 persen orang
dewasa di Indonesia. Lebih menariknya lagi, kerugian yang dialami generasi yang
lebih muda ternyata lebih banyak dibandingkan generasi tua.
GASA mencatat kalau generasi Milenial mengalami kerugian
rata-rata sebesar Rp1.954.095 akibat penipuan secara digital, sementara
generasi yang lebih tua yaitu Baby Boomers hanya mengalami kerugian rata-rata
sebesar Rp1.007.821.
Dari sekian banyak modus penipuan online yang terjadi di Indonesia, banyak warga terjebak modus penipuan online melalui platform perpesanan seperti WhatsApp dan Telegram.
“Mayoritas upaya penipuan di Indonesia terjadi melalui
platform yang memiliki fungsi Pesan Langsung (Direct Message/DM), seperti
aplikasi perpesanan. Sebanyak 85 persen dari mereka bahkan melakukan penipuan
lewat fitur tersebut,” tulis laporan tersebut.
Tercatat sebanyak 67 persen penipuan online di Indonesia
terjadi lewat aplikasi tersebut, disusul oleh modus penipuan melalui panggilan
suara sebanyak 64 persen. Pesan SMS berada di posisi ketiga dengan persentase
59 persen.
Penipuan online lainnya terjadi melalui media sosial (48
persen), email (29 persen), iklan di platform digital (26 persen), interaksi
langsung (14 persen) dan e-commerce (8 persen).
Ada beberapa alasan kenapa mereka terjebak penipuan online,
salah satunya adalah penawaran yang menarik.
“Penawaran yang menarik adalah alasan utama kenapa
masyarakat Indonesia tertipu,” jelas laporan ini.
Hal ini dibuktikan dari data yang terkumpul dimana sebanyak
22 persen dari masyarakat mengaku tergoda dengan tawaran yang disampaikan oleh
pelaku penipuan, sementara 16 persennya mengaku kalau penipuan ini terlihat
sangat nyata dan asli.
Riset laporan dari GASA ini mengumpulkan data dari seribu
warga Indonesia yang memiliki rentang usia 18 tahun ke atas dengan waktu
pengumpulan data dari Februari 2024 hingga Maret 2025.