MWC 2026: Mitratel–AALTO Siapkan Internet dari Langit untuk Wilayah 3T
Uzone.id — Upaya pemerataan akses internet di Indonesia kini memasuki babak baru. TelkomGroup melalui anak usahanya, PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (Mitratel), kembali melanjutkan kolaborasi strategis dengan AALTO HAPS Limited, anak perusahaan dari Airbus.
Kerja sama ini berfokus pada pengembangan teknologi Stratospace dan infrastruktur telekomunikasi berbasis High Altitude Platform System (HAPS), atau sistem platform udara di ketinggian stratosfer.
Kolaborasi tersebut ditegaskan melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dalam rangkaian ajang Mobile World Congress (MWC) di Barcelona, awal Maret 2026.
Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa TelkomGroup tidak hanya mengandalkan jaringan terestrial, tetapi juga mulai serius menggarap konektivitas berbasis udara sebagai solusi masa depan, khususnya untuk wilayah yang selama ini sulit dijangkau jaringan konvensional.
Melalui kerja sama ini, AALTO akan berperan sebagai penyedia layanan konektivitas Stratospace sekaligus operator wahana udara Stratocraft. Sementara itu, Mitratel mendukung implementasi melalui penyediaan dan pengelolaan infrastruktur menara yang dibutuhkan.
Teknologi HAPS memungkinkan pesawat tanpa awak atau platform khusus beroperasi di ketinggian puluhan kilometer di atas bumi dalam waktu lama. Dari sana, sinyal internet dapat dipancarkan langsung ke perangkat pengguna di darat, termasuk di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar).
Direktur Strategic Business Development & Portfolio Telkom, Seno Soemadji, menegaskan pentingnya peran teknologi ini dalam strategi jangka panjang perusahaan.
“Teknologi HAPS memiliki potensi untuk menjawab tantangan penyediaan layanan di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar), sejalan dengan kebutuhan pemerintah dan kebutuhan dasar masyarakat atas akses konektivitas yang merata. Selain itu, solusi ini juga dapat dimanfaatkan dalam situasi kebencanaan ketika infrastruktur terestrial mengalami gangguan, sehingga mendukung proses pemulihan layanan secara lebih cepat dan efektif,” ujar Seno.
Menurutnya, kehadiran HAPS bukan hanya soal memperluas jangkauan, tetapi juga meningkatkan ketahanan jaringan nasional, terutama saat terjadi bencana alam yang kerap merusak infrastruktur darat.
Meski menawarkan potensi besar, TelkomGroup tidak ingin gegabah dalam mengadopsi teknologi ini. Seluruh tahapan pengembangan akan dilakukan secara bertahap, berbasis uji coba dan kajian mendalam. Hal ini kembali ditegaskan oleh Seno Soemadji.
“Setiap tahapan adopsi teknologi akan dijalankan secara prudent, mengedepankan tata kelola yang baik serta kepatuhan terhadap seluruh regulasi yang berlaku, sehingga dapat memberikan nilai jangka panjang bagi ekosistem digital nasional,” tambahnya.
Selain aspek teknis, kerja sama ini juga menekankan pentingnya kepatuhan terhadap regulasi, perizinan, serta prinsip tata kelola perusahaan yang baik (GCG). Seluruh proses akan disesuaikan dengan ketentuan hukum yang berlaku di Indonesia maupun yurisdiksi terkait.
Bagi Mitratel, kolaborasi ini sejalan dengan visinya dalam memperkuat infrastruktur digital nasional. CEO Mitratel, Theodorus Ardi Hartoko, menilai sinergi antara infrastruktur darat dan teknologi udara akan membawa dampak signifikan.
“Sinergi antara infrastruktur menara dan teknologi HAPS diharapkan mampu meningkatkan kualitas layanan, memperluas cakupan, serta mendukung ketahanan sistem telekomunikasi nasional. Kesepahaman ini memberikan landasan yang lebih kokoh bagi kedua pihak untuk menyusun peta jalan implementasi yang terukur dan berorientasi jangka panjang,” jelas Theodorus.
Dengan jaringan menara yang telah tersebar luas di berbagai wilayah, Mitratel dinilai memiliki posisi strategis untuk mengintegrasikan teknologi HAPS dengan ekosistem yang sudah ada.
Dari sisi mitra global, AALTO melihat Indonesia sebagai pasar yang sangat potensial. CEO AALTO, Hughes Boulnois, menyebut kawasan Asia-Pasifik sebagai wilayah strategis dalam pengembangan teknologi stratosfer.
“Kemampuan Zephyr dalam menghadirkan konektivitas langsung ke perangkat (direct-to-device) membuka peluang untuk menjangkau wilayah dengan keterbatasan akses sekaligus meningkatkan keandalan jaringan. Asia-Pasifik menjadi kawasan strategis bagi pertumbuhan AALTO dan bagian penting dari evolusi konektivitas global,” ungkapnya.
Teknologi Zephyr yang dikembangkan AALTO mampu terbang dalam waktu lama tanpa awak, menjadikannya salah satu solusi paling menjanjikan untuk konektivitas berbasis udara.
Perpanjangan MoU hingga Oktober 2027 menunjukkan bahwa kerja sama ini dirancang sebagai proyek jangka menengah hingga panjang. Sejak pertama kali dijalin pada 2023, kemitraan Mitratel dan AALTO terus dievaluasi dari berbagai aspek, mulai dari bisnis, finansial, teknis, hingga regulasi.
Jika berjalan sesuai rencana, integrasi HAPS dan infrastruktur terestrial berpotensi mengubah peta konektivitas Indonesia. Wilayah terpencil, pulau-pulau kecil, hingga kawasan rawan bencana bisa mendapatkan akses internet yang lebih stabil tanpa harus menunggu pembangunan fisik bertahun-tahun.
Di tengah percepatan transformasi digital nasional, langkah TelkomGroup bersama Mitratel dan AALTO ini menjadi simbol kesiapan Indonesia memasuki era baru konektivitas.
Bukan hanya mengandalkan jaringan di darat, tetapi juga memanfaatkan ruang udara sebagai medium baru untuk menghubungkan masyarakat.
Internet dari langit kini bukan lagi sekadar konsep futuristik, melainkan peluang nyata untuk mewujudkan akses digital yang lebih merata bagi seluruh rakyat Indonesia.