Mobil Listrik di RI Belum Sepenuhnya Hijau, Listrik Masih Batu Bara
Uzone.id - Belum 100 persen selaras dengan kampanye banyak pabrikan mobil elektrifikasi soal seberapa ramah lingkungannya mobil-mobil mereka, ketergantungan Indonesia pada energi fosil untuk pembangkit listrik jadi ironi besar.
Meskipun kita tau, pertumbuhan mobil elektrifikasi di Indonesia, baik hybrid sampai full EV, belum selaras dengan bagaimana mobil-mobil tersebut nantinya mengkonsumsi listrik, karena ternyata masih pakai pembangkit listrik berbasis batu bara.
Kapasitas terpasang pembangkit listrik nasional Indonesia per April 2026 telah mencapai angka 108 gigawatt (GW).
Data yang disampaikan oleh Plt. Direktur Jenderal Ketenagalistrikan, Tri Winarno, menunjukkan bahwa dominasi pembangkit listrik berbasis energi fosil masih sangat kuat.
Secara keseluruhan, energi fosil menyumbang 91,58 GW, atau sekitar 85% dari total kapasitas listrik terpasang di Indonesia.
Tri Winarno merinci, porsi pembangkit listrik berbahan batu bara merupakan yang terbesar, mencapai 60,53 GW atau sekitar 56% dari total kapasitas terpasang nasional.
Komposisi energi fosil lainnya terdiri dari gas sebesar 23% dan Bahan Bakar Minyak (BBM) sebesar 6%.
"Sementara itu, Energi Baru Terbarukan (EBT) baru berkontribusi sebesar 16,26 GW, menjadikannya hanya 15% dari total kapasitas nasional," ujar Tri dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi XII DPR, dikutip Uzone.id
Beralih ke realisasi produksi listrik, hingga April 2026, total produksi listrik telah mencapai 165,51 terawatt per jam (TWh).
Batu bara kembali mendominasi dengan menyumbang 64,87% dari total produksi, sebuah angka yang melampaui target pemerintah yang ditetapkan sebesar 62%. Produksi listrik dari gas tercatat menyumbang 13%, dan BBM hanya sekitar 3,38%.
Di sisi lain, produksi listrik dari EBT menunjukkan kinerja positif dengan melampaui target yang ditetapkan, yaitu mencapai 17,89% dari total produksi, melebihi target yang hanya 16,46%.
Sebagai perbandingan, pada tahun 2025, total realisasi produksi listrik nasional mencapai sekitar 494 TWh.
Kala itu, porsi batu bara menyumbang 66,7%, lebih tinggi dibandingkan target dalam Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) yang sebesar 62%. Kontribusi gas masih lebih rendah dari target RUKN 20,5%, hanya terealisasi 14,31%.
Meskipun demikian, realisasi EBT pada 2025 mencapai 16,31%, melampaui target sebesar 15,9%, sementara porsi BBM kala itu tercatat sebesar 2,67%.