Nasib Honda: Penjualan Nyungsep Separah Pandemi, Diler pada Tumbang!
Uzone.id - Honda wajib berbenah. Kalau tidak, raksasa otomotif Jepang yang juga sempat punya kejayaan di Tanah Air ini akan tenggelam. Penjualan Honda di Indonesia terus nyungsep dan diperparah dengan banyaknya diler yang tutup.
Memasuki tahun 2026 ini, Presiden Direktur pun berganti. Shugo Watanabe hanya dijatah selama 2 tahun dan gak berhasil mengangkat Honda dari era kepemimpinan Kotaro Shimizu.
Sekarang, tantangan terbesar ada pada Masanao Kataoka, yang menjabat jadi orang nomor satu Honda di Tanah Air per April 2026, dengan pekerjaan rumah mengembalikan kejayaan Honda.
Mirisnya Honda, dengan nama besarnya di Indonesia tapi terus mengalami penurunan penjualan dari tahun ke tahun dan makin menyedihkan di sepanjang tahun 2025 lalu.
Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Honda hanya mencatatkan penjualan total sebanyak 71.233 unit sepanjang tahun 2025.
Angka tersebut bahkan lebih kecil ketimbang saat Honda harus menghadapi era pandemi COVID yang berhasil mencatat penjualan sebanyak 79.451 unit sepanjang tahun 2020.
Catatan penjualan Honda (data: Gaikindo)
- 2016: 199.364 unit
- 2017: 186.859 unit
- 2018: 162.956 unit
- 2019: 149.435 unit
- 2020: 79.451 unit
- 2021: 91.393 unit
- 2022: 125.411 unit
- 2023: 128.010 unit
- 2024: 103.023 unit
- 2025: 71.233 unit
Ada apa dengan Honda? Kenapa merek H ini jadi tidak semenyeramkan seperti sebelumnya?
Cuma andalkan Brio yang usang ketinggalan zaman
Salah satu faktor terbesar adalah pelitnya Honda berinovasi dan memberikan value lebih ke produk-produk andalannya. Honda Brio contohnya, yang begitu-begitu saja tanpa ada ubahan dan penambahan berarti.
Honda terlena, dikiranya Honda Brio masih laris, jadi buat apa diubah-ubah, untuk apa ditambahkan value, toh begini saja tetap laku. Nyatanya?
Begitu juga HR-V. Okelah, muncul versi hybrid yang bahkan dengan banderol yang lebih murah. Tapi dengan angkuhnya Honda menunjukkan kalau sekelas Honda HR-V menurut mereka sudah keren, sudah paripurna, jadi gak perlu ada ubahan apapun.
Lalu, selain Brio dan HR-V apalagi? Honda CR-V yang kemahalan? Atau sedan-sedan sporty Honda yang semakin ditinggalkan penggemarnya?
Pelitnya inovasi tersebut diperparah dengan serbuan mobil-mobil China yang sarat teknologi dan fitur dengan harga jual yang jauh lebih murah.
Perlahan tapi pasti, serbuan merek-merek China itu sampai membuat nama besar Honda terkikis--apalagi ketika nama besar tersebut hanya dimanfaatkan hanya untuk nostalgia masa-masa kejayaan saja.
Direspon mitra diler yang memilih tutup dan berganti merek
Setelah produknya dianggap usang, tanpa ubahan, tanpa gembar-gembor diskon, dan hanya mengandalkan kekuatan aftersales service, ya tentu saja kurang untuk membuat publik Indonesia yang makin cerdas ini untuk melirik.
Ironisnya, sektor aftersales yang diagung-agungnkan merek Jepang--termasuk Honda, perlahan juga terkikis, dimana sejumlah diler Honda memilih untuk tutup dan berganti merek mobil lain.
- Honda Pasteur (Bandung, Jawa Barat): Ditutup dan dikabarkan akan berganti menjadi dealer merek China.
- Honda Jemursari (Surabaya, Jawa Timur): Ditutup dan dikabarkan akan berganti menjadi dealer merek Great Wall Motors (GWM).
- Honda Triputra (Bekasi, Jawa Barat): Resmi ditutup pada 1 Juli 2025.
- Honda Trimegah BSD (Tangerang, Banten): Resmi ditutup pada 1 September 2025 setelah 16 tahun beroperasi, dikabarkan berganti menjadi dealer mobil China (Chery/Lepas).
Bahkan, yang terbaru pagi ini (2/4) salah satu dealer Honda Pondok Pinang mengumumkan tidak akan beroperasi lagi di bawah merek Honda.
"Kami Honda Pondok Pinang, pamit undur diri," tulis unggahan di akun Instagram resminya. Menandai berakhirnya kiprah dealer tersebut yang sudah eksis belasan tahun.
Meskipun terjadi penutupan, Honda Prospect Motor (HPM) memastikan bahwa layanan purna jual, servis, dan suku cadang tetap tersedia melalui dealer-dealer lain yang masih aktif.
HPM juga meresmikan dealer baru di beberapa wilayah, seperti Soreang (Bandung), Brebes, Kolaka, Bau-Bau, Lombok Timur, Musi Banyuasin, dan Muara Enim untuk tetap mendekatkan diri ke konsumen.
Memang, yang tutup berganti dengan yang baru dibuka. Tapi untuk merek sebesar Honda, buka tutup dealer bukan kelas mereka yang seperti merek baru asal China.
Konsistensi dan eksistensi dari dealer-dealer Honda lah yang saat ini dilihat konsumen untuk memupuk kepercayaan mereka. Jadi, kalau modelannya buka tutup dealer, ya apa bedanya sama pabrikan China yang sedang membangun jaringan aftersales-nya?
Tantangan Presdir baru, Harus Bernyali seperti DNA Sport Honda
Honda memang harus dan wajib melaju kencang (lagi). Tapi tidak kalau hanya mengandalkan Brio yang sejatinya tidak bisa kencang secara teknikal.
Langkah Honda menelurkan model-model hybrid sejauh ini sebenarnya sudah menjadi strategi yang cukup baik--kecuali pertimbangan harga dan segmen.
Lupakan Accord hybrid, Civic hybrid, bahkan CR-V hybrid yang harganya terlalu mahal. Pilihan mobil-mobil hybrid yang makin melimpah dengan harga dan spesifikasi, fitur serta inovasi yang lebih baik, membuat orang mulai malas melirik Honda.
Rumor kemunculan Brio listrik bisa dijadikan momentum Honda untuk berbenah--tapi jangan ujung-ujungnya pehape seperti kemunculan HR-V listrik--yang ternyata cuma bisa dirental, mahal pula.
Honda juga harus berani berlapang dada untuk tidak selalu omon-omon soal kejayaan masa lalunya tanpa memberikan bukti kongkret untuk mau berubah dan beradaptasi dengan era dan tren industri otomotif saat ini.
Honda harus lebih agresif dalam menawarkan model-model barunya sambil meningkatkan value pada model-model eksistingnya saat ini. Kalau setidaknya secara inovasi dan teknologi belum mau, adaptasi soal harga jual untuk sebuah merek Honda tentu jadi opsi yang menarik.
Sekali lagi, sebesar apapun nama merek tersebut, kalau tidak mau beradaptasi dan terlalu angkuh membanggakan kejayaan masa lalu, perlahan tapi pasti akan ditenggelamkan kejamnya pasar otomotif Tanah Air.
Jadi, kapan mau mulai berubah, Honda?