Modus Baru Penipuan di Ecommerce, Toko Palsu Incar Data Konsumen
Uzone.id – Pengamat siber dari Vaksincom, Alfons Tanujaya, mendeteksi modus penipuan baru di platform ecommerce.
Modus ini melibatkan toko palsu yang dibuat untuk mencuri data krusial konsumen seperti password, PIN, dan kode OTP dari akun korban.
Toko palsu tersebut bahkan telah dilengkapi dengan review bintang lima yang juga ternyata palsu. Hal ini dilakukan agar calon korban lebih mudah terpedaya dan yakin bahwa toko tersebut adalah toko asli.
“Toko penipu merajalela di toko hijau, lengkap dengan review bintang 5 palsu yang disertakan,” ungkap Alfons Tanujaya.
Modusnya dimulai ketika toko palsu tersebut menghubungi korban dengan berbagai alasan. Salah satu alasan yang umum digunakan adalah meminta korban untuk mengganti jasa pengiriman produk.
Nantinya, korban akan dikirimkan tautan yang sebenarnya merupakan situs phising. Setelah korban terperangkap dan mengklik tautan yang dikirimkan, pelaku dengan segera akan mencuri data-data penting dari korban.
Sayangnya, meskipun platform terkait sudah dilengkapi dengan perlindungan OTP, para pelaku penipuan ini jauh lebih canggih. Mereka telah mempersiapkan situs phishing yang dirancang sedemikian rupa untuk melewati perlindungan tersebut.
“Tujuannya adalah mencuri akun kredensial Tokopedia korbannya. Termasuk username, password, PIN, sekalipun dilengkapi dengan perlindungan OTP tetap akan dicuri karena situs phising itu telah dipersiapkan sedemikian rupa,” jelas Alfons Tanujaya.
Melihat situasi ini, Alfons Tanujaya berharap agar isu ini menjadi perhatian serius. Apabila hal ini dibiarkan, kepercayaan masyarakat terhadap kanal digital dikhawatirkan akan terus menurun.
“Jika hal ini tidak menjadi perhatian serius dan kelihatannya kurang menjadi perhatian yang serius dari toko yang bersangkutan, aksi penipu ini akan makin merajalela. Terbukti dengan makin banyaknya toko penipu yang muncul. Kepercayaan masyarakat terhadap kanal digital akan tergerus dan akan berdampak buruk bagi perkembangan digitalisasi di Indonesia,” pungkas Alfons Tanujaya.