Modus Loker PDF Paling Merajalela, Komdigi: Korban Tertipu Kop Surat
Uzone.id - Dari ratusan ribu laporan penipuan online yang diterima Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), kebanyakan di antaranya terkait penipuan lowongan pekerjaan. Hal ini disampaikan Teguh Arifiyadi, Direktur Pengawasan Sertifikasi dan Transaksi Elektronik Komdigi, dalam konferensi pers peluncuran inisiatif bertajuk #CekDuluBaruPercaya di Jakarta, Kamis (12/2).
“Banyak sekali yang menggunakan dokumen yang memang dipakai untuk menipu. Di Komdigi itu jumlah laporan penipuan hitungannya ratusan ribu, dan kami yang menerimanya kebanyakan yang paling banyak terkait apa? Lowongan kerja. Lowongan kerja itu paling dominan,” ungkap Teguh.
Modusnya, jelas Teguh, para pencari kerja menerima dokumen PDF berisi surat panggilan tes atau pelatihan di luar kota. Korban sering kali diminta membeli tiket transportasi secara langsung, dengan janji akan diganti alias reimburse.
“Lowongan kerja PDF, kemudian dipercaya. Oh iya, nanti ada pelatihannya di Bandung, dia lampirkan tiketnya, dibeli dan nantinya diganti, di-reimburse. Akhirnya tiketnya beli melalui dia (si penipu), padahal tiketnya tidak pernah ada, tiketnya dikasih PDF, ternyata uangnya hilang, dan itu jumlahnya banyak sekali,” cerita Teguh.
Nama-nama perusahaan besar pun dicatut untuk memuluskan aksi ini. Dokumen palsu tersebut dibuat meyakinkan, lengkap dengan kop surat dan tanda tangan pejabat perusahaan, membuat korban yang sedang butuh pekerjaan mudah terkecoh secara visual.
“(Ada) Freeport, Pertamina, Telkomsel, banyak sekali. Dan mayoritas masyarakat kita masih percaya bahwa dokumen PDF dengan tanda tangan biasa itu adalah legal, karena kelihatan apa? Visualnya. Lihatnya kop perusahaan, lihatnya stempel, lihatnya tanda tangan,” tambah Teguh.
Brosur dan iklan juga bisa palsu
CEO dan Founder Privy, Marshall Pribadi turut menambahkan, bahwa dokumen yang perlu diwaspadai bukan cuma dokumen dengan kop surat yang seolah-olah asli. Selebaran atua poster lowongan kerja yang berseliweran di internet maupun media sosial juga bisa jadi pintu masuk penipuan.
Marshall menegaskan pentingnya memverifikasi keaslian dokumen digital, bahkan untuk sekadar brosur iklan.
“Dan mungkin kalau saya boleh menambahkan ya. Jangan bayangannya tadi yang menggunakan tanda tangan digital, dengan sertifikat elektronik itu harus hanya kayak dokumen ber-kop surat tadi, dokumen formal. Tapi tadi, selebaran, lowongan kerja, iklan ya kan,” ujar Marshall.
Ia menyampaikan, teknologi tanda tangan digital semestinya bisa digunakan untuk memvalidasi kebenaran sebuah iklan lowongan kerja.
“Sebenarnya kan kita bisa cek, ini benar gak iklan ini diterbitkan oleh perusahaan itu bahwa dia sudah membuka lowongan kerja, jangan-jangan palsu ya kan. Brosur iklan pun tetap bisa ditanda tangan digital, dan bisa dicek, benar gak iklan itu diterbitkan oleh si perusahaan,” tegasnya.
Modus penipuan inilah yang menjadi salah satu alasan hadirnya inisiatif #CekDuluBaruPercaya yang digagas Privy dan Komdigi. Masyarakat dapat melakukan verifikasi dokumen di situs resmi privy.id/verifikasi-pdf atau situs resmi Penyelenggara Sertifikat Elektronik (PSrE).
Apalagi, data Indonesia Anti Scam Center (IASC) OJK mencatat kerugian akibat penipuan digital sudah mencapai Rp9,1 triliun sepanjang November 2024 hingga Desember 2025.
“Banyak sekali dokumen yang dipakai untuk menipu secara online,” pungkas Teguh.